Pendekatan Humanis, SPPG Patihan Kidul Sajikan MBG Layaknya untuk Anak Sendiri
Redaksi
... menit baca
![]() |
| Momen penandatanganan MoU/PKS antara SPPG dan pihak sekolah. (Foto: doc. Gardajatim.com) |
Prinsip “melayani seperti anak sendiri” menjadi landasan utama dalam setiap penyusunan menu hingga distribusi makanan ke sekolah penerima manfaat.
Komitmen tersebut disampaikan Ketua Yayasan Berkah Srikandi Abadi, H. Sugeng Hariono, di hadapan para penerima manfaat yang digelar di Sedatu Resto, Rabu, 6 Mei 2026.
Sugeng menegaskan, layanan yang diberikan tidak sekadar memenuhi standar program, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan serta kebiasaan konsumsi anak.
“Kami berupaya agar makanan yang disajikan benar-benar layak dan menyehatkan, seperti yang kita berikan kepada anak sendiri,” ujar Haji Sugeng.
Ia menambahkan, optimalisasi anggaran menjadi hal penting agar seluruh alokasi dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan siswa.
Selain itu, kualitas bahan baku juga menjadi perhatian utama, termasuk evaluasi terhadap pemasok yang tidak memenuhi standar.
“Semua harus sejalan untuk menyukseskan program ini,” katanya.
Kepala SPPG Patihan Kidul, Winda Martha Pratiwi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi momentum penandatanganan nota kesepahaman (MoU) atau perjanjian kerja sama (PKS) antara Badan Gizi Nasional (BGN) dengan penerima manfaat.
“Saat ini terdapat lima sekolah penerima manfaat. Untuk yang lama, ada perubahan klausul sehingga dilakukan penandatanganan ulang. Selain itu, ada penerima manfaat baru yang bergabung sekitar dua minggu terakhir,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, sejumlah masukan disampaikan pihak sekolah, termasuk usulan penyediaan sambal. Namun, menurut Winda, secara aturan dari BGN tidak terdapat ketentuan terkait hal tersebut.
![]() |
| Sejumlah pengelola SPPG Patihan Kidul, yayasan, mitra dan PIC penerima manfaat berfoto bersama usai penandatanganan perjanjian kerja sama program makan bergizi (MBG) di Ponorogo. |
Ia juga mengungkapkan adanya tantangan dalam pemenuhan standar gizi, khususnya konsumsi protein.
Meskipun program mengharuskan pemenuhan protein hewani dan nabati, terdapat sebagian siswa yang tidak terbiasa mengonsumsi telur dan ayam dalam jumlah banyak.
“Kami menyiasatinya dengan pengaturan menu, misalnya diberikan secara berkala dalam satu minggu,” katanya.
Kegiatan ini turut menghadirkan berbagai pihak, mulai dari penanggung jawab sekolah penerima manfaat, kader, hingga tenaga kesehatan puskesmas, termasuk tenaga sanitasi dan ahli gizi dari enam desa. Sekitar 50 peserta hadir sebagai bagian dari penguatan koordinasi lintas sektor.
Ahli gizi SPPG Patihan Kidul, Frisilia Elista, menambahkan bahwa sambal bukan komponen utama dalam pemenuhan gizi.
“Secara nutrisi tidak berpengaruh signifikan, hanya sebagai pelengkap rasa. Namun kami tidak memberikannya karena berisiko memicu gangguan pencernaan pada anak,” ujarnya.
Sebagai solusi, sambal tetap dapat disajikan dengan modifikasi bahan, seperti mengurangi kadar cabai agar tidak terlalu pedas, sehingga tetap aman dikonsumsi siswa.
Perwakilan SD Negeri 1 Siman sebagai salah satu penerima manfaat menyatakan bahwa seluruh penjelasan dari pihak SPPG telah dipahami dengan baik.
Sekolah tersebut memiliki 137 siswa serta 11 guru dan tenaga pendidik, dan telah menandatangani kesepakatan untuk menerima suplai MBG dari SPPG Patihan Kidul.
“Kami berharap dapur SPPG Patihan Kidul terus berjalan memberikan layanan MBG ke sekolah kami. Kualitas yang sudah baik ini semoga terus meningkat,” ujarnya.
Melalui sinergi antara yayasan, SPPG, sekolah, dan tenaga kesehatan, program MBG diharapkan tidak hanya memenuhi standar, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi tumbuh kembang anak di Ponorogo. (Fjr)
Sebelumnya
...
Berikutnya
...

