-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Kupatan Asyura Desa Metesih, Ketika Agama dan Adat Hidup Berdampingan

Suasana Kupatan Asyura di Ponpes Al Mukarromah Metesih Jiwan Kabupaten Madiun. Minggu (14/7/2024). (Foto: GardaJatim)

GARDAJATIM.COM: Suasana Desa Metesih malam ini nampak berbeda dari biasanya. Warga berduyun duyun berbaris memasuki pelataran sebuah ponpes. Mereka datang berkelompok sesuai asal dusun mereka.

Kompak, dengan diiringi musik hadrah Islami, setiap masing-masing rombongan membawa oncor didepan barisan diikuti oleh pengusung ketupat, sayur dan lauk pauk.

Bergantian memasuki pelataran ponpes, rombongan itu tediri dari berbagai unsur masyarakat. Ada dari kelompok pengajian Yasin, muslimat NU, anggota pencak silat, kelompok adat dan warga umum setempat.

Mereka bersatu, berkumpul dengan semangat "Nyawijining Metesih Ing Sasi Suro" dalam satu acara untuk memperingati bulan suro.

Acara itu adalah Tasyakuran Kupatan Asyura di Ponpes Al Mukarromah Desa Metesih Jiwan Kabupaten Madiun. Minggu (14/7/2024) Malam.

Dimulai oleh penampilan pentas seni islami, kemudian parade hadrah dari masing-masing dusun. Acara dilanjutkan dengan tasyakuran ketupat, setelah berdoa mereka makan ketupat bersama.

Ketupat yang disantap bersama dimasak dari beras, dari padi yang mereka panen di acara adat "Methil" pagi harinya. Adat itu adalah budaya warisan leluhur mereka.

Kupatan Asyura merupakan perpaduan antara agama dan budaya. Hari Asyura sendiri merupakan hari penting dalam agama Islam.

Sedangkan ketupat merupakan simbol budaya Jawa "ngaturaken lepat" yang dalam bahasa Indonesia berarti menyampaikan maaf.

Masyarakat desa memaknai "Ketupat  Asyura" sebagai ajang saling memaafkan dan ungkapan syukur atas kehidupan mereka.

Panitia Kupatan Asyura KRT. Ajar Putra Dewantoro Darmodipura, M.Pd menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan acara perdana.

Merupakan hasil kolaborasi dari relawan budaya, Lesbumi NU Kabupaten Madiun, Pemerintah Desa Metesih, Lembaga Adat Desa Metesih dan Paguyuban Kusumo Hondrowino (PKHN) Kota Madiun.

"Tidak akan pernah lepas antara adat, agama dan budaya. Kita coba untuk kolaborasikan didalamnya," tuturnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini akan berlanjut ditiap tahunnya, menjadi kegiatan wajib dan agenda rutin warga Desa Metesih.

Harapannya dengan acara seperti ini, menularkan inspirasi agar menjadi masyarakat yang beragama sekaligus berbudaya. Menjadi Manusia berguna bagi kehidupannya karena menjunjung tinggi budaya, sekaligus menjadikan agama sebagai landasan utama hidup.

Hadir di kesempatan acara tesebut, Ketua PKHN Kota Madiun KP. Hari Andri Winarso Wartonagoro, Kepala Desa Metesih Paidjo, Ketua Lembaga Adat Desa Parni, Ketua Baziz Desa Metesih Budi Santoso dan Pimpinan Ponpes Al Mukarromah Desa Metesih Drs. Arifin S.Ag., M.H.I. (Arg)



Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar