-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
PROMOSIKAN BISNIS ANDA DISINI - HUBUNGI: +62 856-5561-5145

Emil Dardak Nilai Bumi Reog Berdzikir Penting bagi Identitas Bangsa

Rangkaian kegiatan Bumi Reog Berdzikir 2025. (Foto: doc. Gardajatim.com)
GARDAJATIM.COM:
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai Bumi Reog Berdzikir sebagai tradisi penting dalam merawat identitas budaya bangsa melalui pendekatan spiritual. 

Menurut Emil, pencak silat tidak semata dipahami sebagai olahraga atau bela diri, tetapi juga bagian dari jati diri kebudayaan Indonesia yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

“Pencak silat bukan hanya olahraga atau bela diri, melainkan identitas budaya bangsa. Tradisi seperti yang dilakukan di Ponorogo ini penting untuk menjaga nilai-nilai tersebut agar tetap hidup dan berkembang,” kata Emil saat menghadiri Bumi Reog Berdzikir 2025 yang digelar Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Ponorogo Pusat Madiun, Minggu, 28 Desember 2025.
Moh. Komarudin Ketua SH Terate Cabang Ponorogo.
Ketua PSHT Cabang Ponorogo, Moh. Komarudin, mengatakan Bumi Reog Berdzikir menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan sekaligus menjaga harmoni antara nilai budaya dan keagamaan. Menurut dia, kegiatan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai agenda organisasi, tetapi juga ikhtiar spiritual kolektif.

“Kami berharap Bumi Reog Berdzikir membawa keberkahan bagi semua serta mampu mewujudkan sinergitas budaya dan religi dalam bingkai persaudaraan,” ujar Komarudin.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita menegaskan bahwa Bumi Reog Berdzikir merupakan ikhtiar doa bersama untuk bangsa yang berangkat dari kepedulian atas berbagai musibah yang terjadi di Tanah Air. Ia menyebut, doa pada tahun ini secara khusus dipanjatkan bagi masyarakat yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.

“Bumi Reog Berdzikir berawal dari doa bersama atas musibah yang pernah terjadi. Di tahun 2025 ini, doa kita panjatkan khusus untuk saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah,” kata Lisdyarita.
Lisdyarita, Plt. Bupati Ponorogo.
Menurut Lisdyarita, kegiatan tersebut tidak sekadar agenda rutin organisasi, melainkan ruang spiritual kolektif yang merekatkan nilai religius, solidaritas sosial, dan kebudayaan lokal. Ia menilai tradisi tersebut mencerminkan karakter masyarakat Ponorogo yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.

Bumi Reog Berdzikir 2025 merupakan penyelenggaraan keenam dan diikuti ribuan warga PSHT dari berbagai daerah di Indonesia. Berdasarkan pantauan di lapangan, jumlah peserta tahun ini meningkat dibandingkan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya.

Selain doa bersama, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga PSHT sekaligus momentum penguatan posisi Ponorogo sebagai salah satu pusat budaya dan spiritual di Jawa Timur.
Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jatim.
Komarudin memastikan kegiatan serupa akan kembali digelar pada tahun mendatang. Bumi Reog Berdzikir 2026 direncanakan berlangsung pada 31 Desember 2026.
Untuk diketahui, Bumi Reog Berdzikir pertama kali digelar pada 30 Desember 2017, disusul pelaksanaan kedua pada 29 Desember 2018.

Agenda ketiga yang semula dijadwalkan pada 29 Desember 2019 kemudian digeser dan dilaksanakan pada 5 Januari 2020. Setelah vakum selama tiga tahun akibat pandemi Covid-19 pada 2021–2023, agenda tersebut kembali digelar pada 29 Desember 2024 dan berlanjut pada 28 Desember 2025. (*)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar