-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Dari Hulu ke Pasar Global, Upaya Atika Mengangkat Kopi Ponorogo

Sosialisasi budidaya serta pengolahan panen dan pascapanen kopi di Maesa Hotel, Ponorogo. (Foto: doc. Gardajatim.com)
GARDAJATIM.COM:
Potensi kopi Ponorogo dinilai besar, namun belum sepenuhnya memberi nilai tambah bagi petani lokal. Persoalan utama bukan semata produksi, melainkan hilangnya identitas saat kopi asal Ponorogo masuk ke pasar.

Isu itu mengemuka dalam kegiatan sosialisasi bertema Peran Pemerintah dalam Budidaya, Pengolahan Panen dan Pascapanen Kopi yang digelar di Maesa Hotel, Sabtu, 7 Februari 2026.

Kegiatan yang dihadiri petani kopi dari berbagai wilayah di Kabupaten Ponorogo itu menghadirkan Hj. Atika Banowati, S.H., Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur, Fraksi Partai Golkar Dapil 9 Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Magetan, dan Ngawi. Sosialisasi ini merupakan lokasi ketiga rangkaian kegiatan dan selanjutnya akan berpindah ke Kecamatan Ngrayun yang merupakan lokasi terakhir.

Dalam sambutannya, Atika menegaskan pentingnya pendekatan langsung antara pemerintah dan petani kopi. Menurutnya, pembangunan sektor kopi harus dimulai dari hulu, budidaya yang benar, hingga hilir berupa penguatan identitas dan akses pasar.

“Kita ingin produk kopi Ponorogo tidak kalah dengan daerah lain. Bukan hanya soal kualitas, tapi juga keberanian menggunakan identitas daerah,” kata Atika.

Ia menyebut, selama ini banyak kopi asal Ponorogo justru beredar di pasaran dengan nama daerah atau merek lain. Biji kopi berasal dari Ponorogo, namun identitas daerahnya menghilang saat masuk ke pasar.

“Ini ironi. Kopinya dari Ponorogo, tapi namanya bukan kopi Ponorogo. Ini yang harus kita benahi bersama,” ujarnya.

Atika mendorong petani dan pelaku usaha kopi untuk berani memasarkan produknya dengan nama Ponorogo. Ia menilai modal sosial sudah terbentuk, mengingat budaya ngopi di Ponorogo sangat kuat, mulai dari angkringan hingga kafe-kafe desa yang sebagian besar telah menggunakan kopi lokal.

“Kalau kopi Ponorogo dipakai dan dibanggakan oleh warganya sendiri, pelan-pelan namanya akan dikenal. Ini pekerjaan rumah kita bersama agar kopi Ponorogo bisa berkembang besar,” katanya.

Ia berharap sosialisasi ini menjadi ruang pencerahan bagi petani dan pengusaha kopi, tidak hanya terkait aspek teknis, tetapi juga strategi membawa kopi Ponorogo ke level nasional hingga global. Menurutnya, pasar kopi masih sangat terbuka dan potensial bagi daerah penghasil.

Sementara itu, narasumber Lukito Hari Sediarto menekankan pentingnya pembenahan dari sisi budidaya sebagai fondasi kopi bernilai global.

Ia menjelaskan, kopi Arabika idealnya ditanam di ketinggian di atas 1.000 meter, sedangkan Robusta di kisaran 600 meter di atas permukaan laut.

“Petani harus memahami kesuburan tanah, pohon naungan, pengendalian hama, pemupukan, hingga pemangkasan. Semua itu sangat menentukan kualitas kopi,” kata Lukito.

Ia menambahkan, proses panen dan pascapanen juga berperan besar terhadap nilai jual, mulai dari pemetikan selektif, pengeringan, sortasi, hingga penyimpanan.

“Kalau prosesnya benar, kopi Ponorogo bisa punya kualitas tinggi dan nilai jual global. Pasarnya besar, petani tidak perlu khawatir,” ujarnya. (Fjr)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar