Dari Ngrayun, Atika Gaungkan Identitas Kopi Ponorogo
Redaksi
... menit baca
![]() |
| Suasana sosialisasi penguatan kopi di Kecamatan Ngrayun, Ponorogo. (Foto: Satria) |
Kegiatan tersebut tetap menghadirkan Hj. Atika Banowati, S.H., Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi Partai Golkar Dapil 9 Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Magetan, dan Ngawi, meski kali ini tidak dapat hadir secara langsung.
Atika mengikuti kegiatan melalui perwakilan serta menyampaikan pandangan dan arah kebijakan terkait penguatan sektor kopi di Ponorogo.
Ngrayun dipilih sebagai lokasi terakhir karena wilayah ini dikenal sebagai salah satu sentra kopi di Ponorogo.
Dalam keterangannya, Atika menekankan pentingnya kesinambungan antara budidaya, pengolahan, hingga pemasaran agar kopi Ponorogo memiliki nilai tambah dan identitas yang kuat.
Ia menyebut selama ini persoalan utama bukan pada kualitas biji kopi, melainkan pada hilangnya nama Ponorogo saat produk masuk ke pasar.
“Potensi kita besar, tapi sering tidak tampil sebagai kopi Ponorogo. Ini yang harus kita ubah bersama,” ujar Atika.
Menurut Atika, keberanian petani dan pelaku usaha untuk memasarkan kopi dengan identitas daerah menjadi kunci agar kopi Ponorogo tidak terus berada di belakang layar industri kopi nasional.
Apalagi, budaya konsumsi kopi di Ponorogo sudah mengakar, mulai dari warung tradisional hingga kafe-kafe desa.
“Kalau masyarakat Ponorogo sendiri sudah menggunakan dan bangga dengan kopinya, pengakuan dari luar akan mengikuti,” katanya.
Atika berharap rangkaian sosialisasi ini menjadi titik awal penguatan ekosistem kopi Ponorogo, tidak hanya dari sisi teknis produksi, tetapi juga strategi branding dan perluasan pasar. Ia menilai peluang pasar kopi nasional dan global masih terbuka luas bagi daerah penghasil.
Sementara itu, narasumber Lukito Hari Sediarto kembali menegaskan pentingnya konsistensi kualitas dari hulu. Ia menjelaskan perbedaan karakter budidaya kopi Arabika dan Robusta berdasarkan ketinggian wilayah, serta faktor-faktor penentu mutu kopi.
“Mulai dari kesuburan tanah, pohon naungan, pemupukan, hingga pemangkasan harus dilakukan dengan benar. Begitu juga panen dan pascapanen, karena di situlah nilai kopi ditentukan,” kata Lukito.
Ia optimistis kopi Ponorogo mampu bersaing di pasar global jika petani menerapkan standar budidaya dan pengolahan yang tepat.
“Kalau kualitas dijaga, pasarnya ada. Petani tidak perlu ragu,” tandasnya. (*)
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
