-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●MARHABAN YAA RAMADAN - 1447 HIJRIAH●

Menjaga Ginjal Saat Puasa, Ini Kebiasaan yang Perlu Diperhatikan

Ilustrasi.
GARDAJATIM.COM:
Puasa mengajarkan kita menahan lapar dan dahaga. Namun di balik itu, ada organ yang tetap bekerja tanpa jeda: ginjal. Setiap hari ia menyaring darah, membuang racun, dan menjaga keseimbangan cairan tubuh. Ia bekerja dalam diam tanpa keluhan, hingga suatu saat fungsinya menurun dan tubuh baru merasakan akibatnya.

Menurut dr. Riza Mazidu Sholihin, SpU, dokter spesialis urologi di RSU Muslimat Ponorogo, banyak gangguan ginjal berawal dari kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele.

“Ginjal itu seperti filter yang harus selalu teraliri cairan. Kalau kita kurang minum, limbah menumpuk dan bebannya bertambah,” ujarnya, Senin 23 Februari 2026.

Dalam kondisi normal, orang dewasa membutuhkan sekitar 2–3 liter cairan per hari, setara 8–12 gelas air putih. Saat berpuasa, kebutuhan ini tidak berkurang, hanya waktunya yang berubah.

Karena itu, pengaturan minum menjadi kunci. Pola 2–4–2 bisa diterapkan: dua gelas saat berbuka, empat gelas di malam hari, dan dua gelas saat sahur.

"Air putih tetap pilihan utama. Menggantinya dengan soda atau minuman manis justru memperberat kerja ginjal," terangnya.

Puasa sering kali identik dengan hidangan berbuka yang manis dan gurih. Padahal konsumsi gula berlebihan meningkatkan risiko diabetes dan obesitas, dua penyebab utama penyakit ginjal kronis.
dr. Riza Mazidu Sholihin, SpU.
Satu gelas minuman kekinian bisa mengandung 40–60 gram gula, melampaui anjuran harian. Demikian pula makanan tinggi garam dan natrium dari camilan asin atau makanan instan dapat memicu tekanan darah tinggi, yang perlahan merusak pembuluh darah halus di ginjal.

Kebiasaan lain pun tak kalah berisiko adalah penggunaan obat anti-nyeri tanpa pengawasan dalam jangka panjang, pola makan tinggi protein berlebihan terutama dari daging merah atau suplemen, serta konsumsi makanan ultra-proses seperti sosis dan nugget yang kaya natrium dan fosfat.

“Protein itu penting, tapi berlebihan membuat ginjal bekerja ekstra menyaring sisa metabolisme,” kata dr. Riza mazidu

Menahan buang air kecil juga bukan kebiasaan sepele. Urin yang tertahan terlalu lama meningkatkan risiko infeksi saluran kemih yang bisa menjalar ke ginjal. Kurang tidur, merokok, hingga konsumsi suplemen herbal tanpa kejelasan keamanan turut mempercepat kerusakan ginjal secara perlahan.

Di bulan puasa, semua kebiasaan ini seakan diuji. Kurang minum saat malam hari, berbuka dengan gula berlebih, tidur larut karena aktivitas ibadah atau sosial, semuanya bisa memengaruhi kesehatan ginjal jika tidak diimbangi dengan kesadaran.

Bagi mereka yang memiliki riwayat diabetes, hipertensi, atau batu ginjal, konsultasi sebelum berpuasa sangat dianjurkan. Puasa tetap bisa dijalankan, tetapi dengan pengawasan dan penyesuaian medis.

Puasa sejatinya bukan hanya latihan spiritual, melainkan juga momentum memperbaiki pola hidup. Mengurangi gula dan garam, membatasi kafein, tidak sembarangan minum obat, serta mencukupi kebutuhan air putih adalah bentuk ibadah dalam menjaga amanah tubuh.

Ginjal bekerja sunyi sepanjang hayat. Di bulan yang penuh refleksi ini, barangkali sudah saatnya kita membalas kesunyian itu dengan perhatian.

Sebab merawat ginjal bukan sekadar urusan medis, melainkan bagian dari tanggung jawab menjaga kesehatan agar ibadah tetap khusyuk, tubuh pun tetap utuh.

 


Penulis: Nanang Diyanto
Editor: Redaksi
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar