PLN Siapkan PLTA Pumped Storage 1.000 MW di Pacitan, Masuk RUPTL 2025–2034
Redaksi
... menit baca
![]() |
| Bupati Indrata Nur Bayuaji menerima tim PT PLN (Persero) terkait rencana pembangunan PLTA Pumped Storage Grindulu. (Foto: Istimewa) |
Rencana itu disampaikan dalam pertemuan jajaran PLN dengan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji di ruang rapat pendopo kabupaten, Selasa, 24 Februari 2026.
Hadir dalam pertemuan itu sejumlah pejabat PLN, antara lain Manajer PLN UPP JBTB I Yogyakarta Wahyu Kurniawan, Manajer Sosial Safeguard PLN Pusat Yolan Erlanda, Manajer PLN ULTG Madiun Ari Suprayitno, serta Asisten Manajer Perencanaan dan Umum PLN UIP JBTB Surabaya Wiliam Abraham.
Dalam paparannya, Wahyu Kurniawan menyebut proyek PLTA Pumped Storage Grindulu menjadi bagian dari target pengembangan pembangkit energi terbarukan jenis pumped storage sebesar 4,2 gigawatt dalam RUPTL 2025–2034.
“PLN berharap proyek ini tidak hanya memperkuat sistem kelistrikan nasional, tetapi juga memberi dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat Pacitan,” ujarnya.
PLTA Pumped Storage Grindulu direncanakan berlokasi di Desa Ketro, Kecamatan Tulakan, serta Desa Pucangombo, Kecamatan Tegalombo. Saat ini PLN tengah menyiapkan studi kelayakan untuk memastikan aspek teknis, lingkungan, dan sosial proyek tersebut.
Dengan kapasitas 1.000 MW, pembangkit ini berpotensi menjadi PLTA pumped storage terbesar kedua di Indonesia. Teknologi pumped storage memanfaatkan dua waduk pada ketinggian berbeda.
Air dialirkan ke bawah untuk menghasilkan listrik saat beban puncak, lalu dipompa kembali ke waduk atas ketika beban rendah. Sistem ini berfungsi sebagai penyimpanan energi skala besar guna menjaga stabilitas pasokan listrik, terutama saat penetrasi energi terbarukan seperti surya dan angin meningkat.
Bupati Indrata Nur Bayuaji menyambut rencana tersebut dengan optimistis. Ia menyebut proyek itu sebagai tantangan sekaligus peluang bagi daerah.
“Ini tantangan, tetapi bukan berarti tidak bisa. Saya meyakini ada keuntungan lain karena ini program baru. Semoga nanti jadi dan Pacitan bisa menjadi percontohan di Indonesia,” katanya.
Meski demikian, proyek infrastruktur berskala besar itu diperkirakan membutuhkan kajian mendalam, terutama terkait dampak lingkungan, pembebasan lahan, dan penerimaan masyarakat.
Pemerintah daerah berharap proses perencanaan berjalan transparan dan melibatkan warga terdampak sejak tahap awal.
Jika terealisasi, proyek ini akan menambah daftar investasi sektor energi di wilayah selatan Jawa Timur sekaligus memperkuat peran Pacitan dalam transisi energi nasional. (Prokopim/Acr)
Editor: Redaksi
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
