Sosialisasi Kesetiakawanan Sosial, Atika Banowati Ajak Lansia Perkuat Iman di Bulan Ramadan
Redaksi
... menit baca
![]() |
| Kegiatan sosialisasi dan seminar keagamaan tentang kesetiakawanan sosial di Hotel Maesa. (Foto: doc. Gardajatim.com) |
Kegiatan yang mengusung tema keagamaan itu dihadiri Dua narasumber dihadirkan dalam forum tersebut, yakni Drs. Gufron dan Dr. Wildan Nafi’i, dosen UIN Ponorogo serta puluhan tamu undangan.
Dalam sambutannya, Anggota Dewan Dapil IX yang meliputi Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Magetan, dan Ngawi itu, menyinggung momentum bulan suci Ramadan sebagai ruang refleksi untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kebahagiaan dan kebersamaan, khususnya bagi peserta yang sebagian besar telah memasuki usia lanjut.
“Suasana Ramadan ini saat yang tepat untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita. Di usia yang rata-rata sudah lansia, mari kita jalani hidup dengan bahagia dan tetap gemar bersosialisasi,” kata Atika.
Ia menambahkan, kegiatan sosialisasi tidak hanya menghadirkan masyarakat luas, tetapi juga melibatkan lingkungan terdekat agar manfaatnya dirasakan secara bersama.
Ke depan, menurut dia, materi serupa bisa dikembangkan, termasuk menyentuh persoalan hukum dan sosial kemasyarakatan.
Dalam sesi materi pertama, Drs. Gufron memaparkan tentang hikmah puasa. Ia menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga sarana pembentukan karakter dan empati sosial.
Menjawab pertanyaan salah satu peserta, Mujiono, terkait waktu dimulainya puasa setelah imsak, Gufron menjelaskan bahwa imsak merupakan tanda peringatan.
“Imsak itu peringatan agar kita bersiap. Setelah azan Subuh berkumandang, barulah puasa dimulai. Jika sekadar minum setelah imsak dan sebelum Subuh, itu masih diperbolehkan,” ujarnya.
![]() |
| Dr. Wildan Nafi’i saat menyampaikan materi. |
Sementara itu, pemateri kedua, Dr. Wildan Nafi’i, menekankan urgensi kesetiakawanan sosial dalam perspektif Islam.
Ia merujuk pada Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 71 yang menegaskan pentingnya ukhuwah, tolong-menolong, dan ketaatan sebagai fondasi umat beriman.
Ia juga mengutip Surah Al-Ma’idah ayat 2 tentang perintah tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa.
“Menolong sesama bukan sekadar etika sosial, tetapi bagian dari ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah. Ini menjadi penangkal individualisme dan sikap egois,” kata Wildan.
Wildan mencontohkan praktik kesetiakawanan yang diteladankan Nabi Muhammad SAW saat membangun masyarakat Madinah dengan menghapus sekat suku dan status sosial. Mekanisme zakat, sedekah, dan wakaf disebutnya sebagai instrumen distribusi keadilan sosial.
Ia juga mengulas keteladanan para sahabat, seperti Abu Bakar yang mengorbankan harta untuk membebaskan tawanan dan membantu fakir miskin, Umar bin Khattab yang menata distribusi zakat secara terorganisir, serta Bilal bin Rabah sebagai simbol persaudaraan tanpa diskriminasi.
![]() |
| Hj. Atika Banowati, menyampaikan sambutan dalam sosialisasi membangun jiwa kesetiakawanan sosial di Hotel Maesa. |
Menurut Wildan, membangun jiwa kesetiakawanan sosial dapat dimulai dari pendidikan dan pengajian rutin, program sosial terjadwal seperti bazar murah dan layanan kesehatan, hingga penguatan komunitas relawan.
Ia juga menekankan pentingnya transparansi pengelolaan dana zakat dan bantuan sosial agar kepercayaan publik terjaga.
Kolaborasi antara ulama, tokoh masyarakat, organisasi sosial, dan pemerintah dinilai menjadi kunci memperkuat jaringan solidaritas.
“Kesetiakawanan sosial berdampak langsung pada terciptanya lingkungan yang harmonis, menurunkan konflik, sekaligus memperteguh keimanan. Ini bukan hanya wacana, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata,” ujar Wildan.
Kegiatan ditutup dengan ajakan kepada peserta untuk memulai praktik solidaritas dari lingkungan terdekat keluarga, masjid, dan komunitas sebagai langkah konkret membangun masyarakat yang agamis dan harmonis. (Fjr)
Sebelumnya
...
Berikutnya
...


