Ayatollah Ali Khamenei Gugur dalam Serangan Gabungan AS dan Israel, Teheran Ancam Balasan
Redaksi
... menit baca
![]() |
| Ayatollah Ali Khamenei. (Foto: Vahid Salemi/AP) |
Kabar itu diakui oleh media resmi Iran pada Minggu pagi, yang juga mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Pemerintah Iran menyebut insiden itu sebagai “kejahatan besar” dan penyerangan yang tidak dapat dibiarkan begitu saja, sementara kantor Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa tindakan balasan akan diberikan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan historis.
Serangan Terkoordinasi dan Eskalasi Militer
Operasi militer yang digambarkan Washington dan Tel Aviv, dengan nama sandi yang beragam dalam laporan internasional menargetkan kepemimpinan Iran serta fasilitas militer strategis di berbagai titik negara itu.
Menurut pejabat AS dan Israel, pemboman itu dimaksudkan untuk melemahkan kemampuan rudal dan nuklir Tehran serta memaksa perubahan rezim. Presiden AS sebelumnya mengatakan bahwa serangan akan berlanjut selama diperlukan.
Sementara itu, Iran juga melancarkan serangan balasan skala besar dengan rudal dan drone terhadap pangkalan militer AS di kawasan Teluk dan fasilitas Israel. Ketegangan terus meningkat, dengan laporan serangan balasan di beberapa negara Timur Tengah.
Reaksi Domestik dan Regional
Di dalam negeri, kematian Khamenei telah memicu gelombang protes dan aksi solidaritas, dengan ribuan warga turun ke jalan di kota-kota besar Iran.
Demonstran menyerukan penentangan terhadap AS dan Israel, serta mempertahankan identitas dan kedaulatan nasional.
Secara regional, negara-negara tetangga dan kekuatan global menyatakan keprihatinan. Beberapa pemimpin dunia menyerukan de-eskalasi, sementara komunitas internasional waspada terhadap kemungkinan konflik yang lebih luas di kawasan yang sudah rapuh itu.
Konteks Kepemimpinan dan Dampak Jangka Panjang
Khamenei, yang menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, dikenal karena garis keras anti-Barat dan penolakannya terhadap tekanan internasional terkait program nuklir Iran.
Kepemimpinannya selama lebih dari tiga dekade membentuk kebijakan luar negeri teokrasi yang mendukung kelompok proxy di beberapa negara dan menentang dominasi AS-Israel di Timur Tengah.
Dengan kosongnya kursi Pemimpin Tertinggi, Iran tengah menghadapi krisis suksesi serta tekanan domestik dan internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya, sebuah dinamika yang berpotensi mengubah struktur kekuasaan di Iran dan keseimbangan geopolitik kawasan lebih luas. (Red)
Sebelumnya
...
