Menjaga Ginjal Sebelum Terlambat, Refleksi Hari Ginjal Sedunia 2026

dr. Riza Mazidu Sholihin, Sp.U.
GARDAJATIM.COM:
Dunia kembali memperingati Hari Ginjal Sedunia yang jatuh setiap Kamis kedua bulan Maret. Tepat hari ini Kamis 12 Maret 2026, momentum ini kembali menekankan pentingnya deteksi dini penyakit ginjal, mengingat gangguan pada organ vital tersebut sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal.

Ginjal memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan tubuh. Organ ini menyaring limbah dan cairan berlebih dari darah, mengatur tekanan darah, menjaga keseimbangan elektrolit, serta berperan dalam pembentukan sel darah merah.

Ketika fungsi ginjal terganggu, racun dapat menumpuk di dalam tubuh dan memicu komplikasi serius, bahkan berujung pada gagal ginjal yang membutuhkan dialisis atau transplantasi.

Dokter spesialis urologi di RSU Muslimat Ponorogo sekaligus dosen di Akafarma Sunan Giri Ponorogo, Riza Mazidu Sholihin, Sp.U mengatakan, banyak pasien tidak menyadari kerusakan ginjal sejak dini karena gejalanya kerap tidak spesifik.

“Ketika keluhan mulai terasa, kerusakan ginjal sering kali sudah cukup jauh. Karena itu, pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala sangat penting, terutama bagi kelompok berisiko,” kata Riza.

Ia menjelaskan sejumlah faktor yang kerap memicu penyakit ginjal kronis antara lain diabetes, tekanan darah tinggi, obesitas, penyakit jantung, infeksi ginjal berulang, serta penggunaan obat pereda nyeri secara berlebihan.

Faktor genetik juga turut berperan, sehingga orang dengan riwayat keluarga penyakit ginjal perlu lebih waspada.

Gejala yang mulai muncul biasanya berupa pembengkakan pada kaki atau wajah, kelelahan, penurunan nafsu makan, mual, perubahan pola buang air kecil, hingga urine berbusa atau bercampur darah.

Namun pada banyak kasus, tanda-tanda tersebut baru terlihat ketika fungsi ginjal telah menurun cukup signifikan.

Deteksi dini sebenarnya dapat dilakukan melalui pemeriksaan sederhana, seperti tes darah untuk mengukur kadar kreatinin guna menilai fungsi ginjal, tes urine untuk mendeteksi protein atau darah, serta pemantauan tekanan darah secara rutin. 

Pemeriksaan ini dianjurkan terutama bagi penderita diabetes, hipertensi, maupun mereka yang memiliki riwayat penyakit ginjal dalam keluarga.

Riza menekankan pencegahan penyakit ginjal sangat berkaitan erat dengan gaya hidup. Pengendalian gula darah dan tekanan darah, menjaga berat badan ideal, cukup minum air, mengurangi konsumsi garam dan makanan olahan, serta berhenti merokok menjadi langkah sederhana namun efektif menjaga kesehatan ginjal.

“Penyakit ginjal bukan hanya masalah medis, tetapi juga masalah gaya hidup modern. Pola makan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, dan meningkatnya angka diabetes membuat risiko penyakit ginjal terus meningkat,” ujarnya.

Karena itu, kampanye Hari Ginjal Sedunia diharapkan tidak sekadar menjadi peringatan tahunan, tetapi juga mendorong masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan ginjal sejak dini. Pemeriksaan rutin dan perubahan gaya hidup sehat dinilai mampu mencegah komplikasi besar di masa depan.

“Ginjal bekerja diam-diam menjaga tubuh tetap seimbang. Tugas kita adalah menjaga organ itu sebelum kerusakan terjadi,” kata Riza, yang juga menjabat Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama Ponorogo.



Penulis: Nanang Diyanto / LKNU Ponorogo
Editor: Redaksi

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Menjaga Ginjal Sebelum Terlambat, Refleksi Hari Ginjal Sedunia 2026
  • Menjaga Ginjal Sebelum Terlambat, Refleksi Hari Ginjal Sedunia 2026
  • Menjaga Ginjal Sebelum Terlambat, Refleksi Hari Ginjal Sedunia 2026
  • Menjaga Ginjal Sebelum Terlambat, Refleksi Hari Ginjal Sedunia 2026
  • Menjaga Ginjal Sebelum Terlambat, Refleksi Hari Ginjal Sedunia 2026
  • Menjaga Ginjal Sebelum Terlambat, Refleksi Hari Ginjal Sedunia 2026
Posting Komentar
Tutup Iklan