![]() |
| Ilustrasi. |
Oleh: dr. Riza Mazidu Sholihin, Sp.U
(Ketua PC Lembaga Kesehatan NU Ponorogo)
Rumah sakit tidak pernah benar-benar tidur. Di ruang rawat yang temaram, di lorong-lorong yang sunyi, hingga di instalasi gawat darurat yang penuh ketegangan, selalu ada perawat yang berjaga ketika sebagian besar orang terlelap.
Mereka adalah tenaga kesehatan yang paling lama berada di sisi manusia yang sedang rapuh—mendampingi pasien, menenangkan keluarga, sekaligus memastikan pelayanan tetap berjalan.
Namun dalam praktiknya, profesi perawat tidak selalu berada dalam posisi yang mudah.
Tekanan pelayanan, tuntutan administratif, hingga ekspektasi dari berbagai pihak sering kali menempatkan mereka di garis depan bukan hanya untuk merawat, tetapi juga menghadapi berbagai persoalan yang sebenarnya berada di luar kendali mereka.
Pada 17 Maret 2026, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) genap berusia 52 tahun.
Usia ini menjadi momentum penting untuk kembali melihat peran strategis perawat dalam sistem kesehatan nasional.
![]() |
| dr. Riza Mazidu Bersama Perawat Urologi Melakukan Operasi pengambilan Batu Ginjal. |
Dengan tema “Perawat Profesional sebagai Model Ekonomi Bangsa untuk Kesejahteraan Masyarakat”, kita diajak memahami bahwa profesi perawat tidak hanya berbicara tentang pengabdian, tetapi juga tentang kekuatan sumber daya manusia dalam pembangunan kesehatan.
Perawat merupakan kelompok tenaga kesehatan terbesar di Indonesia. Mereka hadir hampir di semua lini pelayanan, mulai dari rumah sakit, puskesmas, klinik, hingga pelayanan kesehatan masyarakat.
Dalam banyak situasi, perawatlah yang paling lama berada di sisi pasien—bahkan pada saat-saat paling sunyi dalam kehidupan seseorang.
Karena itu, profesionalisme perawat harus diiringi dengan penghargaan yang layak, perlindungan profesi, serta lingkungan kerja yang sehat.
Sistem kesehatan yang baik tidak hanya menuntut dedikasi dari tenaga kesehatan, tetapi juga memberikan ruang yang adil bagi mereka untuk bekerja secara bermartabat.
Peringatan 52 tahun PPNI menjadi pengingat bahwa kualitas pelayanan kesehatan suatu bangsa pada akhirnya bergantung pada manusia yang merawat manusia lainnya.
Jika kita ingin pelayanan kesehatan yang kuat dan bermartabat, maka satu hal tidak boleh dilupakan: perawat juga harus dirawat.

