-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Kisah Pilu PMI Subang: 14 Tahun di Taiwan, Pulang Sakit Parah dan Dibebani Utang Rp80 Juta

Ifat Kurniasih tiba di Indonesia dalam kondisi lemah dan harus menggunakan kursi roda.
GARDAJATIM.COM : Kisah pilu dialami seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Subang, Jawa Barat, Ifat Kurniasih. Setelah 14 tahun bekerja di Taiwan, ia dipulangkan ke Indonesia dalam kondisi sakit parah akibat kanker stadium lanjut yang menyerang beberapa organ tubuhnya.

Tak hanya berjuang melawan penyakit, Ifat juga harus menghadapi beban utang sebesar Rp80 juta kepada pihak majikan. Kondisi tersebut memicu simpati publik dan mendorong aksi penggalangan donasi untuk membantu meringankan bebannya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Ifat merupakan warga Kampung Jati RT 020/RW 05, Kelurahan Jati, Kecamatan Cipunegara, Subang. Ia didiagnosis menderita kanker lidah, kanker paru-paru kiri, serta kanker rektosigmoid stadium 4.

Kasus ini mulai mendapat perhatian pada 7 April 2026 setelah salah satu rekan Ifat melaporkan kondisinya kepada Komisaris Yayasan Allena Humanity Project, Luo Allena, melalui pesan WhatsApp.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Luo Allena segera melakukan video call untuk memastikan kondisi Ifat. Ia kemudian meminta bantuan relawan, Mbok Cikrak, guna melakukan survei langsung ke rumah majikan pada 8 April 2026.

Dalam kunjungan tersebut, relawan menyampaikan maksud pihak yayasan yang ingin membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi Ifat.

Sebelum kasus ini dipublikasikan ke media sosial, pihak yayasan bersama relawan terlebih dahulu meminta izin kepada Ifat dan pihak majikan. Persetujuan pun diberikan, termasuk saat dilakukan siaran langsung melalui platform TikTok.

“Iya, boleh,” ujar majikan beserta Ifat saat dimintai persetujuan.

Setelah melalui proses komunikasi dan negosiasi, Ifat akhirnya dipulangkan ke Indonesia pada Sabtu, 11 April 2026, didampingi staf Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei.

Proses pemulangan tersebut melibatkan kerja sama lintas sektor, antara lain Yayasan Allena Humanity Project, pihak majikan, agensi, KDEI Taipei, BP3MI, Dinas Sosial Subang, Dinas Tenaga Kerja Subang, DPRD daerah, serta dukungan pemerintah pusat.

Setibanya di Lounge PMI Bandara Soekarno-Hatta, kondisi Ifat yang kritis membuatnya harus segera dirujuk ke Rumah Sakit Polri Jakarta untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Ia belum memungkinkan untuk langsung dipulangkan ke kampung halamannya di Subang.

Dalam proses pendampingan ini, Yayasan Allena Humanity Project juga membuka donasi guna membantu meringankan beban utang Ifat kepada majikan.

Hingga Minggu, 12 April 2026, donasi yang terkumpul melalui rekening yayasan mencapai Rp25.018.000. Selain itu, donasi sebesar NTD 31.000 atau setara Rp16.430.000 juga berhasil dihimpun dan telah disalurkan langsung ke rekening majikan, termasuk kontribusi dari LazisNU Taipei.

Luo Allena menyampaikan bahwa penggalangan donasi akan ditutup pada Jumat, 17 April 2026, dan penyerahan dana kepada pihak majikan dijadwalkan dilakukan secara langsung keesokan harinya.

"Donasi akan kami tutup sampai Jum'at malam (17/4/2026) pukul 24.00 WIB, sehingga di hari sabtu saya akan langsung menyerahkan ke pihak majikan. Bagaimanapun juga kita seorang muslim harus bisa membayar hutang, karena hutang akan di bawa sampai mati", ujar Luo Allena.

Meski demikian, pihak majikan tetap berharap adanya itikad baik dari keluarga Ifat dalam menyelesaikan kewajiban tersebut. (@Red)

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar