Menimbang Waktu Terbaik Khitan Anak: Antara Tuntunan Syariat dan Manfaat Medis
Fajar Setiawan
... menit baca
![]() |
| Dokter Riza didampingi tim medis saat melakukan tindakan dengan standart medis di ruang operasi. (Foto: Nanang Diyanto) |
Secara historis, praktik khitan telah ada sejak masa Nabi Ibrahim, yang diyakini sebagai pelopor pelaksanaannya sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Tuhan.
Di luar aspek religius, khitan juga memiliki dasar ilmiah dalam dunia medis modern. Menurut dr. Riza Mazidu Sholihin, SpU, dokter urologi di RSUD dr. Harjono Ponorogo, khitan memberikan berbagai manfaat kesehatan yang signifikan.
“Selain sebagai bagian dari syariat Islam, khitan terbukti membantu menjaga kebersihan organ genital dan mencegah berbagai penyakit,” ujar dr. Zidu.
Beberapa manfaat kesehatan khitan antara lain:
Pertama, menurunkan risiko infeksi saluran kemih, terutama pada anak-anak. Kulup yang tidak dibersihkan dengan baik dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri.
Kedua, mengurangi risiko penyakit menular seksual di kemudian hari. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa laki-laki yang disirkumsisi memiliki risiko lebih rendah terhadap infeksi tertentu, termasuk HIV.
Ketiga, mencegah terjadinya fimosis, yaitu kondisi ketika kulup tidak dapat ditarik ke belakang, yang dapat menyebabkan nyeri dan infeksi.
Keempat, menurunkan risiko kanker penis, meskipun kasus ini relatif jarang. Kelima, membantu menjaga kebersihan organ reproduksi secara keseluruhan.
Lantas, kapan waktu yang tepat untuk anak dikhitan?
Menurut dr. Zidu, khitan dapat dilakukan sejak bayi baru lahir hingga usia anak-anak, bahkan dewasa. Namun, waktu terbaik secara medis adalah saat bayi atau usia dini, selama kondisi anak sehat.
“Khitan pada bayi cenderung lebih cepat sembuh, risiko komplikasi lebih rendah, dan trauma psikologis hampir tidak ada,” jelas Dodiknis FK UMS ini.
Keuntungan khitan sedini mungkin antara lain proses penyembuhan yang lebih cepat, perdarahan yang minimal, serta anak belum memiliki ingatan kuat terhadap rasa nyeri.
Selain itu, perawatan pasca-tindakan juga relatif lebih mudah dibandingkan pada anak yang lebih besar.
Namun demikian, tidak semua kondisi memungkinkan anak untuk segera dikhitan. Ada beberapa kontraindikasi atau kondisi yang perlu diperhatikan sebelum tindakan dilakukan. Di antaranya:
Anak dengan kelainan bawaan pada penis seperti hipospadia, di mana lubang kencing tidak berada di ujung penis. Dalam kondisi ini, kulup justru diperlukan untuk tindakan rekonstruksi di kemudian hari.
Anak dengan gangguan pembekuan darah, yang berisiko mengalami perdarahan berlebih. Adanya infeksi atau peradangan pada area genital yang belum ditangani.
Kondisi kesehatan umum anak yang sedang tidak stabil, seperti demam tinggi atau penyakit berat lainnya.
“Pemeriksaan dokter sebelum khitan sangat penting untuk memastikan tidak ada kondisi yang berisiko,” tegas dr. Zidu.
Pada akhirnya, khitan bukan hanya persoalan tradisi atau agama, tetapi juga investasi kesehatan jangka panjang. Dengan waktu yang tepat dan penanganan medis yang baik, khitan dapat memberikan manfaat optimal bagi tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun psikologis.
Penulis: Nanang Diyanto
Editor: Redaksi
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
