SPPG Patihan Kidul, Layanan Berkualitas yang Terlanjur Dicintai Penerima Manfaat
Redaksi
... menit baca
![]() |
| Kegiatan perpisahan sederhana digelar SPPG Patihan Kidul bersama sekolah penerima manfaat. (Foto: doc. Gardajatim.com) |
Salah satunya datang dari sekolah-sekolah yang selama ini dilayani SPPG Patihan Kidul di bawah naungan Yayasan Berkah Srikandi Abadi.
Sebanyak 15 sekolah dari jenjang TK hingga SD/MI di wilayah Korcam Siman kini dialihkan ke dapur baru sebagai bagian dari pemerataan program.
Namun, perpindahan itu tak lepas dari rasa kehilangan, terutama bagi pihak sekolah dan wali murid yang telah merasa cocok dengan layanan sebelumnya.
Kepala TK Dharma Wanita Ngabar, Sutiyem, mengaku kaget saat menerima undangan perpisahan dari SPPG Patihan Kidul.
Padahal, sejak awal program berjalan, sekitar 40 penerima manfaat dari kelompok bermain dan TK, termasuk guru, merasakan kenyamanan dengan kualitas makanan yang disajikan.
“Anak-anak senang, wali murid juga merasa cocok. Kalau makanan tidak habis, bisa dibawa pulang. Bahkan ada yang dimakan orang tuanya,” kata Sutiyem.
Menurut dia, selain rasa yang sesuai, kebersihan dan higienitas makanan menjadi faktor utama yang membuat pihak sekolah merasa percaya.
“Kami sudah cocok, istilahnya sudah ‘cinta’. Tiba-tiba dipindah, tentu kaget. Tapi ini aturan, kami mengikuti saja,” ujarnya.
Ia berharap, dapur baru yang akan melayani sekolahnya dapat mempertahankan standar yang sama, baik dari segi kualitas maupun pelayanan.
![]() |
| Mitra dan pengurus SPPG Patihan Kidul. |
Hal senada disampaikan Kepala TK Muslimat Pijeran, Nanik. Ia mengaku kabar pemindahan dapur membuat pihak sekolah dan wali murid merasa sedih.
“Ketika tahu akan dipindah dapurnya, kami semua sedih, termasuk wali murid. Bahkan ada wali murid yang menyampaikan, kalau harus pindah dapur lebih baik tidak menerima MBG,” kata Nanik.
Ia menilai, kedekatan emosional dengan layanan yang sudah berjalan menjadi salah satu alasan munculnya respons tersebut.
Kepala SPPG Patihan Kidul, Winda Martha Pratiwi menjelaskan, bahwa pemindahan tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemerataan penerima manfaat yang diinstruksikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Dengan adanya dapur baru di Desa Pijeran, distribusi layanan harus dibagi ulang.
“Ini prosedural. Ada penambahan dapur di wilayah Siman, sehingga penerima manfaat harus dibagi. Ini juga hasil koordinasi dengan korwil dan korcam,” kata Winda.
Ia menambahkan, selain pembagian ke dapur baru, terdapat pula penyesuaian dengan dapur lain, termasuk dapur Polres.
“Intinya ini pertukaran penerima manfaat untuk pemerataan,” ujarnya.
Sebelumnya, SPPG Patihan Kidul melayani sekitar 35 sekolah dengan total lebih dari 3.000 penerima manfaat. Setelah penyesuaian, jumlah tersebut kini menjadi sekitar 2.500 penerima.
![]() |
| Kepala Sekolah penerima manfaat SPPG Patihan Kidul. |
Di sisi lain, terdapat penambahan sasaran program, yakni ibu hamil di Desa Ronosentanan. Hal ini, menurut Winda, menjadi bagian dari perluasan manfaat program MBG.
Meski harus melepas sebagian penerima manfaat, pihak SPPG Patihan Kidul menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga kualitas layanan. Evaluasi rutin dilakukan dengan melibatkan penerima manfaat melalui formulir umpan balik, termasuk terkait menu makanan.
Mitra SPPG Patihan Kidul, H. Sugeng Hariyono atau Sugeng Srikandi mengatakan, hubungan yang telah terjalin antara pihak dapur dan penerima manfaat tidak sekadar formalitas program.
“Karena sudah seperti keluarga, maka saat dipisah kami merasa perlu menggelar perpisahan sederhana agar hubungan tetap harmonis,” kata Sugeng.
Ia menambahkan, pihaknya tetap berupaya membantu kelompok rentan, seperti anak yatim, meskipun tidak lagi berada dalam cakupan dapur yang sama.
Menurut dia, keberhasilan program MBG tidak hanya bergantung pada distribusi, tetapi juga pada komitmen pelaksana dalam menjaga amanah.
“Kuncinya amanah. Anggaran harus dijalankan sesuai aturan tanpa dikurangi, agar tujuan program untuk mendukung generasi emas bisa tercapai,” ujarnya. (Fjr)
Sebelumnya
...


