Varikokel dan Mimpi yang Tertunda: Catatan bagi Calon Prajurit
Redaksi
... menit baca
![]() |
| Foto: Ilustrasi Varikokel |
Kalimat itu meluncur cepat dari Faizal, mencerminkan kegelisahan sekaligus tekad yang tak ingin tertunda. Di hadapannya, Riza Mazidu Sholihin, Sp.U., hanya tersenyum memahami. Ia bahkan belum membuka rekam medis atau melakukan pemeriksaan fisik, namun arah pertanyaan itu sudah sangat jelas.
Varikokel
Diagnosis itu diterima Faizal setelah mengikuti tahapan awal seleksi kesehatan di Malang. Ia dinyatakan belum memenuhi syarat dan diminta menyelesaikan pengobatan terlebih dahulu sebelum mencoba kembali pada gelombang berikutnya. Bagi sebagian orang, itu mungkin terasa sebagai penolakan. Namun bagi Faizal, itu adalah jeda yang harus dimanfaatkan.
Ia kemudian mencari informasi, hingga mengetahui bahwa tindakan operasi varikokel juga dapat dilakukan di Ponorogo. Dengan keyakinan yang mulai tumbuh, ia memutuskan datang untuk berkonsultasi langsung.
Mendengar ceritanya, dr Zidu menjelaskan dengan ringan namun menenangkan. Operasi varikokel, katanya, tidak bergantung pada satu tempat tertentu. Selama dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten, prosedur tersebut bisa dikerjakan dengan baik di berbagai fasilitas kesehatan.
Ia juga mengingatkan bahwa kesempatan menjadi prajurit tidak hanya datang sekali. Dalam setahun, ada beberapa gelombang pendaftaran yang bisa dimanfaatkan.
Keputusan pun diambil tanpa banyak penundaan. Hari itu Faizal langsung menjalani perawatan. Keesokan harinya operasi dilakukan, dan sehari setelahnya ia sudah diperbolehkan pulang.
![]() |
| Dokter spesialis urologi dr. Riza Mazidu Sholihin, Sp.U., melakukan tindakan operasi varikokel pada pasien di ruang bedah. |
Proses yang semula ia bayangkan rumit dan panjang ternyata berjalan lebih sederhana. Dalam satu hingga dua minggu, ia diperkirakan sudah pulih untuk kembali beraktivitas ringan, dengan catatan tetap menghindari beban fisik berat selama masa penyembuhan.
Varikokel sendiri merupakan kondisi pelebaran pembuluh darah vena di dalam skrotum, yang kerap disamakan dengan varises pada kaki. Kondisi ini paling sering terjadi di sisi kiri dan dalam banyak kasus tidak menimbulkan keluhan berarti.
Namun pada sebagian orang, muncul rasa tidak nyaman seperti yang dialami Faizal berupa sensasi “kemeng” di perut bawah. Keluhan yang tampak ringan itu sering kali diabaikan, hingga akhirnya terdeteksi justru pada momen penting seperti seleksi kesehatan.
Dalam konteks penerimaan TNI, Polri, maupun sekolah kedinasan, kondisi seperti varikokel menjadi perhatian khusus. Bukan semata karena berbahaya secara langsung, melainkan karena adanya potensi gangguan jangka panjang serta risiko ketidaknyamanan saat menjalani aktivitas fisik berat.
Pendidikan militer menuntut kesiapan fisik yang optimal, sehingga setiap calon perlu dipastikan berada dalam kondisi kesehatan terbaik.
Dari pengalaman ini, Faizal mulai memahami bahwa perjalanan menuju cita-cita tidak hanya soal semangat dan kemampuan, tetapi juga kesiapan tubuh.
Apa yang sebelumnya ia anggap sebagai hambatan, perlahan berubah menjadi proses pembelajaran. Ia menyadari bahwa pemeriksaan kesehatan sejak dini bukanlah hal sepele, melainkan bagian penting dari persiapan.
Kini ia kembali ke Pacitan dengan langkah yang lebih mantap. Operasi telah dijalani, masa pemulihan sedang dilalui, dan harapan tetap terjaga. Gelombang berikutnya bukan lagi sekadar kesempatan, tetapi ruang untuk membuktikan bahwa ia telah siap—bukan hanya secara tekad, tetapi juga secara fisik.
Pada akhirnya, mimpi memang bisa tertunda, tetapi tidak harus berhenti. Dengan penanganan yang tepat dan kesadaran untuk menjaga kesehatan sejak awal, jalan menuju cita-cita tetap terbuka bagi siapa pun yang mau berusaha.
Penulis: Nanang Diyanto
Sebelumnya
...
Berikutnya
...

