-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Bersih Desa Kupuk Jadi Magnet Warga, Doa Keselamatan Menggema di Tengah Pagelaran Wayang

Prosesi penyerahan tokoh wayang menandai pembukaan pagelaran wayang kulit lakon Anoman Maneges. (Foto: Kompas Nusantara)
GARDAJATIM.COM:
Tradisi sedekah bumi atau bersih desa kembali digelar Pemerintah Desa (Pemdes) Kupuk, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo, Jumat malam, 8 Mei 2026. 

Kegiatan tahunan yang menjadi bagian dari budaya masyarakat agraris itu dipusatkan di lapangan desa dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk menghadirkan dalang Ki KRT Purbo Sasongko membawakan lakon Anoman Maneges.

Ratusan warga tampak memadati lokasi sejak malam hari. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan warga sekaligus menjaga warisan budaya leluhur yang masih hidup di tengah masyarakat pedesaan.

Kepala Desa Kupuk, Agus Setiyono atau yang akrab disapa Agustino, mengatakan sedekah bumi merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil bumi dan kemakmuran yang diperoleh selama setahun terakhir.

“Selain sedekah untuk sesama manusia, kita juga perlu bersedekah untuk bumi yang telah memberikan kemakmuran,” ujar Agustino dalam sambutannya.

Menurut dia, tradisi bersih desa tidak sekadar seremoni tahunan. Kegiatan itu menjadi pengingat bahwa masyarakat memiliki tanggung jawab menjaga alam yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga, terutama sektor pertanian.

Ia menuturkan, tanah yang subur dan hasil panen yang melimpah menjadi alasan masyarakat terus mempertahankan tradisi sedekah bumi.

Melalui kegiatan tersebut, warga berharap keberkahan dan hasil pertanian tetap terjaga pada musim-musim berikutnya.

Kepala Desa Kupuk Agus Setiyono memberikan sambutan sebelum pagelaran wayang kulit dimulai.
Selain sebagai ungkapan syukur, bersih desa juga dimaknai sebagai doa bersama agar masyarakat dijauhkan dari bencana dan marabahaya.

“Tinebehno saking godo rencono, jauhkan dari marabahaya,” katanya menggunakan bahasa Jawa.

Agustino berharap Desa Kupuk dapat menjadi desa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, yakni desa yang aman, makmur, masyarakatnya hidup rukun, bersyukur, serta memperoleh keberkahan dari Tuhan.

Meski demikian, ia mengakui pelaksanaan sedekah bumi tahun ini tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya.

Kondisi anggaran desa yang terbatas membuat rangkaian kegiatan diselenggarakan secara lebih sederhana.

“Tahun depan di penghujung masa purna saya, akan kita adakan yang lebih meriah dibanding sebelumnya,” ujar Agustino.

Tradisi sedekah bumi hingga kini masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan di Ponorogo. Selain menjaga nilai budaya dan spiritual, kegiatan tersebut juga menjadi ruang pertemuan sosial warga lintas generasi. (Fjr)

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar