Dhenata Art Community Boyong Juara Dunia, Reog Ponorogo Tuai Pujian di Bali
Redaksi
... menit baca
![]() |
| Penari muda menampilkan tari kreasi Punden dalam ajang World Dance Festival 2026 di Bali. (Foto: Ria Kusuma) |
Dalam kompetisi internasional tersebut, Dhenata Art Community berhasil menyisihkan puluhan peserta dari berbagai negara seperti Korea Selatan, India, Mongolia, Malaysia, Hong Kong, Cina, hingga Qatar. Festival berlangsung selama tiga hari, 13–15 Mei 2026, di Dharma Negara Alaya.
Ajang tari bertaraf dunia itu diikuti delegasi dari lebih dari 15 negara di kawasan Asia dan menjadi salah satu perhelatan budaya internasional yang menempatkan Bali sebagai pusat pertunjukan seni dunia pada 2026.
World Dance Festival 2026 diselenggarakan oleh KDO, organisasi anggota International Council on Dance (CID) di bawah naungan UNESCO.
Selain kompetisi tari, agenda festival juga mencakup konferensi seni, workshop, gala performance, tur budaya Indonesia, hingga forum jejaring profesional antar seniman dunia.
![]() |
| Penari dan Dhenata Art Community official berfoto bersama usai meraih Juara 1 kategori Cultural Dance dan Juara Umum dalam World Dance Festival 2026 di Bali. |
Ketua Dhenata Art Community, Ria Kusuma Wardani mengatakan, pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Ponorogo.
“Prestasi ini merupakan hasil kerja keras seluruh anggota komunitas dan menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Ponorogo di kancah internasional,” kata Ria, Ahad, 17 Mei 2026.
Dalam festival itu, Dhenata membawakan tari kreasi tradisional berjudul Punden. Tarian tersebut merupakan pengembangan dari Reog Ponorogo dengan tetap mempertahankan nilai filosofis, kekuatan gerak, dan identitas budaya daerah.
Menurut Ria, persaingan berlangsung sangat kompetitif karena setiap negara menampilkan karakter budaya dan teknik tari yang kuat.
Namun, kekompakan tim serta karakter khas Reog Ponorogo menjadi nilai pembeda di mata dewan juri.
“Keunikan, energi gerak, dan identitas budaya Ponorogo mendapat apresiasi tinggi dari juri internasional,” ujarnya.
Persiapan menuju festival dilakukan selama kurang lebih empat bulan. Para penari menjalani latihan rutin tiga kali dalam sepekan di sanggar yang berada di Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo.
Menjelang keberangkatan, intensitas latihan ditingkatkan demi menjaga kekompakan tim. Tantangan terbesar, menurut Ria, terletak pada stamina para penari karena kostum dan properti yang digunakan memiliki bobot cukup berat.
Selain itu, seluruh biaya keberangkatan ditanggung secara mandiri oleh komunitas bersama dukungan para orang tua wali murid.
“Kami sangat berharap ada dukungan pemerintah daerah, baik fasilitas, pembinaan, maupun bantuan pendanaan agar pembinaan seni budaya bisa lebih berkembang,” katanya.
Ria menjelaskan, melalui tarian Punden, komunitasnya ingin menyampaikan pesan tentang semangat gotong royong, ketangguhan, dan kebanggaan terhadap warisan budaya Ponorogo.
Ia menilai seni tradisional tetap dapat berkembang di tengah modernisasi tanpa kehilangan jati diri budaya.
Penampilan para penari usia 7 hingga 13 tahun itu juga mendapat respons positif dari peserta dan penonton mancanegara. Banyak di antara mereka memberikan apresiasi terhadap dinamika gerak, musik, dan ekspresi yang ditampilkan.
“Hal ini menjadi bukti bahwa Reog Ponorogo memiliki daya tarik universal,” ujar Ria.
Keberhasilan Dhenata Art Community menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Ponorogo.
Capaian tersebut sekaligus membuktikan bahwa seni budaya daerah tidak hanya mampu bertahan di tengah arus modernisasi, tetapi juga mampu bersaing dan mendapat pengakuan di panggung dunia.
Dengan adanya prestasi tersebut, Dhenata Art Community berharap dapat terus menjadi wadah pembinaan generasi muda sekaligus duta budaya Ponorogo di berbagai ajang internasional berikutnya.
Ria pun mengajak generasi muda untuk tidak ragu mengenal dan melestarikan seni budaya daerah. Menurut dia, kekayaan budaya merupakan identitas bangsa yang harus dijaga di tengah arus globalisasi. (Fjr)
Sebelumnya
...
Berikutnya
...


