Imbas Penutupan Tambang Grindulu, Pekerja Pasir di Arjowinangun Kehilangan Penghasilan
GARDAJATIM.COM: Penutupan sementara aktivitas penambangan pasir di sepanjang aliran Sungai Grindulu, Kabupaten Pacitan, mulai berdampak pada kondisi ekonomi warga. 
Sejumlah pekerja tambang pasir di Sungai Grindulu, Pacitan, kehilangan mata pencaharian setelah aktivitas penambangan ditutup. (Foto: Acr)
Sejumlah pekerja tambang di Desa Arjowinangun mengaku kehilangan mata pencaharian sejak aktivitas tambang dihentikan sekitar sepekan terakhir.
Kebijakan penghentian aktivitas tambang tersebut diberlakukan sejak Rabu (20/5/2026) menyusul penutupan seluruh aktivitas penambangan pasir di wilayah Sungai Grindulu oleh Polres Pacitan.
Penutupan dilakukan hingga waktu yang belum ditentukan.
Meski persoalan yang menjadi pemicu penutupan disebut terjadi di wilayah Desa Purworejo, dampaknya turut dirasakan para pekerja tambang di RT 6 RW 2 Lingkungan Kauman, Desa Arjowinangun, Kecamatan Pacitan.
Selama ini, aktivitas tambang di wilayah tersebut disebut berjalan tanpa persoalan lingkungan maupun keluhan warga.
Salah satu pekerja tambang, Janap Suprapto (60), mengatakan para pekerja di Arjowinangun ikut terdampak meski lokasi mereka tidak bermasalah.
Ia menyebut seluruh aktivitas ekonomi warga yang bergantung pada tambang kini terhenti.
“Penutupan ini sudah ada sekitar satu minggu. Informasinya karena masalah jalan rusak di Purworejo, bukan daerah sini, wilayah Arjowinangun aman. Tapi kami ikut kena dampaknya,” ujarnya.
Menurut Janap, sekitar 10 kepala keluarga dengan total kurang lebih 25 orang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas penambangan pasir di lokasi tersebut.
“Tenaga nganggur semua, keluarga otomatis ekonominya berhenti, biaya anak sekolah juga macet,” katanya.
Ia menambahkan, selama masa penutupan para pekerja baru sekali menerima bantuan berupa beras 5 kilogram untuk setiap kepala keluarga dari pihak kepolisian.
“Dengan penutupan ini kehilangan mata pencaharian, iya betul. Pernah dapat bantuan baru sekali beras 5 kilogram dari kepolisian per KK,” jelasnya.
Pekerja lainnya, Misri (60), mengatakan aktivitas tambang di wilayahnya dilakukan secara manual tanpa alat berat besar.
Menurutnya, para pekerja biasanya mulai mengambil pasir pada sore hari untuk kemudian dijual keesokan paginya.
“Di sini nyedotnya sore jam 2 sampai jam 4, dikumpulkan dulu, lalu dijual pagi. Semua manual,” ujarnya.
Misri menyebut penghasilan para pekerja tidak menentu karena bergantung pada penjualan pasir setiap hari. Dalam kondisi tertentu, pasir yang sudah ditimbun bahkan tidak laku terjual.
“Kadang kita nimbun, besoknya tidak laku, pulang tidak bawa uang sama sekali,” katanya.
Menurutnya, terdapat sekitar delapan kelompok pekerja di lokasi tersebut dengan masing-masing kelompok terdiri dari empat hingga lima orang.
Dalam sehari, satu kelompok rata-rata hanya mampu menghasilkan tiga dump truk pasir yang hasilnya masih harus dibagi untuk kebutuhan operasional.
“Paling satu hari itu per kelompok dapat 3 mobil dump, uangnya dibagi empat untuk solar dan operasional. Masih bingung kita,” ujarnya.
Hingga kini belum ada kepastian kapan aktivitas penambangan pasir di Sungai Grindulu akan kembali dibuka oleh pihak berwenang. (@Acr)