-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Jalan Terjal Menuju Edukasi Kesehatan Remaja di Lereng Sawoo Ponorogo

Sunat gratis, dari team LKNU PCNU Ponorogo. (Foto: Nanang Diyanto)
GARDAJATIM.COM:
Perjalanan menuju MTs dan MA Darul Hikmah Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, bukan sekadar agenda bakti sosial. Jalan menanjak dan rusak yang harus dilalui rombongan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) PCNU Ponorogo menjadi metafora nyata tentang sulitnya menghadirkan layanan kesehatan dan edukasi hingga ke wilayah pegunungan.

Kegiatan tersebut melibatkan kolaborasi lintas organisasi, mulai dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Ponorogo, Akademi Farmasi Sunan Giri Ponorogo, Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) Ponorogo, GP Ansor Ponorogo, hingga Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair) Ponorogo.

Fokus utama kegiatan adalah penyuluhan kesehatan reproduksi remaja yang masih minim tersentuh di daerah pelosok.

Materi disampaikan oleh dr. Riza Mazidu Sholihin, Sp.U., dokter spesialis urologi yang akrab disapa dr. Zidu.

Suasana penyuluhan kesehatan reproduksi remaja di MTs–MA Darul Hikmah Temon, Kecamatan Sawoo, Ponorogo.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan secara sederhana mengenai proses reproduksi, tanda-tanda pubertas seperti mimpi basah pada laki-laki, perubahan fisik remaja, hingga pentingnya menjaga kebersihan organ reproduksi.

Apa yang di kota kerap dianggap pengetahuan dasar, di kawasan pegunungan Sawoo justru masih menjadi hal yang tabu. Suasana aula beberapa kali diwarnai gelak tawa canggung saat sesi tanya jawab berlangsung.

“Kapan mimpi basah?” tanya dr. Zidu, memancing diskusi. Sejumlah siswa hanya saling pandang dan tersenyum malu.

Bahkan pertanyaan sederhana seperti penggunaan celana dalam pun membuat sebagian siswa enggan menjawab.

Pengobatan Gratis oleh RSU Muslimat dan RSU Darmayu.
Dari dialog tersebut terungkap kebiasaan yang cukup memprihatinkan. Sebagian siswa mengaku menggunakan celana dalam selama tiga hingga empat hari dengan cara dibalik. Praktik ini membuka risiko gangguan kebersihan hingga infeksi.

dr. Zidu menegaskan bahwa penggunaan pakaian dalam bersih bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian penting dari kesehatan. Selain mencegah infeksi, kebersihan juga berkaitan dengan aspek ibadah.

“Celana dalam yang bersih juga bagian dari menjaga kesucian dalam beribadah,” ujarnya.

Pada sesi konsultasi pribadi, dua siswa mendapat perhatian khusus. Salah satu siswa mengaku hanya memiliki satu testis, sementara lainnya mengalami kelainan posisi lubang saluran kemih.

dr. Zidu menjelaskan bahwa kondisi tersebut masing-masing mengarah pada dugaan testis tidak turun dan hipospadia keduanya memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.

“Kondisi seperti ini bukan untuk ditertawakan, tetapi harus diperiksakan agar bisa ditangani dengan baik,” kata dia.

Penyerahan bingkisan oleh dr. Zidu kepada peserta.
Selain penyuluhan, kegiatan juga diisi dengan layanan sunat massal oleh tim LKNU PCNU Ponorogo di bawah koordinasi dr. Zidu.

Meski jumlah peserta terbatas karena bertepatan dengan masa ujian sekolah, kegiatan tetap berjalan dengan lancar dan penuh kehangatan.

Di balik medan sulit yang harus ditempuh, para relawan justru menemukan persoalan yang lebih mendasar: minimnya edukasi kesehatan reproduksi di kalangan remaja desa. 

Bakti sosial ini bukan hanya menghadirkan layanan medis, tetapi juga membuka ruang keberanian bagi remaja untuk memahami tubuh dan kesehatannya sendiri.

Jalan terjal di Sawoo, pada akhirnya, bukan sekadar rintangan geografis, melainkan cermin dari tantangan besar pemerataan edukasi kesehatan di Indonesia.

Penulis: Nanang Diyanto / LKNU Ponorogo
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar