Menjelang Hari Raya Kurban: Antara Mitos Daging Kambing dan Kesehatan Tubuh
Redaksi
... menit baca
(Ketua IKA UNAIR Cabang Ponorogo)
GARDAJATIM.COM: Menjelang Hari Raya Idul Adha, obrolan tentang daging kurban selalu kembali hidup di tengah masyarakat. Di teras rumah, warung kopi, hingga ruang tunggu rumah sakit, pertanyaan yang sama berulang dari tahun ke tahun: benarkah daging kambing menyebabkan tekanan darah naik?
Apakah sate kambing setengah matang bisa meningkatkan vitalitas lelaki? Dan apakah torpedo kambing benar-benar ampuh sebagai obat kejantanan seperti yang dipercaya sebagian orang?
Pertanyaan-pertanyaan itu pula yang disampaikan seorang bapak kepada dr. Riza Mazidu Sholihin, Sp.U, beberapa hari menjelang Idul Adha.
Sambil bercanda, dokter yang akrab disapa dr. Zidu itu menjelaskan bahwa sebagian besar anggapan masyarakat tentang daging kambing sebenarnya lebih banyak bercampur antara tradisi, pengalaman pribadi, dan mitos turun-temurun.
Menurut dr. Zidu, daging kambing kerap menjadi “tersangka utama” setiap kali seseorang mengalami tekanan darah tinggi selepas makan sate atau gulai saat hari raya.
Padahal, secara medis, daging kambing tidak otomatis menyebabkan hipertensi. Yang sering kali menjadi masalah justru pola konsumsi masyarakat saat Idul Adha yang cenderung berlebihan.
“Orang kadang bukan cuma makan daging, tapi sekaligus lemak, santan, garam tinggi, ditambah porsinya berulang-ulang dari pagi sampai malam,” ujarnya, Selasa, 26 Mei 2026.
Ia menjelaskan, pada orang yang sehat, konsumsi daging kambing dalam jumlah wajar umumnya tidak menimbulkan masalah berarti. Namun pada penderita hipertensi, kolesterol tinggi, penyakit jantung, diabetes, asam urat, maupun gangguan ginjal, konsumsi berlebihan dapat memicu keluhan kambuh.
Apalagi bila selama beberapa hari tubuh terus-menerus menerima asupan lemak dan protein tinggi tanpa diimbangi sayur, buah, serta aktivitas fisik.
Di tengah masyarakat, daging kambing juga lama dipercaya memiliki hubungan dengan vitalitas lelaki. Tidak sedikit yang sengaja mencari sate kambing setengah matang karena dianggap lebih “bertenaga”. Bahkan ada pula yang meyakini torpedo atau buah pelir kambing dapat meningkatkan kejantanan pria.
Menanggapi hal itu, dr. Zidu tersenyum. Menurutnya, keyakinan tersebut lebih banyak hidup sebagai budaya lisan dibanding fakta ilmiah yang benar-benar terbukti.
“Protein memang penting untuk tubuh dan kebugaran, tetapi bukan berarti makan torpedo kambing otomatis membuat seseorang lebih perkasa,” kata dr. Zidu
Ia justru mengingatkan bahwa konsumsi daging setengah matang memiliki risiko kesehatan yang sering diabaikan masyarakat. Daging yang tidak dimasak sempurna berpotensi membawa bakteri atau parasit yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan hingga infeksi tertentu. Risiko itu menjadi lebih besar pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah.
Hal serupa berlaku pada hati dan jeroan yang sering menjadi bagian favorit saat Idul Adha. Menurut dr. Zidu, jeroan sebenarnya boleh dikonsumsi, tetapi harus dalam batas wajar dan dipastikan bersih serta matang sempurna.
Pada penderita asam urat atau kolesterol tinggi, konsumsi jeroan berlebihan dapat memicu kekambuhan penyakit.
Yang sering terjadi di masyarakat, kata dia, justru euforia makan berlebihan selama hari raya. Pagi makan sate, siang gulai, malam tengkleng, lalu berulang selama beberapa hari berturut-turut.
“Tubuh manusia punya batas. Kadang yang membuat sakit bukan kambingnya, tapi ketidakmampuan kita mengendalikan diri,” ujarnya sambil tertawa.
Menurut dr. Zidu, masyarakat sebenarnya tidak perlu takut berlebihan terhadap daging kurban. Yang jauh lebih penting adalah memahami cara konsumsi yang sehat.
Daging sebaiknya dimasak matang sempurna, mengurangi bagian berlemak, tidak terlalu banyak garam maupun santan, serta diimbangi dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup.
Ia menambahkan, Idul Adha sejatinya bukan tentang pesta makan daging, melainkan momentum berbagi dan bersyukur.
Karena itu, menjaga kesehatan saat menikmati hidangan kurban juga menjadi bagian dari rasa syukur terhadap tubuh yang telah diberikan Tuhan.
“Silakan menikmati sate dan gulai saat lebaran kurban. Tidak perlu takut berlebihan, tetapi juga jangan berlebihan dalam makan,” tutur Dosen Akafarma Sunan Giri ini.
***
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
