Strategi SPPG Patihan Kidul: Racikan Menu MBG hingga Subsidi Silang Iga Gongso
Redaksi
... menit baca
![]() |
| Siswa kelas A TK Dharma Wanita Ronosentanan lahap menyantap menu iga gongso dari SPPG Patihan Kidul. (Foto: doc. Gardajatim.com) |
Salah satu potret keberhasilan tata kelola ini tercermin di SPPG Patihan Kidul, Kecamatan Siman, Ponorogo.
Adelia Dessyka, Akuntan SPPG Patihan Kidul, membeberkan dapur manajerial di balik penyusunan menu harian program MBG.
Menurut Adelia, variasi menu harian tidak dibuat sembarangan, melainkan ditentukan dan disusun langsung oleh ahli gizi untuk memastikan pemenuhan standar nutrisi anak.
Sebagai contoh, menu yang didistribusikan hari ini menyajikan kombinasi karbohidrat, protein, dan vitamin yang menggugah selera: nasi putih, iga gongso, tahu bumbu gongso, cukut goreng timun, serta buah naga segar.
"Baik untuk porsi kecil maupun porsi besar, jenis menu yang diberikan sama seluruhnya, tidak ada perbedaan kualitas," ujar Adelia, Rabu, 20 Mei 2026.
Siasat Cerdas Subsidi Silang Anggaran
Tantangan utama dalam program ini adalah menyajikan menu premium seperti iga sapi di tengah keterbatasan pagu anggaran harian.
Adelia mengungkapkan bahwa standar biaya bahan baku telah dipatok ketat, yaitu Rp8.000 untuk porsi kecil dan Rp10.000 untuk porsi besar.
Untuk menyiasatinya, tim manajemen menerapkan sistem anggaran subsidi silang yang dihitung dalam satu periode selama dua pekan (dua minggu).
"Jika pada hari tertentu menu yang disajikan berbiaya lebih murah contohnya menu telur, maka sisa anggaran tersebut akan dialokasikan untuk hari lain yang menunya lebih mahal, seperti menu iga gongso hari ini yang biayanya melebihi pagu harian," jelas Adelia.
Strategi pengelolaan ini sengaja diadopsi untuk memastikan anggaran yang tersedia bisa habis terserap secara optimal, transparan, dan tepat sasaran sesuai pagu, demi memberikan manfaat terbaik bagi para siswa penerima.
![]() |
| Novia Dewi Kartika mendampingi siswanya menyantap menu iga gongso dari SPPG Patihan Kidul. |
Dampak nyata dari ketatnya pengawasan gizi dan anggaran ini dirasakan langsung di lapangan. Kepala TK Dharma Wanita Ronosentanan, Novia Dewi Kartika mengatakan adanya perubahan perilaku yang sangat positif pada anak-anak didiknya sejak program MBG berjalan.
"Siswa yang awalnya tidak mau makan nasi, sekarang menjadi mau makan. Mayoritas anak-anak menyukai dan cocok dengan menu yang disediakan oleh SPPG Patihan Kidul," ungkap Novia.
Ia menjelaskan, perbedaan respons terlihat antara siswa kelas A dan kelas B. Untuk kelas B, makanan umumnya habis dikonsumsi di sekolah. Sementara pada kelas A, jika porsi tidak habis, makanan diperbolehkan dibawa pulang menyesuaikan kapasitas makan anak usia lebih kecil.
Sebelum program MBG diterapkan, sekolah sempat menginisiasi kegiatan makan bersama secara mandiri sebulan sekali. Namun, upaya tersebut belum memberikan hasil optimal. Anak-anak masih sulit makan, bahkan tidak sedikit makanan yang terbuang.
![]() |
| Adelia Dessyka, Akuntan SPPG Patihan Kidul. |
“Kalau dulu makan bersama sifatnya insidental, sekarang lebih teratur. Anak-anak jadi terbiasa, nafsu makannya juga meningkat,” katanya.
Di TK Dharma Wanita Ronosentanan, program ini mendistribusikan 26 porsi makanan setiap hari. Jumlah tersebut mencakup 23 siswa dari kelas A dan B serta tiga tenaga pengajar.
Keberhasilan program ini juga ditopang oleh komunikasi yang terbuka antara sekolah dan penyedia MBG. Novia menilai pihak penyedia cukup responsif dalam menindaklanjuti setiap masukan.
"Sempat terjadi kendala saat pengiriman makanan, di mana kuah tumpah setelah kami sampaikan kepada penyedia langsung ada perbaikan. Responsnya cepat,” ujarnya.
Sinergi antara pengelolaan anggaran yang akuntabel, pengawasan ahli gizi, serta respons cepat di lapangan membuat program MBG di SPPG Patihan Kidul tidak berhenti sebagai distribusi makanan semata.
Program ini mulai menunjukkan perannya sebagai intervensi nyata dalam membangun kualitas gizi dan kebiasaan makan sehat sejak usia dini sebuah fondasi penting menuju generasi masa depan yang lebih sehat. (Fjr)
Program ini mulai menunjukkan perannya sebagai intervensi nyata dalam membangun kualitas gizi dan kebiasaan makan sehat sejak usia dini sebuah fondasi penting menuju generasi masa depan yang lebih sehat. (Fjr)
Sebelumnya
...
Berikutnya
...



