-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Kasus Dugaan Bullying di MI Al Kautsar Ponorogo Berujung Operasi, Kepala Akui Kecolongan

Foto: Ilustrasi Ai.
GARDAJATIM.COM: Dugaan perundungan yang menyebabkan seorang siswa sekolah dasar mengalami patah tulang hingga harus menjalani operasi memunculkan sorotan terhadap sistem pengawasan di lingkungan pendidikan.

Peristiwa itu terjadi di MI Al Kautsar, Nologaten, Durisawo, Kabupaten Ponorogo, pada 11 Juni 2026.

Korban, sebut saja W, 11 tahun, siswa kelas V, mengalami cedera serius pada bagian tangan setelah terjatuh dalam sebuah insiden yang menurut keluarganya bermula dari tindakan perundungan oleh sejumlah teman sekolahnya.

Orang tua korban menuturkan, anaknya diduga dipaksa mengikuti permainan yang disebut "sapi-sapian".

Dalam permainan tersebut, leher korban disebut diikat menggunakan tali yang kemudian dihubungkan ke sebuah meja.

"Anak saya berusaha melepaskan diri karena kesakitan. Saat berlari, dia dikejar lalu terjatuh. Setelah diperiksa, ternyata tangannya patah dan harus menjalani operasi," kata wali murid, Selasa 23 Juni 2026.

Akibat kejadian itu, korban harus menjalani tindakan operasi pemasangan pen pada tulangnya.

Selain dampak fisik, keluarga menyebut anak mereka mengalami trauma dan belum sepenuhnya pulih secara psikologis.

Keluarga korban juga mengaku kecewa terhadap penanganan kasus tersebut. Mereka menilai proses mediasi yang dilakukan belum memberikan rasa keadilan maupun kepastian perlindungan bagi korban.

Menurut keluarga, sekolah sempat menyampaikan rencana menghadirkan pendamping psikolog dan membuat komitmen tertulis terkait keamanan siswa. Namun hingga kini, menurut mereka, rencana tersebut belum terealisasi.

"Kami hanya ingin ada jaminan bahwa kejadian serupa tidak terulang. Anak kami masih trauma," ujar orang tua korban.

Keluarga korban menyatakan bahwa fokus mereka tidak semata pada pemberian sanksi kepada para pelaku, melainkan pada langkah-langkah yang dapat menjamin keselamatan dan pemulihan korban.

Mereka berharap sekolah dapat memfasilitasi mediasi yang melibatkan kedua keluarga secara terbuka dan konstruktif guna mencari penyelesaian terbaik bagi seluruh pihak.

Di samping itu, keluarga meminta adanya kejelasan mengenai tanggung jawab atas biaya pengobatan dan pemulihan korban, termasuk kebutuhan medis yang mungkin masih timbul setelah tindakan operasi yang telah dijalani.

Menurut keluarga, persoalan tersebut perlu dibahas bersama melalui mekanisme mediasi yang difasilitasi sekolah.
Kepala MI Al Kautsar Juni Siswo Harijanto bersama wali kelas V.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala MI Al Kautsar Juni Siswo Harijanto mengatakan pihak sekolah telah melakukan sejumlah langkah setelah menerima laporan insiden tersebut. 

Menurut dia, sekolah telah mempertemukan pihak korban dan pelaku, mengunjungi rumah korban, serta menawarkan bantuan pengobatan.

"Kami berupaya melakukan mediasi dan pendampingan. Sekolah juga siap membantu apabila diperlukan layanan psikologis," kata Juni.

Ia mengakui terdapat kekurangan dalam aspek pengawasan saat kejadian berlangsung. Menurut dia, peristiwa tersebut terjadi pada jam istirahat ketika sebagian guru sedang mengikuti rapat internal menjelang pembagian rapor.

"Kami mengevaluasi kejadian ini sebagai bentuk kecolongan dalam pengawasan. Ke depan akan ada penambahan CCTV dan penguatan pengawasan siswa," ujarnya.

Juni menjelaskan, MI Al Kautsar saat ini memiliki 876 siswa dengan sekitar 50 tenaga pengajar dan tenaga kependidikan.

Pihak sekolah juga menyatakan telah memberikan pembinaan kepada siswa yang terlibat sesuai kewenangan lembaga pendidikan.

Juni mengatakan sekolah sempat menyerahkan bantuan tali asih senilai Rp1,5 juta kepada keluarga korban sebagai bentuk kepedulian pascakejadian.

Namun bantuan tersebut tidak diterima. Menurut dia, keluarga korban menyampaikan bahwa kebutuhan pengobatan telah ditanggung melalui BPJS.

Selain itu, pihak sekolah juga menyatakan telah memberikan sanksi pembinaan kepada para siswa yang terlibat dalam insiden tersebut.

Meski demikian, kasus ini memunculkan pertanyaan lebih luas mengenai efektivitas mekanisme pencegahan perundungan di lingkungan sekolah. (Fjr)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar