-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Dewan Kesenian Ponorogo Siapkan Sarasehan Ageng, Rumuskan Masa Depan Festival Nasional Reog

Dewan Kesenian Ponorogo menggelar forum urun rembug untuk menghimpun aspirasi pelaku seni dan menyiapkan Sarasehan Ageng Reog Ponorogo. (Foto: doc. Gardajatim.com)
GARDAJATIM.COM: Dinamika yang terus mengiringi penyelenggaraan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) mendorong Dewan Kesenian Ponorogo membuka ruang dialog bersama para pelaku seni dan pemerhati budaya.

Melalui forum urun rembug yang digelar di Ponorogo, berbagai aspirasi dihimpun sebagai bahan menyusun arah pengembangan Reog dan tata kelola festival pada masa mendatang.

Forum tersebut mempertemukan tokoh paguyuban Reog, akademisi, praktisi seni, budayawan, serta elemen masyarakat.

Dalam suasana diskusi yang terbuka, peserta menyampaikan beragam masukan, mulai dari persoalan regulasi perlombaan, petunjuk teknis yang dinilai multitafsir, hingga mekanisme penunjukan dewan juri yang dianggap perlu lebih transparan dan profesional.

Sejumlah peserta menilai persoalan yang muncul hampir selalu berulang setiap tahun. Penyampaian informasi yang berdekatan dengan waktu pelaksanaan serta ketidakjelasan sejumlah ketentuan lomba disebut kerap menimbulkan perbedaan penafsiran di kalangan peserta.

Diskusi juga menyoroti pentingnya pembagian peran antara pemerintah dan pelaku seni. Pemerintah dipandang perlu memperkuat fungsinya sebagai fasilitator yang menyediakan dukungan, ruang, dan regulasi yang sehat, sedangkan komunitas seni diharapkan menjadi mitra strategis dalam menjaga sekaligus mengembangkan warisan budaya Reog Ponorogo.

Dalam forum itu mengemuka pandangan bahwa penyelesaian persoalan tidak dapat dibebankan kepada satu pihak.

Komunikasi yang setara dan berkelanjutan antara pemerintah, pelaku seni, akademisi, dan masyarakat dinilai menjadi kunci agar setiap kebijakan lahir dari kebutuhan bersama serta mampu meminimalkan polemik.

Peserta juga mengusulkan pembentukan wadah profesional yang berfokus pada pembinaan, pelestarian, pengembangan, dan standardisasi Reog Ponorogo.

Lembaga tersebut diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi yang independen antara pemerintah dan komunitas seni.

Selain itu, perhatian diberikan pada meningkatnya beban yang harus ditanggung peserta festival, baik dari sisi biaya produksi maupun persiapan.

Karena itu, sistem penyelenggaraan dinilai perlu disusun lebih tertata dan disepakati sejak awal agar memberikan kepastian bagi seluruh pihak.
Forum turut membahas posisi FNRP sebagai identitas budaya yang telah melekat dengan Kabupaten Ponorogo.

Meski terdapat perdebatan mengenai penggunaan istilah “festival” yang dalam praktiknya banyak diisi kompetisi, peserta menilai agenda tersebut tetap memiliki kontribusi besar terhadap promosi daerah, pelestarian budaya, regenerasi pelaku seni, dan penguatan ekonomi kreatif.

Ketua Dewan Kesenian Ponorogo, Wisnu HP, yang memoderatori diskusi mengatakan forum urun rembug merupakan langkah awal untuk menghimpun berbagai pandangan dari masyarakat seni.

“Malam ini bukan akhir dari proses, melainkan awal dari ikhtiar bersama untuk membangun tata kelola Reog Ponorogo yang lebih baik. Semua aspirasi yang disampaikan akan menjadi bahan penting untuk dibawa ke ruang diskusi yang lebih besar dan lebih representatif,” ujarnya, Jumat, 19 Juni 2026.

Sebagai tindak lanjut, peserta forum sepakat mendorong penyelenggaraan Sarasehan Ageng Reog Ponorogo dalam waktu dekat.

Agenda tersebut direncanakan melibatkan seluruh perwakilan grup Reog di Ponorogo bersama unsur pemerintah, budayawan, akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Melalui sarasehan itu, diharapkan lahir rekomendasi strategis mengenai pelestarian, pengembangan, regulasi, dan tata kelola Festival Nasional Reog Ponorogo.

Dewan Kesenian Ponorogo berharap forum yang lebih luas tersebut dapat menjadi momentum memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan sekaligus menjaga marwah Reog Ponorogo sebagai warisan budaya yang terus hidup dan berkembang.

Menutup forum malam itu, Wisnu HP mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus membangun ruang komunikasi yang sehat demi masa depan Reog Ponorogo.

"Mari kita duduk bersama, berpikir bersama, dan bergerak bersama. Reog Ponorogo akan tetap besar apabila seluruh elemennya merasa memiliki, saling menghargai, dan memiliki tujuan yang sama untuk menjaga marwah budaya warisan leluhur," pungkasnya. (*)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar