Garudo Djoyo Manggolo: Ikhtiar Mengembalikan Ruh Reog Ponorogo di Tengah Gemerlap Panggung
Redaksi
... menit baca
![]() |
| Kepala Sekolah Rakyat Ponorogo (SRP), Devit Tri Candrawati. |
Sejak usia 10 tahun, suara kendang, gemuruh gong, hingga lengking slompret menjadi bagian dari hidupnya.
Ketua Dewan Kesenian Ponorogo itu menyaksikan sendiri bagaimana Reog tumbuh, dari panggung desa hingga pentas internasional.
Puncak kebanggaan itu hadir ketika pada 2024, UNESCO resmi mengakui Reog Ponorogo sebagai warisan budaya dunia. Namun di balik euforia itu, Wisnu justru menyimpan kegelisahan.
“Pertunjukan semakin megah, spektakuler, bahkan modern. Tapi di sisi lain, rasa dan ruh Reog perlahan mulai memudar,” ujar Wisnu, Rabu, 3 Juni 2026.
Sebagai kesenian rakyat, Reog memang tak pernah berhenti berubah. Ia hidup dari tafsir generasi ke generasi.
Namun bagi Wisnu, perubahan itu kerap melampaui akar cerita yang menjadi sumber inspirasinya.
Dalam pakem Bantarangin, Reog bertutur tentang perjalanan Raja Klono Sewandono mempersunting Dewi Songgolangit, dengan syarat yang tak biasa: 144 kuda kembar, iringan musik otentik, dan sosok berkepala dua.
Kisah itu juga menghadirkan tokoh-tokoh penting seperti Patih Pujangga Anom atau Bujangganong, serta Singobarong sebagai kekuatan antagonis.
Namun dalam perkembangan pertunjukan, narasi tersebut kian jarang ditampilkan secara utuh.
![]() |
| Wisnu HP, Ketua Dewan Kesenian Ponorogo. |
Elemen-elemen cerita mulai bergeser, digantikan dengan interpretasi yang lebih populer seperti dominasi penari jathil dan warok sebagai representasi sosial masyarakat.
“Bukan berarti salah. Seni memang akan selalu berkembang. Tapi pertanyaannya, apakah garapan itu masih berada dalam rasa dan ruh cerita awal?” kata Wisnu.
Kegelisahan itulah yang mendorongnya “turun gunung”. Bersama Sekolah Rakyat Ponorogo, ia membentuk grup Reog Garudo Djoyo Manggolo.
Kelompok ini menjadi ruang untuk meramu ulang ingatan, menyusun kembali rasa, dan mencoba mengembalikan tafsir Reog pada sumber inspirasinya.
Melalui kelompok tersebut, Wisnu ingin menghadirkan kembali napas cerita yang diyakini mulai terpinggirkan oleh tuntutan estetika panggung modern, khususnya dalam ajang lomba Reog nasional.
Kepala Sekolah Rakyat Ponorogo (SRP), Devit Tri Candrawati, menyebut langkah ini sejalan dengan pesan Prabowo Subianto tentang pentingnya menjaga warisan budaya.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai budaya leluhurnya. Reyog bukan hanya seni, tetapi identitas. Kami ingin anak-anak ini tumbuh dengan kebanggaan itu,” ujar Devit.
![]() |
| Latihan intensif Garudo Djoyo Manggolo di Ponorogo. |
Bagi mereka, pengakuan dunia bukanlah garis akhir. Reog yang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda justru menghadapi tantangan baru: bagaimana tetap relevan tanpa kehilangan jati diri.
Ponorogo, tempat lahirnya Reog, selama ini menjadi ruang hidup yang menjaga tradisi tetap bernapas dalam keseharian.
Namun modernisasi panggung, terutama dalam kompetisi, dinilai berpotensi menggeser orientasi dari nilai menjadi visual.
Melalui Garudo Djoyo Manggolo, Wisnu dan timnya memilih jalan berbeda. Mereka tidak sekadar tampil, tetapi membawa misi: mengingatkan kembali bagaimana Reog seharusnya dituturkan.
“Ibarat garudo mumbul duwur miber ngideri jagad, nanging ora ilang jatidirine,” ujar Wisnu. Garuda boleh terbang tinggi mengelilingi dunia, tetapi tidak pernah kehilangan jati dirinya.
Kelompok ini dijadwalkan tampil dalam Lomba Reog Nasional Ponorogo 2026. Bagi mereka, panggung itu bukan sekadar kompetisi, melainkan upaya menjaga agar akar budaya tetap mencengkeram kuat di tengah perubahan zaman. (Fjr)
Sebelumnya
...
Berikutnya
...


