-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Jaga Marwah FNRP, Heru Sangoko Tekankan Integritas dan Profesionalitas Festival

Sugiri Heru Sangoko mendorong evaluasi FNRP demi menjaga marwah Reog Ponorogo. (Foto: doc. Gardajatim.com)
GARDAJATIM.COM: Polemik yang mengiringi pelaksanaan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI Tahun 2026 dinilai perlu disikapi secara bijak sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat tata kelola festival di masa mendatang.

Hal itu disampaikan Sugiri Heru Sangoko, pembina grup reog Kencana Dewi dan Purbaya, yang menekankan pentingnya menjaga integritas dan profesionalitas FNRP sebagai ajang budaya terbesar di Ponorogo.

Menurut Heru, FNRP bukan sekadar kompetisi untuk menentukan kelompok reog terbaik, melainkan ruang bersama untuk menjaga, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai budaya reog kepada generasi berikutnya.

Karena itu, seluruh proses penyelenggaraan festival harus mampu menjaga kepercayaan publik.

"Yang terpenting adalah bagaimana marwah FNRP tetap terjaga. Festival ini menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo dan para pelaku seni reog di seluruh Indonesia," ujar Heru, Kamis, 18 Juni 2026.

Ketua KONI Ponorogo itu menilai setiap peserta yang tampil telah memberikan kemampuan terbaiknya.

Menang dan kalah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah kompetisi. Namun demikian, proses penyelenggaraan harus mampu menghadirkan rasa keadilan dan keterbukaan bagi seluruh pihak.

Heru mengaku masih memiliki sejumlah pertanyaan terkait beberapa aspek dalam pelaksanaan festival tahun ini, termasuk mengenai peran dewan pengamat serta mekanisme yang diterapkan selama proses penilaian berlangsung.

Menurut dia, keberadaan dewan pengamat seharusnya menjadi instrumen penting untuk memastikan kualitas festival sekaligus memberikan pandangan objektif terhadap seluruh penampilan peserta.

"Semua bisa melihat dan mengamati siapa yang terbaik. Kalah menang itu hal biasa. Yang penting bagaimana prosesnya bisa dipahami bersama dan menumbuhkan kepercayaan publik," katanya.

Heru juga menyoroti keikutsertaan grup reog yang mengatasnamakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur dalam ajang kompetisi.

Menurutnya, hal tersebut perlu menjadi bahan evaluasi agar ke depan tidak menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat maupun pelaku seni.

Ia menilai setiap pihak yang terlibat dalam pembinaan kesenian memiliki peran strategis dalam menjaga ekosistem budaya. Karena itu, diperlukan kejelasan batas peran agar tidak menimbulkan pertanyaan di kemudian hari.

Meski menyampaikan sejumlah catatan, Heru menegaskan kritik yang disampaikannya bukan ditujukan untuk mendiskreditkan pihak tertentu maupun mempersoalkan hasil kompetisi.

Sebaliknya, ia berharap berbagai masukan dapat menjadi bahan perbaikan bagi penyelenggaraan FNRP berikutnya.

Menurutnya, semakin besar sebuah festival budaya, semakin tinggi pula tuntutan publik terhadap transparansi, profesionalitas, dan akuntabilitas penyelenggara.

"FNRP sudah menjadi ikon budaya nasional. Karena itu semua pihak harus bersama-sama menjaganya. Evaluasi diperlukan agar ke depan festival ini semakin baik, semakin profesional, dan semakin dipercaya masyarakat," ujarnya.

Heru berharap semangat pelestarian budaya reog tetap menjadi tujuan utama penyelenggaraan festival.

Dengan menjaga integritas seluruh unsur yang terlibat, mulai dari peserta, panitia, dewan pengamat, hingga dewan juri, FNRP diyakini akan terus menjadi panggung budaya yang membanggakan Ponorogo sekaligus memperkuat posisi reog di tingkat nasional maupun internasional. (Fjr)

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar