-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Jelang Pilkades 2027, Warga Mulai Soroti Arah Pembangunan Desa di Ponorogo

Purwanto (kiri) dan Wasono (kanan) tokoh masyarakat. (Foto: Istimewa)
GARDAJATIM.COM: Meski Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Ponorogo masih akan digelar pada 2027, ruang-ruang diskusi di tengah masyarakat mulai dipenuhi pembahasan mengenai arah pembangunan desa yang dinilai perlu diperbaiki.

Harapan warga tak lagi sebatas mencari sosok pemimpin baru, tetapi juga memastikan siapa pun yang terpilih nantinya memiliki visi yang jelas.

Di Desa Kunti, Kecamatan Sampung, misalnya, pembicaraan publik lebih banyak mengarah pada evaluasi pembangunan yang selama ini dinilai belum mampu mengoptimalkan potensi desa.

Tokoh masyarakat setempat, Purwanto atau yang akrab disapa Gapung, menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

"Pembangunan ada, namun melihat potensi besar di desa, pembangunan belum maksimal dan terlaksana dengan baik," ujar Gapung, Jumat, 26 Juni 2026.

Menurutnya, pembenahan tata kelola aset desa menjadi salah satu kebutuhan mendesak. Aset seperti pasar desa dinilai belum memberikan kontribusi optimal terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes), sementara pengembangan UMKM juga belum menjadi prioritas yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Selain aspek ekonomi, ia juga menyoroti kebutuhan pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik, termasuk jalan desa, lapangan desa, hingga ruang aktivitas bagi generasi muda.

"Harus ada inovasi terkait pemberdayaan lokal desa dengan langkah konkret untuk meningkatkan pendapatan desa dan masyarakat," tegasnya.

Sementara itu, dinamika serupa juga terlihat di Desa Belang, Kecamatan Bungkal. Perbincangan masyarakat tidak hanya mengarah pada siapa yang layak memimpin, tetapi juga bagaimana kepala desa nantinya mampu menerjemahkan aspirasi warga menjadi program pembangunan yang terukur.

Tokoh masyarakat Wasono atau Plontho menilai pembangunan desa merupakan tanggung jawab bersama, sehingga partisipasi masyarakat tidak boleh berhenti hanya pada momentum Pilkades.

"Ya, intinya membangun desa tidak harus jadi kepala desa, tapi kepala desa harus punya orientasi dan mimpi besar tentang pembangunan masyarakat dan desa," katanya.

Saat disinggung mengenai peluang dirinya maju dalam Pilkades, Wasono memilih tidak memberikan kepastian.

Ia menyebut masih akan melihat perkembangan aspirasi masyarakat sebelum mengambil keputusan.

Fenomena yang berkembang di Desa Kunti maupun Desa Belang menunjukkan bahwa menjelang Pilkades 2027, masyarakat mulai menggeser fokus dari sekadar mencari figur menuju pembahasan substansi pembangunan.

Isu tata kelola aset, pemberdayaan ekonomi lokal, transparansi pemerintahan desa, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik diperkirakan akan menjadi tema utama yang mengiringi kontestasi Pilkades mendatang. (Tim/Fjr)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar