-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Jejak Tegalsari yang Tak Putus: Saat Keraton Cirebon Menyusuri Ulang Simpul Sejarah Jawa

Pangeran Raja Goemelar bersama dzuriyah Tegalsari di Ndalem Ageng Kyai Ageng Muhammad Besari. (Foto: Istimewa)
GARDAJATIM.COM: Di tengah arus modernisasi yang kian menjauhkan generasi muda dari akar sejarah, kawasan Tegalsari di Kabupaten Ponorogo kembali menunjukkan posisinya sebagai salah satu simpul penting peradaban Islam Jawa.

Hal itu tampak saat Gusti Patih Sepuh XV Keraton Kasepuhan Cirebon, Pangeran Raja Goemelar Soeriadiningrat, berziarah ke kompleks peninggalan Kyai Ageng Muhammad Besari di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ahad, 21 Juni 2026.

Kunjungan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai tradisi ziarah. Lebih dari itu, perjalanan dari Cirebon ke Ponorogo memperlihatkan bahwa jejaring sejarah yang pernah dibangun para ulama dan bangsawan Nusantara masih menyisakan ikatan hingga sekarang.

Tegalsari dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam berpengaruh di Jawa pada masanya. Dari kawasan inilah lahir tradisi keilmuan yang menjangkau berbagai daerah, termasuk lingkungan keraton dan pusat-pusat kekuasaan di Nusantara.

Dalam kunjungannya, rombongan Keraton Kasepuhan Cirebon menelusuri sejumlah situs bersejarah, mulai dari makam Kyai Ageng Muhammad Besari, Masjid Jami Tegalsari, hingga Ndalem Ageng yang menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah pesantren tersebut.

Pangeran Raja Goemelar Soeriadiningrat mengatakan kunjungan itu dilakukan untuk menjaga hubungan yang telah diwariskan para pendahulu.

“Kami datang ke Tegalsari untuk mengenang sekaligus menyambung kembali jejak hubungan keluarga yang telah terjalin sejak lama,” ujarnya.

Pernyataan itu menguatkan fakta bahwa hubungan antara pusat-pusat kebudayaan Islam di Jawa tidak hanya dibangun melalui jalur politik dan pemerintahan, tetapi juga melalui jaringan keluarga, pendidikan, dan dakwah.

Bagi keluarga besar dzuriyah Tegalsari, kehadiran rombongan Keraton Kasepuhan Cirebon menjadi penanda bahwa warisan sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu. Hubungan yang telah berlangsung lintas generasi itu masih terus dirawat melalui silaturahmi dan ziarah.

Kunto Pramono, perwakilan keluarga besar dzuriyah Tegalsari, menilai pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran bersama akan pentingnya menjaga warisan sejarah dan budaya.

Di tengah semakin berkurangnya perhatian terhadap situs-situs sejarah lokal, kunjungan seperti ini menunjukkan bahwa Tegalsari masih memiliki daya tarik sebagai ruang pertemuan memori kolektif.

Bukan hanya bagi masyarakat Ponorogo, tetapi juga bagi keluarga-keluarga besar yang memiliki keterkaitan historis dengan perkembangan Islam dan kebudayaan Jawa.

Dari Tegalsari, tersirat pesan bahwa sejarah tidak selalu hidup melalui buku dan arsip. Ia juga bertahan melalui langkah-langkah kecil yang terus menghubungkan generasi hari ini dengan jejak para pendahulunya. ***


Editor: Redaksi
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar