-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Serangan OPT Bisa Turunkan Mutu Tembakau, Ini Langkah yang Didorong Atika Banowati

Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur, Hj. Atika Banowati, S.H., membuka sosialisasi antisipasi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) bagi petani tembakau di Ponorogo. (Foto: Dok. Gardajatim.com)
GARDAJATIM.COM: Serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) tidak hanya mengancam hasil panen, tetapi juga berpotensi menurunkan mutu daun tembakau yang menjadi penentu nilai jual di tingkat petani.

Kondisi tersebut mendorong perlunya langkah pencegahan sejak dini melalui penerapan budidaya yang tepat dan pengendalian hama secara terpadu.

Persoalan itu menjadi fokus dalam sosialisasi antisipasi serangan OPT yang digelar Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi Partai Golkar, Hj. Atika Banowati, S.H., bekerja sama dengan Subdinas Perkebunan di Maesa Hotel Ponorogo, Jumat (24/7/2026).

Kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan petani dalam menghadapi ancaman hama dan penyakit tanaman sekaligus mendorong penerapan teknologi budidaya yang lebih modern.

Atika Banowati mengatakan, sosialisasi tersebut merupakan bagian dari program Komisi D DPRD Jawa Timur untuk memperkuat kapasitas petani tembakau agar mampu mengantisipasi serangan OPT sebelum menimbulkan kerugian.

"Sosialisasi ini salah satu program DPRD D Jatim. Petani agar lebih paham dan lebih bisa mengantisipasi tanaman, agar masyarakat lebih berhasil berbudi daya tembakau," kata Atika.

Menurut dia, kolaborasi dengan Subdinas Perkebunan dilakukan agar petani memiliki bekal pengetahuan dalam mengenali sekaligus mengatasi serangan hama pada tanaman tembakau.

"Iya intinya saya bekerja sama dgn subdin perkebunan dengan membekali petani tembakau agar bila petani tembakau bisa mengerti dan mengatasi bila tanaman tembakau nya diserang hama," ujarnya.

Selain pengendalian hama, sosialisasi juga mengangkat pentingnya mekanisasi pertanian sebagai solusi atas semakin terbatasnya tenaga kerja di sektor budidaya tembakau.

Pemateri M. Tunggul Swastiko menjelaskan, mekanisasi telah menjadi kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga konsistensi kualitas tembakau.

Indonesia, kata dia, memiliki sekitar 689 ribu petani tembakau dengan produksi rata-rata 247 ribu ton per tahun. Jawa Timur menjadi sentra terbesar dengan luas areal lebih dari 115 ribu hektare, atau lebih dari separuh luas tanam tembakau nasional.

"Mekanisasi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja, meningkatkan efisiensi, dan menghasilkan tembakau dengan kualitas yang konsisten sesuai kebutuhan industri," ujar Tunggul.

Ia menjelaskan, penggunaan alat modern mampu memangkas waktu pengolahan lahan hingga sekitar 60 persen dibandingkan metode manual.

Selain itu, penerapan pro-tray system dan irigasi otomatis dinilai mampu menghasilkan bibit yang lebih seragam serta menekan kematian tanaman saat pindah tanam hingga 80 persen.

"Mekanisasi harus dibarengi penerapan budidaya yang baik, mulai dari penggunaan bibit sehat, pemupukan berimbang, hingga pengendalian hama terpadu agar produktivitas dan kualitas tembakau terus meningkat," katanya.
Dalam sesi lain, pemateri Didik Darmanto menegaskan bahwa Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan pendekatan paling efektif untuk menekan serangan OPT tanpa merusak keseimbangan lingkungan.

Menurut Didik, PHT mengombinasikan berbagai metode pengendalian, mulai dari pemanfaatan musuh alami, sanitasi lahan, pergiliran tanaman, penggunaan agen hayati, hingga pestisida kimia yang hanya diaplikasikan ketika populasi hama telah melampaui ambang ekonomi.

"Pengendalian hama tidak bisa hanya mengandalkan pestisida. PHT mengutamakan pencegahan, pemanfaatan musuh alami, dan penggunaan pestisida secara bijak agar tanaman tetap produktif sekaligus menjaga kelestarian lingkungan," ujarnya.

Didik mengingatkan petani untuk mewaspadai sejumlah hama utama seperti ulat grayak (Spodoptera litura), ulat tanah (Agrotis ipsilon), kutu daun, dan kutu kebul.

Kutu daun juga berperan sebagai vektor penyebaran Cucumber Mosaic Virus (CMV) yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan menurunkan mutu daun tembakau.

Selain itu, penyakit batang berlubang akibat bakteri Erwinia carotovora serta penyakit mosaik ketimun (CMV) juga perlu diantisipasi melalui penggunaan bibit sehat, sanitasi lahan, pengendalian gulma, perbaikan drainase, dan rotasi tanaman.

"Deteksi dini dan pengendalian sejak awal menjadi kunci agar serangan hama maupun penyakit tidak berkembang dan menimbulkan kerugian ekonomi bagi petani," kata Didik.

Melalui sosialisasi tersebut, Atika Banowati berharap petani tidak hanya memahami teknik pengendalian OPT, tetapi juga mulai menerapkan mekanisasi dan budidaya modern agar produktivitas, kualitas hasil panen, serta daya saing tembakau Jawa Timur terus meningkat di tengah berbagai tantangan sektor pertanian.


Penulis: Fajar
Editor: Redaksi
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar