-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Pertamina Genjot B50, Lifting Perdana Dimulai dari Dua Kilang

Pertamina Patra Niaga memulai lifting perdana Biosolar B50 dari Kilang Kasim dan Plaju sebagai langkah awal mendukung swasembada energi nasional.
B50 terus diuji di berbagai sektor untuk memastikan performa, ketahanan, da
keandalannya dalam mendukung kebutuhan operasional masyarakat. (Foto: Ig/@pertaminapatraniaga)
GARDAJATIM.COM: Pemerintah mulai merealisasikan implementasi Biosolar 50 (B50), bahan bakar yang terdiri atas campuran 50 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis minyak kelapa sawit dan 50 persen minyak solar.

Setelah diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026 sebagai bagian dari agenda swasembada energi nasional, PT Pertamina Patra Niaga kini memulai distribusi perdana B50 melalui dua kilang sebagai tahap awal pelaksanaan program tersebut.

PT Pertamina Patra Niaga mencatat dua kali lifting atau pengiriman perdana B50. Pengiriman pertama dilakukan dari Kilang Kasim pada 18 Juli 2026, disusul Kilang Plaju pada 22 Juli 2026.

Langkah ini menjadi fase awal implementasi kebijakan pemerintah yang menargetkan peningkatan pemanfaatan bahan bakar berbasis energi terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor solar.

Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan lifting perdana tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya di sektor ketahanan energi.

"Lifting perdana B50 oleh Kilang Kasim dan Kilang Plaju merupakan salah satu milestone penting yang menandai langkah nyata Pertamina Patra Niaga dalam memperkuat kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan energi nasional khususnya melalui implementasi B50 yang dicanangkan pemerintah," ujar Kitty.

Pada pengiriman perdana itu, Kilang Kasim menyalurkan 4.600 kiloliter (KL) B50 ke MT Krasak, sedangkan Kilang Plaju mengirimkan 8.230 KL B50 ke Integrated Terminal (IT) Palembang.

Selanjutnya, B50 akan didistribusikan ke sejumlah SPBU di wilayah Indonesia Barat maupun Indonesia Timur agar dapat digunakan masyarakat secara lebih luas.

Menurut Kitty, implementasi B50 didahului dengan serangkaian persiapan teknis untuk memastikan mutu produk dan keandalan distribusi tetap terjaga.

Persiapan tersebut mencakup kesiapan fasilitas dan infrastruktur, pengendalian kualitas produk, hingga penerapan aspek keselamatan dalam seluruh rantai pasok.

Ia menjelaskan, proses pencampuran atau blending antara solar dan FAME dilakukan secara bertahap dengan standar operasional yang telah ditetapkan.

Tahapan itu bertujuan memastikan komposisi campuran memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan.

Setelah proses blending selesai, produk B50 diuji di laboratorium untuk memastikan kesesuaiannya dengan standar mutu sesuai ketentuan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Setelah dinyatakan memenuhi spesifikasi, B50 kemudian disalurkan ke Fuel Terminal sebelum didistribusikan ke SPBU.

Pertamina Patra Niaga menilai implementasi B50 tidak hanya ditujukan untuk memperluas pemanfaatan energi berbasis nabati, tetapi juga diharapkan memberi dampak ekonomi yang lebih luas.

Menurut Kitty, peningkatan penggunaan B50 berpotensi mengurangi kebutuhan impor solar sehingga dapat membantu penghematan devisa negara.

"Program ini juga diharapkan mampu berkontribusi untuk pengurangan emisi gas rumah kaca, serta menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak," kata Kitty. (Ppn/Red)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar