Sugeng Srikandi Dorong Cawabup Ponorogo dari Nonpartai
Redaksi Garda Jatim
... menit baca
![]() |
| H. Sugeng Hariono, S.T. (Foto: Istimewa) |
Menurut dia, figur yang akan mengisi posisi wakil bupati tidak harus berasal dari partai politik, melainkan dapat berasal dari kalangan nonpartai yang memiliki integritas, kapasitas, dan legitimasi di tengah masyarakat.
Wacana tersebut muncul ketika dinamika politik di Ponorogo mulai bergerak menyusul proses hukum yang masih dijalani Bupati Ponorogo nonaktif Sugiri Sancoko di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya.
Meski perkara tersebut belum berkekuatan hukum tetap (inkrah), sejumlah nama mulai bermunculan dalam bursa calon wakil bupati.
Pada Pilkada 2024, pasangan Sugiri Sancoko-Lisdyarita (RILIS) didukung koalisi besar yang terdiri atas PDI Perjuangan, PKB, Partai Demokrat, Partai Golkar, PKS, PPP, dan Partai Gerindra.
Dominasi tujuh partai tersebut membuat peluang pengisian jabatan wakil bupati berpotensi menjadi arena negosiasi politik yang melibatkan banyak kepentingan.
Di tengah kalkulasi politik itu, Sugeng justru mengusulkan agar perhatian tidak hanya tertuju pada kader partai, melainkan juga membuka ruang bagi figur-figur nonpartai yang dinilai memiliki kapasitas memimpin.
"Calon wakil bupati tidak harus berasal dari partai politik," kata Sugeng, Rabu (29/7/2026).
Ia berpandangan, Ponorogo memiliki banyak tokoh masyarakat yang selama ini berkontribusi bagi daerah meski tidak berafiliasi dengan partai politik.
Menurut dia, figur semacam itu dapat menjadi alternatif untuk menghadirkan keseimbangan dalam tata kelola pemerintahan.
Di sisi lain, Sugeng juga menyoroti mulai ramainya pihak-pihak yang mengusulkan nama calon wakil bupati. Ia mengingatkan agar proses tersebut tidak mengabaikan loyalitas dan rekam jejak perjuangan saat Pilkada 2024.
"Saya tahu betul siapa yang benar-benar berjuang. Siapa yang mati-matian mengantarkan pasangan ini menang," ujarnya.
Menurut Sugeng, ketika tim pemenangan bekerja memenangkan pasangan RILIS, tidak semua pihak hadir memberikan dukungan. Bahkan, ia mengaku mengetahui ada pihak yang justru melemahkan perjuangan tim.
Karena itu, ia menyindir fenomena yang kerap muncul setelah kontestasi politik usai melalui ungkapan Jawa, "Sepi ing gawe, rame ing pamrih," yang menggambarkan orang-orang yang tidak ikut bekerja ketika perjuangan berlangsung, tetapi muncul ketika ada peluang memperoleh jabatan.
Meski namanya turut diperbincangkan dalam bursa calon wakil bupati, Sugeng memastikan dirinya tidak memiliki keinginan untuk maju.
Ia menegaskan, pandangannya semata-mata didorong oleh keinginan agar figur yang nantinya dipilih benar-benar memiliki integritas, rekam jejak, dan komitmen membangun Ponorogo.
Usulan menghadirkan figur nonpartai diperkirakan akan menambah dinamika dalam pembahasan calon wakil bupati.
Di satu sisi, partai politik tetap memiliki peran strategis dalam mekanisme pengusulan kandidat.
Namun di sisi lain, menguatnya aspirasi agar figur yang dipilih memiliki legitimasi moral, rekam jejak pengabdian, dan diterima lintas kelompok masyarakat menunjukkan bahwa pertimbangan publik tidak lagi semata bertumpu pada identitas politik, melainkan juga pada kualitas kepemimpinan. (Fjr/Red)
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
