-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
🇮🇩DIRGAHAYU KE-81 REPUBLIK INDONESIA🇮🇩

Atika Banowati Dorong Sinergi Golkar Kawal Masa Depan Reyog Ponorogo

Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur dari Fraksi Partai Golkar Dapil IX, Hj. Atika Banowati bersama Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Ponorogo sekaligus anggota DPRD Kabupaten Ponorogo dari Dapil IV, Eko Priyo Utomo. (Foto: Fajar/Gardajatim.com)
GARDAJATIM.COM: Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur dari Fraksi Partai Golkar Dapil IX, Hj. Atika Banowati, S.H., mendorong penguatan eksistensi Yayasan Reyog Ponorogo agar kesenian tradisional tersebut tetap bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Hal itu disampaikan Atika saat menggelar sosialisasi bertajuk “Membaca Eksistensi Yayasan Reyog Ponorogo Kini dan Masa Depan” di Pawon Dengok, Ponorogo, Jumat, 28 Agustus 2026.

Komitmen itu terlihat dalam sosialisasi bertajuk “Membaca Eksistensi Yayasan Reyog Ponorogo Kini dan Masa Depan” yang digelar di Pawon Dengok, Ponorogo, Jumat (28/8/2026).

Forum tersebut mempertemukan pengurus Yayasan Reyog Ponorogo, koordinator Reyog kecamatan se-Kabupaten Ponorogo, serta sejumlah tokoh Reyog.

Atika memanfaatkan forum tersebut untuk membangun komunikasi sekaligus menyatukan komitmen berbagai unsur Reyog dalam menjaga keberlanjutan kesenian tradisional Ponorogo.

“Yang hadir di sini adalah pengurus Yayasan Reyog, koordinator Reyog kecamatan se-Kabupaten Ponorogo serta tokoh-tokoh Reyog Ponorogo. Kami ingin menyatukan hati dan tekad untuk nguri-uri agar Reyog tetap eksis di era globalisasi,” kata Atika.

Atika: Reyog adalah Kecintaan dan Kebanggaan Ponorogo

Atika menilai keberadaan Reyog perlu terus diperkuat melalui keterlibatan masyarakat. Pemahaman terhadap kesenian tersebut menjadi modal penting agar generasi mendatang tetap mengenal dan mencintai Reyog.

Karena itu, sosialisasi tidak hanya melibatkan tokoh dan pengurus Reyog, tetapi juga masyarakat yang selama ini menjadi pegiat maupun pecinta kesenian tersebut.

Para peserta mendapatkan pembekalan dari sejumlah narasumber untuk memperkuat pemahaman mengenai nilai, keberadaan, serta tantangan yang dihadapi Reyog Ponorogo.

“Keseniannya Reyog adalah kecintaan dan kebanggaan kita. Kita lakukan sosialisasi dengan menghadirkan masyarakat pegiat dan pecinta kesenian Reyog,” ujar Atika.

Menurut Atika, menjaga Reyog di tengah era globalisasi membutuhkan komitmen bersama. Pemerintah, masyarakat, pegiat seni, tokoh Reyog dan berbagai elemen lainnya memiliki ruang untuk mengambil peran.

Dedy Soroti Persoalan Regenerasi Seniman

Salah satu narasumber dalam forum tersebut, Dedy Satya Amijaya, memaparkan sejumlah persoalan yang dihadapi Reyog Ponorogo. Salah satu tantangan yang dinilai mendesak adalah regenerasi seniman.

Dedy menegaskan, Reyog tidak bisa dilihat hanya sebagai sebuah pertunjukan tari. Di dalamnya terdapat ekosistem budaya yang melibatkan banyak unsur, mulai dari penari, pengrawit, warok, pengrajin, sanggar, komunitas, pemerintah hingga generasi muda.

“Reyog Ponorogo bukan sekadar pertunjukan tari. Ia merupakan ekosistem budaya yang melibatkan banyak stakeholder,” kata Dedy dalam pemaparannya.

Menurut Dedy, profesi sebagai seniman tradisional belum selalu memberikan kepastian ekonomi. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menarik sekaligus mempertahankan keterlibatan generasi muda.

Di sisi lain, perubahan selera hiburan, dominasi budaya populer dan perkembangan media digital turut memengaruhi pola keterlibatan anak muda terhadap Reyog.

Dedy mengingatkan agar regenerasi tidak berhenti sebatas keikutsertaan dalam festival.

“Regenerasi ideal seharusnya mencakup belajar, berlatih, tampil, memahami filosofi, memperoleh penghasilan menjadi pelatih, kemudian mencetak generasi berikutnya,” ujarnya.

Pengakuan UNESCO Bawa Tanggung Jawab Baru

Menurut Dedy, pengakuan UNESCO terhadap Reyog Ponorogo tidak boleh berhenti sebagai sebuah pencapaian. Status tersebut justru membawa tanggung jawab baru untuk memastikan keberlanjutan ekosistem Reyog.

Karena itu, diperlukan rencana perlindungan yang konkret dengan dukungan anggaran dan sumber daya dari berbagai skema, termasuk APBN, APBD, Dana Desa, hibah maupun CSR sesuai ketentuan.

Ukuran keberhasilan program pelestarian juga perlu ditentukan secara jelas. Di antaranya melalui jumlah praktisi, frekuensi praktik, visibilitas serta tingkat regenerasi antargenerasi.

Dokumentasi audio visual, arsip, transkripsi dan deskripsi praktik Reyog juga dinilai perlu dilakukan secara berkala.

Selain itu, database pelaku utama Reyog, kelompok komunitas serta lokasi praktik perlu disusun dan diperbarui. Data tersebut dinilai penting sebagai dasar penyusunan dan evaluasi program pelestarian.

Dedy Dorong Lembaga Khusus Reyog

Persoalan kelembagaan menjadi salah satu poin penting yang mengemuka dalam forum.

Dedy menilai Reyog membutuhkan sebuah lembaga yang dapat menjadi rumah bagi seluruh ekosistem kesenian tersebut, mulai dari seniman, komunitas, pengrajin hingga para pemangku kepentingan lainnya.

Ia menganalogikan kebutuhan tersebut dengan sepak bola yang memiliki PSSI dan pencak silat yang memiliki IPSI.

“Untuk Reyog Ponorogo kita juga mesti segera menunjuk atau membentuk sebuah lembaga semacam itu,” tegasnya.

Menurut Dedy, lembaga tersebut nantinya tidak cukup hanya menjalankan fungsi administratif. Lebih dari itu, lembaga harus mampu mengoordinasikan berbagai kepentingan Reyog, memperkuat regenerasi serta mengawal program pelestarian secara berkelanjutan.

Bahan Baku hingga Keberlanjutan Festival

Persoalan lain yang turut dibahas adalah legalitas dan pengalihan bahan baku kulit harimau serta penangkaran burung merak.

Regenerasi pembarong, pengendang, penyelompret serta penata atau komposer musik Reyog juga dinilai membutuhkan perhatian serius.

Dari sisi pertunjukan, keberadaan Festival Nasional Reyog Ponorogo (FNRP) dan Reyog Obyog perlu terus dijaga.

Dedy juga mendorong pengembangan festival Reyog Ponorogo menuju skala internasional serta mengaktifkan kembali forum rembug budaya melalui Jagongan Reyog.

Menurutnya, perubahan bentuk pertunjukan bukan persoalan sepanjang identitas Reyog tetap terjaga.

“Perubahan tidak selalu buruk. Budaya yang tidak pernah berubah justru bisa kehilangan kemampuan beradaptasi. Persoalannya adalah menentukan batas: mana yang merupakan inovasi dan mana yang sudah menghilangkan identitas,” jelasnya.

Pelestarian Reyog Harus Masuk Kebijakan Daerah

Dedy merekomendasikan agar pelestarian Reyog tidak hanya berorientasi pada pelaporan kepada UNESCO setiap tiga tahun.

Menurutnya, keberlanjutan Reyog harus menjadi bagian dari prioritas pembangunan daerah dan dituangkan dalam regulasi, baik melalui peraturan daerah maupun peraturan bupati.

“Upaya menjaga ekosistem Seni Reyog Ponorogo ini tidak hanya berfokus pada pelaporan untuk UNESCO, namun harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan daerah,” demikian rekomendasi yang disampaikan.

Pelibatan komunitas juga dinilai penting, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan program.

Masyarakat pecinta Reyog perlu diberi ruang untuk ikut mengawal program secara transparan, jujur dan akuntabel.

Sinergi Golkar Diarahkan untuk Kepentingan Masyarakat

Pesan mengenai penguatan sinergi juga ditegaskan Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Ponorogo sekaligus anggota DPRD Kabupaten Ponorogo dari Dapil IV, Eko Priyo Utomo.

Eko mengatakan Partai Golkar terus membangun sinergi mulai dari tingkat pusat, provinsi hingga kabupaten untuk mengawal berbagai program yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.

“Sinergitas di Partai Golkar mulai pusat, provinsi hingga kabupaten untuk terus mengawal program-program untuk kepentingan masyarakat,” kata Eko.

Menurutnya, keterhubungan antarstruktur menjadi penting agar program dan aspirasi masyarakat dapat dikawal secara berkesinambungan.

Bagi Atika, penguatan sinergi tersebut juga membuka ruang lebih luas bagi daerah untuk mengangkat potensi lokal, termasuk Reyog sebagai salah satu identitas budaya Ponorogo.

Melalui komunikasi, kolaborasi dan keterlibatan masyarakat, Atika mendorong agar Reyog tidak sekadar dipertahankan sebagai warisan budaya.

Lebih dari itu, Reyog harus terus berkembang, memiliki ekosistem yang kuat, mampu memberi ruang bagi generasi muda dan tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar