Kades Kunti Bantah Dugaan Penganiayaan dan Tudingan Utang, Ini Penjelasannya
Redaksi Garda Jatim
... menit baca
![]() |
| Foto: Ilustrasi generated Ai. |
Ia membantah melakukan penganiayaan dan menyatakan tindakan yang terjadi saat itu merupakan upaya membela diri.
Dalam keterangannya, Kartono mengatakan tidak pernah memiliki janji untuk bertemu dengan pelapor Wiji Lestari.
Menurut dia, peristiwa bermula saat dirinya mengendarai kendaraan dan mengaku dicegat oleh Wiji Lestari.
Ia mengaku kemudian mengarahkan kendaraannya ke kawasan galian Gunung Pegat untuk menghindari keributan di jalan raya sekaligus menanyakan persoalan yang menjadi pemicu perselisihan.
"Saya dicegat di jalan dan terus diikuti. Akhirnya saya masuk ke area Gunung Pegat untuk menanyakan sebenarnya ada masalah apa," ujarnya saat dihubungi gardajatim.com, Minggu, 2 Agustus 2026.
Menurut dia, di lokasi tersebut Wiji Lestari sempat berupaya melakukan tindakan fisik. Ia mengaku hanya berusaha menahan tangan pelapor agar situasi tidak semakin memanas.
Karena itu, ia mengaku terkejut setelah mengetahui dirinya dilaporkan atas dugaan penganiayaan yang menyebabkan pelapor mengalami luka.
"Dia sempat memukul dan saya hanya menahan pukulan itu, la kok dalam laporan dia seakan jadi korban dan ada lebam lebam ditubuhnya saya kaget," jelasnya.
Selain membantah dugaan kekerasan, ia juga menepis tudingan mengenai penguasaan sertifikat tanah milik pelapor.
Ia menegaskan tidak pernah meminjam, menyimpan, maupun menggunakan sertifikat tersebut sebagai agunan pinjaman di lembaga keuangan.
"Sama sekali, saya tidak pernah meminjam, memegang, mengagunkan sertifikat dia ke bank seperti diberitakan sebelumnya," katanya.
Ia juga membantah memiliki utang kepada Wiji Lestari sebesar puluhan juta rupiah.
Menurutnya, uang yang dipersoalkan merupakan penggunaan dana bersama ketika keduanya masih memiliki hubungan pribadi pada masa lalu, bukan transaksi utang-piutang.
Dalam penjelasannya, Kartono mengakui pernah memiliki hubungan dekat dengan Wiji Lestari.
Ia mengaku beberapa kali memberikan bantuan biaya hidup dan pendidikan kedua anaknya.
"Bahkan saya memikirkan dia itu kayak ya sama saudara sendiri. Dia juga gak punya suami, terus kedua anaknya sekolah semua, ia mengeluh kepada saya," bebernya.
Ia menegaskan seluruh bantuan yang diberikan berasal dari dana pribadi hasil usahanya dan tidak berkaitan dengan anggaran maupun keuangan pemerintah desa.
"Saya bantu menggunakan dana pribadi bahkan untuk proses anaknya ke Jepang saya bantu. Terus saya sempat menjauh karena dia juga ada orang lain yang dekat sama dia. Saya menjauh pelan-pelan," jelasnya.
Terkait proses hukum yang sedang berjalan, ia menyatakan menghormati penanganan perkara oleh kepolisian.
Namun, ia juga membuka kemungkinan menempuh jalur hukum dengan membuat laporan balik apabila menilai terdapat unsur pelanggaran yang merugikan dirinya.
Ia mengaku telah menyiapkan sejumlah bukti, termasuk dokumentasi kerusakan kendaraan dan keterangan saksi yang disebut mengetahui peristiwa tersebut.
"Saya sering diteror oleh orang suruhannya. Mobil saya pernah dirusak, motor juga dirusak, spion dipecah, saya ada bukti semua," ungkapnya.
Menurut Kartono, hingga saat ini belum ada komunikasi langsung maupun iktikad baik dari pihak Wiji Lestari setelah laporan dilayangkan ke Polsek setempat.
"Saya akan melaporkan balik jika tidak ada itikad baik dari dia untuk mencabut laporannya di Kepolisian," tutupnya.
Hingga berita ini diterbitkan, perkara tersebut masih dalam tahap penyelidikan oleh pihak kepolisian.
Perbedaan keterangan antara pelapor dan terlapor masih menjadi bagian dari pendalaman penyidik, sehingga seluruh pihak tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah sampai ada keputusan hukum yang berkekuatan tetap. (Fjr)
Sebelumnya
...
