Maulid Nabi di Coper Ponorogo, Tebar Koin Rp25 Juta hingga 1.200 Tumpeng
Redaksi Garda Jatim
... menit baca
![]() |
| Warga mengikuti tradisi tebar uang koin di halaman Masjid Al-Ishaq, Desa Coper, Kecamatan Jetis, Ponorogo, dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. (Foto: Fajar/Gardajatim.com) |
Di Masjid Al-Ishaq Coper, perayaan tahun ini diisi tebar uang koin sekitar Rp25 juta dan kenduri sekitar 1.200 ambeng atau tumpeng.
Kepala Desa Coper Damanhuri mengatakan, rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi dengan pembacaan selawat, dilanjutkan srokal Maulid dan tradisi tebar uang koin.
“Diawali pada pagi hari dengan pembacaan selawat yang dilanjutkan dengan srokal maulid serta tebar uang koin,” kata Damanhuri usai kegiatan, Selasa, 25 Agustus 2026.
Menurut Damanhuri, tradisi tebar koin merupakan kebiasaan yang sudah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Coper.
“Merupakan tradisi turun-temurun dari para sesepuh atau leluhur,” ujarnya.
Tebar Koin Rp25 Juta Pindah ke Halaman Masjid
Damanhuri menjelaskan, tradisi tebar koin dahulu dilaksanakan di serambi Masjid Al-Ishaq. Namun, lokasi tersebut tidak lagi cukup menampung warga yang semakin banyak.
“Dahulu tebar koin dilakukan di dalam serambi masjid. Namun karena jumlah warga yang hadir semakin banyak, lokasi dipindahkan ke halaman masjid agar tidak berjejal,” jelasnya.
![]() |
| Kepala Desa Coper Damanhuri bersama istri menghadiri rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Ishaq, Desa Coper, Kecamatan Jetis, Ponorogo. |
Tradisi tersebut memiliki latar belakang yang erat dengan aktivitas keagamaan masyarakat.
Pada awalnya, uang koin digunakan sebagai cara untuk menarik minat warga dan anak-anak agar datang ke masjid.
“Dahulu digunakan sebagai ajakan, diiming-imingi, agar warga atau anak-anak mau datang beribadah dan melaksanakan salat berjamaah di masjid,” kata Damanhuri.
Kini, nilai uang yang disebarkan dalam tradisi tersebut mencapai sekitar Rp25 juta.
1.200 Ambeng Tetap Gunakan Wadah Tradisional
Selain tebar koin, rangkaian Maulid Nabi dilanjutkan dengan tradisi membawa ambeng atau tumpeng. Warga mulai membawa ambeng sejak pagi hingga kegiatan berlangsung pada sore hari.
Jumlahnya mencapai sekitar 1.200 ambeng. Setiap satu ambeng berisi satu ekor ayam ingkung.
![]() |
| Ambeng naluri diarak dari kediaman Kepala Desa Coper menuju halaman Masjid Al-Ishaq. |
Damanhuri menekankan, masyarakat Desa Coper juga mempertahankan cara penyajian ambeng sebagaimana tradisi leluhur.
“Seluruh wadah ambeng menggunakan entek, anyaman bambu atau nampan tradisional, dan tidak ada yang menggunakan wadah plastik,” ujarnya.
Penggunaan entek menjadi salah satu bentuk upaya warga untuk menjaga tradisi lama agar tidak hilang di tengah perubahan zaman.
Tokoh masyatakat setempat, sekaligus Anggota DPRD Ponorogo dari Fraksi Partai Golkar Dapil II Moh. Komarudin mengatakan, kegiatan tahun ini memiliki rangkaian yang berbeda dibanding tahun sebelumnya.
Menurut Komarudin, peringatan Maulid Nabi kali ini bertepatan dengan momentum HUT ke-81 RI dan sekaligus dirangkai dengan kegiatan bersih desa.
“Yang berbeda dengan tahun sebelumnya, kegiatan ini bertepatan dengan momen HUT ke-81 RI, dan sekaligus bersih desa,” kata Komarudin.
Komarudin yang juga Ketua PSHT Cabang Ponorogo mengatakan, rangkaian kegiatan tersebut berlangsung hingga 6 September.
Selama kegiatan, masyarakat tetap menjadikan Masjid Al-Ishaq sebagai pusat pelaksanaan selawat Maulid.
Ia menilai, tradisi kenduri dengan sekitar 1.200 tumpeng menjadi bagian penting dalam menjaga budaya masyarakat Coper.
“Kenduri dengan menyajikan sekitar 1.200 tumpeng dari pagi hingga sore hari sebagai wujud nguri-nguri budaya leluhur,” kata Komarudin.
Komarudin berharap rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga memperkuat hubungan antarwarga dan sinergi pemerintahan.
“Harapannya kegiatan ini membawa keberkahan, menjaga ketenteraman, ayem tentrem, kerukunan, serta keharmonisan antara masyarakat, pemerintah desa, pihak kecamatan,” ujarnya.
Tradisi Maulid Nabi di Desa Coper akhirnya tidak hanya menjadi peringatan keagamaan. Tebar koin, 1.200 ambeng, penggunaan entek, hingga bersih desa menjadi rangkaian yang mempertemukan nilai agama, budaya, dan kebersamaan masyarakat. (Fjr)
Sebelumnya
...



