-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
🇮🇩DIRGAHAYU KE-81 REPUBLIK INDONESIA🇮🇩

Merawat Tradisi, SMPN 2 Ponorogo Tampilkan Empat Dalang Pelajar

SMPN 2 Ponorogo merawat tradisi wayang kulit dengan menampilkan empat dalang pelajar dalam rangkaian HUT ke-66 sekolah dan HUT ke-81 RI.
Empat siswa SMPN 2 Ponorogo tampil sebagai dalang dalam pagelaran wayang kulit dengan lakon “Sesaji Rajasuya”. (Foto: Fajar/Gardajatim.com)
GARDAJATIM.COM: Upaya mengenalkan dan merawat kesenian tradisional kepada generasi muda menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-66 SMP Negeri 2 Ponorogo dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Salah satunya diwujudkan melalui pagelaran wayang kulit yang menampilkan empat dalang pelajar dari sekolah tersebut.

Pagelaran berlangsung pada Rabu, 19 Agustus 2026, sebagai puncak rangkaian kegiatan HUT SMPN 2 Ponorogo. Selain pagelaran wayang kulit, kegiatan juga diisi Fun Run dan jalan sehat.

Empat dalang muda yang tampil merupakan siswa SMPN 2 Ponorogo. Mereka adalah Dylon Maheswara Galih dari kelas 9B, Akhdan Tantama Prayoga dari kelas 8H, Nabawy Aura dari kelas 8F, dan Pradiptagara Nakhla Witama dari kelas 7C.

Keempatnya membawakan lakon “Sesaji Rajasuya”. Keterlibatan siswa sebagai dalang menjadi bagian dari upaya sekolah memberikan pengalaman langsung kepada generasi muda untuk mengenal seni pedalangan, bukan sekadar menyaksikannya sebagai penonton.

Kepala SMPN 2 Ponorogo, Imam Syaifudin, S.Pd.,M.Or., mengatakan wayang merupakan budaya adiluhung yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda.

Karena itu, sekolah berupaya memberikan ruang kepada siswa untuk terlibat langsung dalam pelestarian seni tradisional.

“Wayang merupakan budaya adiluhung yang harus terus kita lestarikan. Anak-anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi kita beri ruang untuk tampil dan menjadi bagian dari regenerasi seni pedalangan,” ujar Imam.

Menurut dia, pelestarian budaya juga berkaitan dengan pembentukan karakter siswa. Rangkaian peringatan HUT sekolah dan HUT RI dirancang untuk menanamkan nilai religius, nasionalisme, gotong royong, kepedulian sosial, serta kecintaan terhadap budaya.
Kepala SMPN 2 Ponorogo Imam Syaifudin menyerahkan gunungan wayang sebagai simbol pembukaan pagelaran wayang kulit.
Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak 7 Agustus 2026 melalui Khotmil Qur’an yang diikuti kepala sekolah, guru, karyawan, dan seluruh siswa.

Selanjutnya, pada 10-14 Agustus, sekolah menggelar sejumlah lomba antarkelas, antara lain lomba kebersihan kelas dan karaoke bagi guru serta karyawan. Kegiatan dilanjutkan dengan upacara bendera HUT ke-81 RI pada 17 Agustus.

Sehari kemudian, sekolah menggelar bakti sosial di Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan kepedulian sosial kepada siswa.

Dalam pelaksanaan pagelaran wayang, dukungan dari berbagai pihak juga menjadi bagian penting. Imam menyampaikan apresiasi kepada Ketua Komite SMPN 2 Ponorogo, H. Sindu Parwoto, atas dukungan dan masukannya terhadap kegiatan sekolah.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada H. Suroto yang mendukung pagelaran melalui penyediaan gamelan, wayang kulit, hingga sound system.

Imam menilai keterlibatan sekolah, orang tua, komite, dan masyarakat menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan pelestarian budaya.

“Kolaborasi antara sekolah, orang tua, komite dan masyarakat menjadi bagian penting dalam memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengenal budaya mereka,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar tahun depan dengan skala yang lebih besar.
Wali murid siswa kelas VII SMPN 2 Ponorogo turut hadir dan mendampingi putra-putrinya.
Tidak hanya melibatkan lebih banyak dalang pelajar, sekolah juga berharap dapat menghadirkan dalang kondang untuk tampil di lingkungan sekolah.

“Harapan kita tahun depan SMP 2 juga bisa menggelar dalang tidak hanya empat. Bahkan mudah-mudahan dalang kondang bisa dihadirkan di sekolah kita,” kata Imam.

Selain pagelaran wayang, momentum tersebut juga diisi penyerahan penghargaan kepada para pemenang berbagai lomba yang digelar dalam rangka HUT SMPN 2 Ponorogo.

Imam juga mengapresiasi para orang tua siswa kelas VII yang turut mendampingi putra-putrinya.

Menurutnya, dukungan keluarga menjadi salah satu unsur penting dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap budaya.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, SMPN 2 Ponorogo tidak hanya memperingati hari ulang tahun sekolah dan kemerdekaan, tetapi juga mencoba menempatkan budaya sebagai bagian dari proses pendidikan karakter.

Empat siswa yang tampil sebagai dalang menjadi salah satu gambaran bahwa regenerasi seni tradisional dapat dimulai dari ruang sekolah. (Fjr/Red)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar