Tingkatkan Indeks Pertanaman dan Produktivitas Padi, 131 Kelompok Tani Pacitan Digelontor Rp20 Miliar Proyek Swakelola Irigasi Perpompaan
Eko Purnomo
... menit baca
![]() |
| Program irigasi perpompaan tahun 2026 di Kecamatan Kebonagung. Kegiatan tersebut menyasar 131 Kelompok Tani dengan anggaran Rp153 juta per titik. (FOTO : Eko Purnomo/gardajatim) |
GARDAJATIM.COM: Kementerian Pertanian menggelontorkan ratusan proyek irigasi perpompaan dan sumur bor di Kabupaten Pacitan.
Program tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dan meningkatkan Produktivitas Padi secara nasional.
Di Kabupaten Pacitan sendiri ada sebanyak 131 kelompok tani yang mendapatkan bantuan dengan total anggaran sekitar Rp20,043 miliar.
Masing-masing kelompok tani mendapatkan alokasi Rp153 juta yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan, Susilo Budi mengatakan, dari 131 titik tersebut sebanyak 11 kelompok tani memanfaatkan sumber air dari sungai.
Sedangkan 120 kelompok tani lainnya menggunakan sumber air tanah melalui pembuatan sumur bor.
"Yang 11 itu pengambilannya dari sungai, yang 120 dari pengeboran air tanah. Ini dari APBN, masing-masing Rp153 juta per titik,” ujar Susilo, Rabu (19/8/2026).
Ia menjelaskan, kelompok tani yang menggunakan sumber air sungai harus memiliki luasan lahan 10 Ha, sementara untuk yang menggunakan sumur bor cukup dengan lahan minimal 5 Ha.
Menurutnya, anggaran Rp153 tersebut tidak hanya berupa pompa air, tetapi termasuk komponen pendukung sistem irigasi yang lain. Mulai dari bangunan pengambilan air, pompa, instalasi listrik, rumah panel, tangki atau tampungan air, hingga pipa jaringan distribusi menuju lahan pertanian.
"Itu wujudnya bangunan, pengambilan airnya bisa dari sungai atau pengeboran,” tambahnya.
Lebih lanjut, Susilo mengatakan, sumur bor yang dibangun memiliki kedalaman rata-rata sekitar 60 meter. Sementara pompa yang digunakan menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi di lokasi.
“Pacitan masuk kategori pompa submersibel dengan dimensi 1,5 sampai 3 HP. Untuk distribusi air ke lahan pertanian dipakai pipa diameter 1,5 sampai 2 inci karena menyesuaikan anggaran,” sambung Susilo.
Program tersebut dilaksanakan melalui sistem swakelola atau padat karya.
Dana bantuan disalurkan langsung ke rekening kelompok tani untuk kemudian dikelola dan dikerjakan oleh kelompok penerima sesuai ketentuan program.
Susilo mengatakan, berdasarkan perjanjian kerja sama, pelaksanaan program ditargetkan selesai hingga akhir Desember 2026.
Namun, DKPP Pacitan mendorong agar pengerjaan dapat diselesaikan lebih cepat sehingga fasilitas tersebut segera dimanfaatkan petani.
“Kalau secara perjanjian kerja sama itu sampai dengan akhir Desember, tapi kami enggak mau menunggu sampai dengan itu,” katanya.
Percepatan pembangunan dinilai penting mengingat kebutuhan air untuk pertanian berpotensi meningkat apabila musim kemarau berlangsung panjang.
DKPP Pacitan sendiri tetap mengacu pada prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam melakukan langkah antisipasi terhadap ancaman kekeringan.
“Kita tetap ikut prediksi BMKG. Yang jelas, diperkirakan kan ini akan panjang juga,” tandasnya.
Keberadaan irigasi perpompaan tersebut diharapkan tidak hanya digunakan untuk membuka lahan tanam baru, tetapi juga menjadi salah satu upaya menyelamatkan tanaman yang sudah ada, terlebih di musim kemarau panjang seperti yang terjadi tahun ini.
“Harapan kami pelaksanaan yang irigasi perpompaan itu bisa segera selesai, jadi setidaknya bisa mengantisipasi kalau ada perluasan kekeringan," pungkasnya. (Eko)
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
