-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
🇮🇩DIRGAHAYU KE-81 REPUBLIK INDONESIA🇮🇩

326 Siswa Jiu-Jitsu Ponorogo Naik Tingkat, Bibit Atlet Mulai Dibidik

Sebanyak 326 siswa Jiu-Jitsu Ponorogo mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) di Lapangan Nongkodono, Kecamatan Kauman, Ponorogo. (Foto: Istimewa)
GARDAJATIM.COM: Sebanyak 326 siswa Jiu-Jitsu Ponorogo menjalani ujian kenaikan tingkat (UKT) di Lapangan Nongkodono, Kecamatan Kauman, Ponorogo, Ahad, 14 September 2026.

Di balik ujian tersebut, pengurus Institut Ju-Jitsu Indonesia (IJI) Cabang Ponorogo tak hanya mengukur kemampuan siswa, tetapi juga mulai membaca calon-calon atlet yang diproyeksikan mengisi regenerasi Jiu-Jitsu Ponorogo.

UKT menjadi agenda rutin yang digelar setiap empat bulan atau tiga kali dalam setahun. Bagi pengurus, kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk melihat perkembangan kemampuan siswa dari waktu ke waktu.

Ketua Jiu-Jitsu Kabupaten Ponorogo Muryanto, SIP, yang akrab disapa Mbah Beru, mengatakan UKT tidak hanya berkaitan dengan kenaikan tingkat.

Dari proses tersebut, pengurus bisa melihat perkembangan sekaligus mulai membaca potensi atlet yang akan muncul di masa depan.

“Hari ini tahapan kenaikan sabuk, mulai dari putih, kuning hingga hijau. Dari sini nanti kita tahu bibit-bibit atlet yang akan datang sudah mulai kelihatan,” kata Muryanto.

Pembinaan Jiu-Jitsu di Ponorogo tidak hanya diarahkan kepada siswa yang sudah menunjukkan prestasi.

Mereka yang belum memiliki capaian di arena pertandingan tetap memiliki ruang untuk berkembang sesuai kemampuan masing-masing.

Menurut Muryanto, proses pembinaan menjadi bagian penting untuk menemukan potensi siswa. Sebab, kemampuan setiap peserta tidak selalu muncul dalam waktu dan bidang yang sama.
Peluang untuk berkembang juga terbuka karena Jiu-Jitsu memiliki sejumlah kategori pertandingan. Di antaranya fighting, show system, newaza dan kategori lainnya.

Dengan banyaknya nomor pertandingan tersebut, kemampuan siswa dapat dipetakan lebih jauh.

Siswa yang belum menonjol di satu kategori masih bisa diarahkan untuk menemukan nomor yang paling sesuai dengan karakter dan kemampuannya.

Perkembangan Jiu-Jitsu di Ponorogo juga ditopang rekam jejak prestasi di tingkat Jawa Timur.

Olahraga bela diri tersebut disebut berkembang pesat dan menjadi salah satu kekuatan Jiu-Jitsu di Jawa Timur.

Sekretaris IJI sekaligus PBJI Kabupaten Ponorogo, Supeno mengatakan, capaian itu terlihat dari prestasi di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur.

Jiu-Jitsu Ponorogo, kata dia, telah dua kali berturut-turut menjadi juara umum Porprov Jawa Timur.

Prestasi tersebut menjadi modal penting dalam proses pembinaan atlet berikutnya. Sebab, pengalaman bertanding di level provinsi menjadi bagian dari jenjang sebelum atlet melangkah ke kompetisi yang lebih tinggi.

Sejumlah atlet Jiu-Jitsu asal Ponorogo bahkan telah tampil di tingkat nasional hingga Asia.

“Alhamdulillah, ada dari Jujitsusan Ponorogo yang mewakili di tingkat nasional bahkan ke Asia,” ujar Supeno.
Tak hanya itu, atlet Jiu-Jitsu Ponorogo juga pernah dipercaya memperkuat Indonesia dalam ajang SEA Games di Kamboja. Dari ajang tersebut, atlet asal Ponorogo berhasil membawa pulang medali.

Dengan rekam prestasi tersebut, 326 siswa yang mengikuti UKT bukan sekadar peserta ujian kenaikan sabuk.

Mereka menjadi bagian dari proses regenerasi untuk menjaga keberlanjutan prestasi Jiu-Jitsu Ponorogo.

Supeno menjelaskan, UKT menjadi tolok ukur untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi dan program yang diberikan dalam pembinaan.

Hasil ujian kemudian dapat digunakan sebagai bahan evaluasi. Dari sana, pengurus bisa melihat perkembangan masing-masing siswa sekaligus memetakan potensi yang dimiliki.

“Harapan kami, UKT ini sebagai tolok ukur kemampuan siswa sekaligus mempersiapkan kader untuk berkarier di tingkat regional, nasional maupun internasional,” jelas Supeno.

Pembinaan berkelanjutan menjadi kunci agar prestasi Jiu-Jitsu Ponorogo tidak berhenti pada nama-nama atlet yang sudah dikenal saat ini.

Ratusan siswa yang mengikuti UKT menjadi bagian dari proses panjang tersebut. Mereka bukan hanya belajar untuk naik ke tingkat berikutnya, tetapi juga dipersiapkan agar memiliki kemampuan yang bisa berkembang menuju arena kompetisi.

Dari 326 siswa itu, bukan tidak mungkin muncul nama-nama baru yang kelak berdiri di podium.

Mereka bisa menjadi generasi berikutnya yang membawa nama Ponorogo di tingkat Jawa Timur, nasional, bahkan internasional. (Nan/Fjr)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar