-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
🇮🇩DIRGAHAYU KE-81 REPUBLIK INDONESIA🇮🇩

Wayang Kulit Ramaikan Malam Budaya Desa Loderesan, Angkat Pesan Moral dan Lestarikan Tradisi Jawa

Pagelaran menghadirkan Ki Minto Darsono dan Ki Thathit Wibat Sudarsono, sekaligus menjadi upaya mengenalkan budaya Jawa kepada generasi muda.
Pagelaran wayang kulit di Balai Desa Loderesan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung (Dok Ist)
GARDAJATIM.COM : Pemerintah Desa Loderesan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, menggelar pagelaran wayang kulit di Balai Desa Loderesan, Senin (7/9/2026). 

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah desa melestarikan seni budaya Jawa sekaligus memperkuat kebersamaan dan keguyuban masyarakat.

Pagelaran yang menghadirkan dalang Ki Minto Darsono dan Ki Thathit Wibat Sudarsono tersebut mendapat dukungan dari Sekar Gadhung Indonesia. 

Selain menjadi hiburan bagi warga, pertunjukan wayang kulit diharapkan menjadi ruang untuk mengenalkan kembali kesenian tradisional kepada generasi muda.

Kesenian wayang kulit dipilih karena tidak sekadar menyuguhkan pertunjukan, tetapi juga mengandung pesan moral, filosofi kehidupan, serta nilai-nilai keteladanan. Melalui berbagai lakon yang dibawakan, masyarakat dapat menikmati hiburan sekaligus memperoleh tuntunan kehidupan.

Antusiasme masyarakat terhadap pertunjukan wayang kulit di wilayah Tulungagung juga cukup tinggi. Sejumlah kegiatan serupa yang menghadirkan Ki Minto Darsono dan Ki Thathit Wibat Sudarsono sebelumnya mendapat sambutan dari masyarakat.
Kepala Desa Loderesan Kusbani mengatakan, pagelaran tersebut diharapkan menjadi sarana hiburan sekaligus momentum mempererat tali silaturahmi antarwarga.

“Kami berharap pagelaran wayang kulit ini bisa menjadi hiburan sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, bersilaturahmi dan mempererat rasa kebersamaan. Yang tidak kalah penting, kami ingin ikut menjaga dan melestarikan seni budaya Jawa agar tetap dikenal dan dicintai oleh generasi muda,” ujar Kepala Desa Loderesan.

Ia menambahkan, Pemerintah Desa Loderesan akan terus memberikan ruang bagi berbagai kegiatan seni dan budaya yang memiliki nilai positif bagi masyarakat.

Menurutnya, keberadaan seni tradisional di tengah perkembangan zaman perlu terus dirawat secara bersama-sama. 

Wayang kulit, kata dia, bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntunan melalui berbagai pesan kehidupan yang disampaikan dalam setiap lakon.

Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Desa Loderesan berharap masyarakat dapat menikmati pertunjukan dengan tertib dan penuh kebersamaan. 

Kegiatan budaya itu sekaligus diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya memperkuat persatuan dan keguyuban warga.

Pagelaran wayang kulit di Balai Desa Loderesan menjadi bagian dari upaya menjaga eksistensi kesenian tradisional di tengah perkembangan zaman, sekaligus membuktikan bahwa budaya Jawa masih memiliki tempat di tengah masyarakat. (@Eka)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar