-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
🇮🇩DIRGAHAYU KE-81 REPUBLIK INDONESIA🇮🇩

Islamic Youth Festival 2 Regional 5 Digelar, Ketua Dewan Pendidikan: JSIT Jangan Hanya Dihitung, tetapi Harus Diperhitungkan

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Ponorogo Muhamad Fajar Pramono menyampaikan sambutan dalam pembukaan Islamic Youth Festival 2 Regional 5. (Foto: Istimewa)
GARDAJATIM.COM: Semangat pengembangan talenta dan karakter generasi muda mewarnai pelaksanaan Islamic Youth Festival 2 Regional 5 yang mempertemukan peserta dari wilayah Ponorogo, Trenggalek, dan Pacitan.

Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi sekolah-sekolah Islam terpadu untuk mengembangkan potensi peserta didik sekaligus memperkuat jejaring pendidikan Islam di kawasan Mataraman.

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Ponorogo, Muhamad Fajar Pramono, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Menurutnya, Islamic Youth Festival tidak semestinya dipandang hanya sebagai ajang perlombaan, tetapi sebagai bagian dari proses pendidikan dalam membentuk generasi yang memiliki ilmu, iman, karakter, kreativitas, kemampuan bekerja sama, serta kematangan emosional.

“Islamic Youth Festival bukan sekadar kegiatan perlombaan. Ini adalah momentum pendidikan,” ujar Muhamad Fajar Pramono dalam sambutannya pada pembukaan Islamic Youth Festival 2, Sabtu, 12 September 2026.

Ia menilai keberadaan sekolah-sekolah yang tergabung dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) patut disyukuri.

Di tengah berbagai keterbatasan dan dinamika kebijakan pendidikan, sekolah Islam terpadu tetap mampu berkembang dan memberikan kontribusi dalam dunia pendidikan.

Menurutnya, amanah konstitusi mengenai alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen harus dipahami dalam konteks ekosistem pendidikan yang luas, yang tidak hanya mencakup sekolah negeri, tetapi juga sekolah swasta serta berbagai komponen pendidikan lainnya.

“Dengan segala keterbatasannya, sekolah-sekolah Islam terpadu tetap menunjukkan semangat yang luar biasa. JSIT tidak hanya boleh menjadi sekolah yang dihitung, tetapi harus menjadi sekolah yang diperhitungkan,” tegasnya.

Tidak Hanya Diperhitungkan, tetapi Menjadi Model Pendidikan

Muhamad Fajar Pramono mengatakan, menjadi sekolah yang diperhitungkan tidak cukup hanya dengan keberadaan secara statistik. Sekolah harus mampu menunjukkan prestasi, kualitas, inovasi, dan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Ia mengingatkan seluruh pengelola pendidikan JSIT agar tidak cepat berpuas diri dengan capaian yang telah diperoleh.

"Jangan lengah. Terus bergerak, terus belajar, dan terus berinovasi. Jangan hanya menjadikan JSIT sebagai sekolah yang diperhitungkan, tetapi harus mampu menjadi bagian dari model pendidikan yang berkontribusi terhadap lahirnya generasi pembangun peradaban,” katanya.

Menurutnya, pendidikan Islam memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik.

Pendidikan harus melahirkan manusia yang berilmu, beriman, berakhlak, produktif, inovatif, dan mampu memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.

“Islam bukan hanya menjadi identitas yang kita banggakan. Nilai-nilai Islam harus hadir dalam ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, kebudayaan, tata kelola pemerintahan, kehidupan sosial, dan berbagai bidang kehidupan,” ujarnya.
Menyiapkan SDM Berintegritas dan Visioner

Ia menegaskan bahwa langkah paling mendasar untuk membangun pendidikan dan peradaban adalah menyiapkan sumber daya manusia.

SDM pendidikan, kata dia, harus memiliki integritas, visi, kreativitas, kemampuan berinovasi, sekaligus kemampuan membangun sinergi dengan berbagai kekuatan bangsa.

“Sekolah tidak mungkin mencerdaskan anak bangsa sendirian. Yayasan tidak mungkin bekerja sendiri. Pemerintah, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua juga tidak mungkin bekerja sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi,” tegasnya.

Karena itu, sekolah Islam diharapkan mampu membangun sinergi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, organisasi keagamaan, komunitas, dan berbagai elemen bangsa lainnya.

Dalam konteks tersebut, ia berharap JSIT ke depan tidak hanya menjadi jaringan sekolah, tetapi berkembang menjadi jaringan kekuatan pendidikan yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat dan bangsa.

Ajang Membentuk Petarung yang Sportif

Kepada para peserta Islamic Youth Festival 2, Ketua Dewan Pendidikan Ponorogo memberikan pesan khusus agar tidak hanya mengejar kemenangan.

Ia menekankan pentingnya sportivitas sebagai bagian dari pendidikan karakter.

“Jangan hanya belajar bagaimana menjadi pemenang. Belajarlah juga bagaimana menjadi manusia yang matang ketika mengalami kekalahan,” pesannya.

Menurutnya, kehidupan tidak selalu menghadirkan kemenangan. Karena itu, anak-anak perlu belajar menerima kemenangan dan kekalahan sejak dini.

Sportivitas, lanjutnya, berarti berani bertanding secara jujur, menghormati lawan, tidak melakukan kecurangan, serta siap menang dan siap kalah.

“Sportivitas mengajarkan kita menjadi petarung kehidupan. Petarung adalah orang yang ketika jatuh mampu bangkit, ketika kalah mampu belajar, ketika gagal mampu mengevaluasi, dan ketika berhasil tidak menjadi sombong,” jelasnya.

Ia berharap Islamic Youth Festival 2 tidak hanya melahirkan juara-juara perlombaan, tetapi juga generasi yang percaya diri, sportif, kreatif, berani, mampu bekerja sama, dan memiliki akhlak yang baik.

Regional 5 Perkuat Jejaring Pendidikan Islam

Kehadiran peserta dari Ponorogo, Trenggalek, dan Pacitan dalam Regional 5 juga dinilai memiliki arti strategis. Kompetisi antarsekolah tidak hanya menjadi ruang untuk mengukur kemampuan peserta didik, tetapi sekaligus memperluas silaturahmi dan membangun jejaring antarlembaga pendidikan Islam.

Dewan Pendidikan Kabupaten Ponorogo, kata Muhamad Fajar Pramono, memandang seluruh satuan pendidikan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan daerah.

“Kita boleh berbeda model, berbeda pendekatan, dan berbeda karakter. Tetapi kita mempunyai tujuan yang sama, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyiapkan generasi masa depan,” ujarnya.

Ia berharap Islamic Youth Festival 2 menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi, memperluas jejaring, membangun kolaborasi, sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan Islam mampu terus bergerak maju mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai Islam.

“Jangan puas hanya karena sekolah kita dihitung. Mari bekerja lebih keras agar sekolah kita diperhitungkan. Dan jangan berhenti sampai di sana. Mari kita bangun pendidikan yang mampu melahirkan generasi yang berkontribusi dalam membangun peradaban besar,” pungkasnya.

Penyelenggaraan Islamic Youth Festival 2 Regional 5 diharapkan menjadi salah satu wahana untuk menemukan, menumbuhkan, dan mengembangkan talenta generasi muda Ponorogo, Trenggalek, dan Pacitan, sekaligus menanamkan karakter sportif, tangguh, kolaboratif, dan berakhlak.

Gagasan ini sejalan dengan pesan utama sambutan Ketua Dewan Pendidikan bahwa festival bukan sekadar kompetisi, melainkan momentum pendidikan dan pembentukan manusia masa depan. (Rls/Fjr/Red)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar