MHR dan Lisdyarita, Chemistry yang Kembali Jadi Sorotan di Ponorogo
Redaksi
... menit baca
![]() |
| Muhammad Harun Ar Rasyid (MHR), bakal Cawabup Ponorogo. (Foto: Fajar/Gardajatim.com) |
Lahir di Bogor pada 1985, MHR dikenal memiliki latar belakang sebagai pengusaha. Ia juga merupakan sarjana Ilmu Politik, sehingga dunia politik bukanlah ruang yang sepenuhnya asing baginya.
Jauh sebelum konfigurasi politik Pilkada Ponorogo 2024 terbentuk, MHR mengaku sempat memiliki komunikasi dan kesepahaman dengan Lisdyarita untuk maju bersama.
Menurut MHR, hubungan komunikasi tersebut bahkan telah membangun chemistry di antara keduanya.
“Jadi dengan Bunda Lisdyarita saya chemistry sudah terbangun,” kata MHR, Jumat, 25 September 2026.
Namun, dinamika politik kemudian bergerak. Rencana yang sempat dibicarakan itu tidak berlanjut hingga Pilkada 2024. Lisdyarita akhirnya berpasangan dengan Sugiri Sancoko dalam kontestasi tersebut.
Kini, dinamika kembali berubah. Nama MHR kembali dikaitkan dengan kemungkinan menjadi salah satu kandidat calon wakil bupati yang berpotensi mendampingi Lisdyarita.
Meski demikian, kemungkinan tersebut belum dapat disebut sebagai pasangan politik resmi. Pembicaraan mengenai arah politik keduanya masih menjadi bagian dari dinamika yang berkembang.
Bagi MHR, peluang untuk kembali membangun komunikasi dengan Lisdyarita tidak semata-mata dipandang sebagai persoalan ambisi politik.
Ia justru menempatkan gagasan kolaborasi sebagai upaya untuk ikut memberikan kontribusi terhadap pembangunan Ponorogo.
“Ponorogo saat ini sedang sakit, saya berusaha dengan kemampuan saya untuk berkolaborasi dengan Bunda untuk Ponorogo,” ujarnya.
Sebagai pengusaha sekaligus sarjana Ilmu Politik, MHR mengatakan dirinya ingin memanfaatkan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki untuk ikut mengambil bagian dalam pembangunan daerah.
MHR menilai move on merupakan bagian penting dalam dinamika politik. Namun, menurut dia, melangkah ke depan bukan berarti mengabaikan etika terhadap tokoh-tokoh politik.
Ia menggunakan istilah Jawa kulon nuwun untuk menggambarkan pentingnya membangun komunikasi dan meminta restu secara etis kepada para tokoh politik.
“Move on itu penting, tapi bukan berarti etika politik ditinggalkan. Istilah Jawa kulon nuwun kepada tokoh-tokoh politik itu penting,” ujarnya.
Bagi MHR, komunikasi politik menjadi bagian dari perjalanan menuju kemungkinan kolaborasi.
Ia tidak menutup ruang untuk membangun kembali hubungan politik yang sebelumnya pernah terjalin.
Pada akhirnya, arah politik MHR di Ponorogo masih akan ditentukan oleh perkembangan komunikasi dan dinamika politik berikutnya.
Nama MHR boleh jadi kembali muncul dalam percakapan politik Ponorogo, sementara chemistry yang pernah ia sebut bersama Lisdyarita juga menjadi bagian dari cerita sebelumnya.
Apakah chemistry tersebut akan kembali menemukan ruang dalam panggung politik Ponorogo?
Jawabannya masih menunggu satu hal: ke mana arah komunikasi politik MHR dan Lisdyarita selanjutnya. (Fjr)
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
