-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
🇮🇩DIRGAHAYU KE-81 TENTARA NASIONAL INDONESIA🇮🇩

Bukan Sekadar Foto Yearbook, Siswa SMK PGRI 2 Ponorogo Kenalkan Busana Jawa Timur

Siswa SMK PGRI 2 Ponorogo mengenakan busana adat Jatim dalam sesi foto yearbook di Lodjie Kidul. (Foto: Dewi)
GARDAJATIM.COM: Memperingati Hari Jadi Jawa Timur yang jatuh pada 12 Oktober 2026, SMK PGRI 2 Ponorogo mengangkat busana adat Jawa Timur sebagai tema kegiatan foto album kenangan atau yearbook.

Kegiatan yang digelar di Lodjie Kidul, Jalan HOS Cokroaminoto, Minggu (4/10/2026), membawa semangat falsafah Jawa Timur “Jer Basuki Mawa Beya”, yang berarti setiap keberhasilan, kebahagiaan, atau cita-cita membutuhkan pengorbanan dan biaya.

Tema tersebut dipilih untuk mengenalkan kembali kekhasan busana Jawa Timur kepada pelajar, sekaligus mendorong generasi muda agar ikut mengenali dan melestarikan budaya daerahnya.

Guru pendamping kegiatan, Dewi Suryaningsih mengatakan, kegiatan foto yearbook dengan tema tertentu tersebut rutin digelar setiap tahun.

Dewi mengusulkan tema Jawa Timuran untuk kegiatan tahun ini karena menilai pengenalan dan pelestarian adat serta budaya setempat perlu terus dilakukan kepada generasi muda.

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui penggunaan busana adat Raka-Raki dalam sesi foto yearbook.

Menurut Dewi, langkah itu juga menjadi cara untuk mengajak pelajar tetap mengenal budaya daerah di tengah maraknya tren busana kekinian yang banyak diminati generasi Z.

“Di gempuran Gen Z yang kian marak menggunakan baju-baju kekinian atau kebarat-baratan, kita tidak boleh lupa dengan Jawa Timur yang mempunyai khas tersendiri, yaitu baju adat Raka Raki tersebut,” kata Dewi, Senin, 5 Oktober 2026.
Dewi menjelaskan, pemilihan tema tersebut diharapkan dapat mengajak siswa mengenal sekaligus melestarikan budaya Jawa Timur.

Anak-anak, kata dia, diajak mengusung tema tersebut agar ikut menjaga keberadaan budaya lokal sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi Z.

“Anak-anak kita ajak mengusung tema itu supaya mereka juga ikut melestarikan budaya yang ada di Jawa Timur ini dan untuk menginspirasi anak anak Gen Z,” ujarnya.

Selain menjadi bagian dari partisipasi memperingati Hari Jadi Jawa Timur, kegiatan tersebut juga dimaksudkan untuk memperkenalkan busana khas Jawa Timur kepada para pelajar.

Dewi menilai pelajar perlu mengetahui bahwa Jawa Timur memiliki tradisi dan busana khas yang menarik untuk dikenali.

“Selain untuk berpartisipasi dalam rangka hari jadi Jawa Timur ini, kita juga ingin anak-anak zaman sekarang mengenali bahwa tradisi atau baju khas Jawa Timur ini memang kita miliki yang tidak kalah bagus dan tidak kalah menarik dengan baju adat lainnya seperti Jakarta, Jawa Tengah, Sumatra, Batak, Bali, dan lain sebagainya," jelasnya.
Menurut Dewi, pengenalan tersebut diharapkan membuat pelajar memahami kekayaan khas Jawa Timur dan turut mengenalkannya kepada masyarakat luas.

Ia berharap tema Jawa Timuran yang diangkat dalam kegiatan yearbook tersebut tidak berhenti sebagai konsep foto album kenangan, tetapi juga mendorong siswa untuk lebih mengenal dan bangga terhadap adat serta tradisi daerah.

“Harapannya dengan adanya kita mengusung tema Jawa Timuran ini, banyak anak-anak setelah ini juga mengenal, juga melestarikan, dan ikut berupaya bangga dengan adat dan tradisi Jawa Timur,” tutup Dewi. (Fjr)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar