-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
🇮🇩DIRGAHAYU KE-81 TENTARA NASIONAL INDONESIA🇮🇩

Dari Pinggir Jalan ke Arena Kompetisi, Dhiwa Raffi Buktikan Usia Bukan Penghalang Tuk Jadi Barista Profesional

Dhiwa Raffi, remaja 13 tahun belajar menekuni keterampilan meracik kopi dengan berjualan di pinggir jalan. (Foto: Istimewa)
GARDAJATIM.COM: Usia baru 13 tahun tak menghalangi Dhiwa Raffi, siswa kelas VIII SMPN 2 Pacitan, untuk mengasah keterampilan meracik kopi. 

Berawal dari berjualan kopi di pinggir jalan, kini ia berani tampil dalam Fun Brewing Competition Festival Kopi Pacitan 2026, bersaing dengan para barista yang lebih berpengalaman.

Raffi menjadi peserta termuda di antara 48 peserta kompetisi seduh kopi menggunakan metode V60 tersebut. 

Ajang yang digelar Pemkab Pacitan melalui Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perindustrian (Dikopumin) di halaman Gedung PLUT KUMKM Pacitan itu juga diikuti 12 peserta dari luar daerah.

Bagi Raffi, kompetisi ini bukan sekadar adu keterampilan, melainkan kesempatan untuk belajar langsung dari para barista senior dan mengembangkan bakatnya.

“Perasaan saya senang bisa bertemu barista-barista senior, bisa menambah ilmu dari mereka dan mengembangkan bakat, Mas,” ungkap Raffi.

Ia juga berterima kasih kepada para guru dan pihak sekolah yang telah mendukung keikutsertaannya dalam kompetisi tersebut.

“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu guru saya serta sekolah yang mendukung saya sehingga bisa mengikuti perlombaan ini,” tambahnya.
Dhiwa Raffi (tengah) berani tampil pada ajang Fun Brewing Competition Festival Kopi Pacitan 2026.
Ananta, ayah Raffi yang mendampinginya selama kegiatan, mengungkapkan bahwa putranya baru sekitar enam bulan menekuni hobi meracik kopi.

Selama itu, Raffi belajar sekaligus mencoba berwirausaha dengan berjualan kopi di pinggir jalan. Hasil penjualannya turut menambah uang saku sekolah.

Ananta mengaku bangga melihat putranya mulai belajar menjadi wirausahawan sejak usia muda. 

Menurutnya, kesempatan mengikuti kompetisi menjadi pengalaman berharga untuk menambah pengetahuan dan melatih kepercayaan diri Raffi.

“Ya, Mas, si Raffi itu mulai hobi meracik kopi kira-kira baru enam bulan yang lalu. Nah, kebetulan ada kesempatan ini, dia ikut meramaikan,” ujar Ananta.

Ia menegaskan, keikutsertaan putranya bukan semata-mata mengejar kemenangan, tetapi juga kesempatan belajar dari peserta lain yang memiliki pengalaman lebih banyak.

Ananta pun mengapresiasi Pemkab Pacitan yang telah memberikan ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengembangkan kreativitas di bidang perkopian.

“Saya sebagai orang tua sekaligus masyarakat menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Pacitan yang telah memberi ruang, khususnya bagi generasi muda untuk mengasah kreativitas, terutama dalam dunia peracikan kopi. Semoga kegiatan ini diselenggarakan secara berkelanjutan,” ucapnya.

Kisah Raffi menunjukkan bahwa minat dan keterampilan dapat berkembang sejak usia muda ketika didukung kemauan belajar, keluarga, dan kesempatan yang tepat.

Festival Kopi Pacitan 2026 pun tak hanya menjadi ajang promosi kopi lokal dan kompetisi, tetapi juga ruang bertukar pengalaman antara pemula dan peracik kopi berpengalaman.

Bagi Raffi, keberanian tampil di tengah puluhan peserta menjadi langkah awal untuk terus mengasah kemampuan.

Berawal dari berjualan kopi di pinggir jalan, ia kini memperoleh pengalaman baru di arena kompetisi yang dapat menjadi bekal untuk mengembangkan bakat dan jiwa wirausahanya pada masa mendatang. (Eko)

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar