Ditengah Disrupsi Akhlak dan Moral Pelajar, Kadindik Pacitan Ajak Orang Tua Tak Abai Awasi Pergaulan dan Perilaku Anak
![]() |
| Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Kabupaten Pacitan, Khemal Pandu Pratikna. (FOTO: Eko Purnomo/Gardajatim) |
GARDAJATIM.COM: Perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan. Tidak hanya menyangkut capaian akademik, sekolah kini dihadapkan pada persoalan yang jauh lebih kompleks, yakni pembentukan karakter, akhlak, dan moral anak usia sekolah.
Kondisi tersebut mendapat perhatian Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Kabupaten Pacitan, Khemal Pandu Pratikna. Ia mengingatkan bahwa pendidikan anak tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah dan guru.
Menurut Pandu, keluarga dan lingkungan masyarakat justru memiliki porsi yang sangat besar dalam membentuk karakter serta perilaku anak. Sebab, waktu anak berada di lingkungan sekolah relatif terbatas dibandingkan dengan waktu yang mereka habiskan bersama keluarga dan masyarakat.
“Mendidik anak tidak cukup hanya di sekolah, karena guru tidak mungkin 24 jam mengawasi anak didiknya. Interaksi anak di sekolah hanya berkisar 20–30 persen setiap harinya, sisanya di lingkungan keluarga dan masyarakat. Sehingga peran orang tua sangat krusial dalam membentuk karakter anak,” ujar Pandu, Kamis (8/10/2026).
Jangan Hanya Mengejar Prestasi Akademik
Pandu menilai, salah satu persoalan yang perlu dibenahi adalah pola pikir dalam mendidik anak yang terlalu berorientasi pada prestasi akademik.
Nilai rapor dan pencapaian akademik memang penting. Namun, menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak semestinya hanya diukur dari seberapa tinggi nilai yang diperoleh seorang anak.
Etika, moral, kedisiplinan, tanggung jawab dan akhlak harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan.
Sebab, karakter anak akan sangat menentukan bagaimana mereka bersikap, mengambil keputusan dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Fenomena di tengah masyarakat menunjukkan masih adanya anak usia sekolah yang terjerumus dalam berbagai perilaku berisiko. Mulai dari merokok, mengonsumsi minuman keras, pergaulan bebas, mengendarai sepeda motor dengan knalpot brong hingga terlibat aksi balap liar.
Selain berpotensi merusak masa depan anak, perilaku tersebut juga dapat mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat serta membahayakan keselamatan pengguna jalan lainnya.
Karena itu, Pandu meminta persoalan tersebut tidak dipandang semata-mata sebagai tanggung jawab sekolah.
Orang Tua Diminta Tidak Melakukan Pembiaran
Menurut Pandu, pengawasan orang tua menjadi benteng penting untuk mencegah anak terjerumus dalam perilaku menyimpang.
Ia meminta orang tua tidak melakukan pembiaran ketika menemukan perubahan perilaku atau tindakan anak yang mengarah pada penyimpangan.
Orang tua, kata dia, harus berani memberikan teguran dan mengambil langkah tegas dengan tetap mengedepankan pendekatan pendidikan serta komunikasi yang baik.
"Kontrol orang tua kepada anak ini juga penting, jangan sampai dilakukan pembiaran jika anak melakukan penyimpangan," tegasnya.
Pandu menilai, pengawasan tidak berarti membatasi anak secara berlebihan. Justru orang tua perlu membangun kedekatan agar anak memiliki ruang untuk bercerita mengenai persoalan yang mereka hadapi, termasuk terkait pergaulan dan lingkungan pertemanan.
Dengan komunikasi yang terbuka, orang tua diharapkan dapat mengetahui lebih dini perubahan perilaku anak sekaligus melakukan langkah pencegahan sebelum persoalan berkembang lebih jauh.
Sekolah dan Orang Tua Harus Satu Persepsi
Selain keluarga, Pandu juga menekankan pentingnya keterlibatan media massa dalam membangun kesadaran publik mengenai pendidikan dan pembentukan karakter anak.
Menurutnya, media memiliki peran strategis sebagai jembatan antara sekolah, orang tua dan masyarakat. Terlebih, informasi yang berkembang di media dapat memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap berbagai persoalan pendidikan.
“Yang tak kalah penting itu menggandeng orang tua dan media massa. Saat ini seringkali orang tua punya pemikiran tersendiri karena terbawa opini di media massa, sekolah juga punya pemahaman sendiri. Sehingga perlu menyamakan persepsi terlebih dahulu,” jelas Pandu.
Ia berharap komunikasi antara sekolah dan orang tua tidak hanya berlangsung ketika ada pertemuan Komite Sekolah.
Hubungan tersebut, menurutnya, harus dibangun secara lebih intens dan berkelanjutan sehingga persoalan yang menyangkut perilaku maupun perkembangan anak dapat diketahui dan ditangani secara bersama.
Kepala Sekolah dan Guru Diminta Lebih Intens Berkomunikasi
Pandu juga mengimbau seluruh kepala sekolah dan guru di bawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan agar meningkatkan komunikasi dengan wali murid.
Sekolah tidak cukup hanya menyampaikan perkembangan akademik anak. Komunikasi juga perlu mencakup perkembangan karakter, kedisiplinan, perilaku dan persoalan sosial yang mungkin dihadapi peserta didik.
Kolaborasi antara sekolah dan keluarga dinilai menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih kuat.
Dengan demikian, ketika muncul persoalan, sekolah tidak berjalan sendiri dan orang tua tidak merasa bahwa pendidikan anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru.
“Pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama. Sekolah, orang tua, masyarakat dan media memiliki peran masing-masing yang harus saling menguatkan,” demikian garis besar pesan yang disampaikan Kadindik Pacitan.
Di tengah derasnya arus informasi, teknologi dan perubahan pola pergaulan anak, penguatan pendidikan karakter menjadi semakin penting. Prestasi akademik tetap dibutuhkan, tetapi tanpa fondasi moral dan akhlak yang kuat, keberhasilan tersebut berisiko kehilangan makna dalam membentuk generasi yang bertanggung jawab bagi masa depan. (Eko)
