Kemarau Panjang Melanda, Petarung Kehidupan Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Punjung Pacitan
Eko Purnomo
... menit baca
![]() |
| Komunitas Petarung Kehidupan Pacitan salurkan bantuan air bersih ke Dusun Mudal, Desa Punjung pada hari Minggu-Senin, 4-5 Oktober 2026. (FOTO: Eko Purnomo/Gardajatim) |
GARDAJATIM.COM:Musim kemarau panjang mulai memberikan dampak serius bagi sebagian wilayah di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Tak hanya mengancam kebutuhan air untuk aktivitas sehari-hari, kekeringan juga membuat sejumlah sumber air warga mengalami penurunan debit bahkan mengering.
Kondisi tersebut dirasakan warga Dusun Mudal, Desa Punjung, Kecamatan Kebonagung. Pasokan air bersih yang selama ini mengandalkan sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) mulai tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh pelanggan.
Melihat kondisi tersebut, Komunitas Petarung Kehidupan Pacitan turun tangan dengan menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan.
Bantuan air bersih tersebut disalurkan ke Dusun Mudal sebagai bentuk kepedulian komunitas terhadap masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Ketua Komunitas Petarung Kehidupan Pacitan, Susilo, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari kepedulian komunitas terhadap warga yang terdampak bencana kekeringan.
Menurutnya, persoalan air bersih menjadi salah satu kebutuhan mendesak masyarakat ketika musim kemarau berlangsung cukup panjang.
"Kami sudah melakukan penyaluran air bersih ke beberapa tempat yang mengalami kekeringan. Alhamdulillah hari ini kita bisa membantu warga masyarakat yang membutuhkan air bersih. Semoga bermanfaat," ujar Susilo, Senin (5/10/2026).
Ia menambahkan, kegiatan tersebut sejalan dengan semangat Komunitas Petarung Kehidupan untuk hadir dan membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya ketika menghadapi persoalan yang berkaitan dengan kebutuhan dasar.
Sementara itu, Kepala Dusun Mudal, Sigit Setiawan, mengungkapkan bahwa wilayahnya sebenarnya telah memiliki jaringan Pamsimas. Namun, menurunnya debit sumber air serta banyaknya jumlah pelanggan membuat pasokan air tidak lagi mencukupi kebutuhan warga.
Bahkan, menurut Sigit, sebagian warga sudah tidak mendapatkan aliran air selama beberapa minggu terakhir.
"Sudah ada Pamsimas, tapi tidak kebagian airnya," terang Sigit.
Kondisi tersebut semakin berat karena sejumlah sumber air yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat juga mulai kehilangan alirannya akibat musim kemarau.
Akibatnya, warga terpaksa mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, persoalan kembali muncul karena sumber air alternatif tersebut berada cukup jauh dari permukiman.
Sigit mengatakan, sebenarnya terdapat sumber air lain yang berpotensi dimanfaatkan. Akan tetapi, jaraknya yang jauh dari rumah warga membuat pembangunan jaringan distribusi membutuhkan biaya dan infrastruktur yang tidak sedikit.
"Memang ada sumber air lain, tapi lokasinya jauh dan belum tentu pemilik lahan boleh diambil airnya," jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih dari Komunitas Petarung Kehidupan menjadi salah satu solusi sementara bagi warga Dusun Mudal untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Sigit pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota Komunitas Petarung Kehidupan yang telah memberikan perhatian terhadap kondisi masyarakat di wilayahnya.
"Terima kasih Komunitas Petarung Kehidupan atas bantuan air bersihnya. Ini sangat membantu meringankan beban warga kami," ucapnya.
Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama kondisi kekeringan masih berlangsung.
Persoalan yang dialami warga Dusun Mudal sekaligus menunjukkan bahwa ketersediaan air bersih masih menjadi kebutuhan penting yang perlu mendapat perhatian, terutama ketika sumber-sumber air mengalami penurunan debit akibat musim kemarau.
Bagi warga, distribusi bantuan air bersih memang menjadi solusi jangka pendek. Namun, ketersediaan sumber air alternatif dan pembangunan infrastruktur distribusi yang mampu menjangkau permukiman menjadi kebutuhan jangka panjang agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau. (Eko)
Sebelumnya
...
Berikutnya
...

