-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
🇮🇩DIRGAHAYU KE-81 TENTARA NASIONAL INDONESIA🇮🇩

Penyakit Jantung Jadi Ancaman Serius di Pacitan, RSUD dr. Darsono Bekali 85 Peserta dengan Kemampuan Bantuan Hidup Dasar

RSUD dr. Darsono Pacitan menggelar kegiatan Eksternal House Training Bantuan Hidup Dasar (BHD) dalam rangka memperingati World Heart Day 2026 di Pendopo Kabupaten Pacitan, Selasa (6/10/2026). (FOTO: Eko Purnomo/Gardajatim)


GARDAJATIM.COM: Penyakit jantung menjadi salah satu persoalan kesehatan yang mendapat perhatian serius di Kabupaten Pacitan. Bahkan, kasus jantung tercatat menempati urutan pertama dalam daftar 10 besar penyakit yang ditangani RSUD dr. Darsono Pacitan sepanjang 2025 hingga semester I 2026.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya peningkatan kapasitas masyarakat maupun petugas dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan. Terlebih, pertolongan yang diberikan secara cepat dan tepat dapat menjadi faktor penting dalam menyelamatkan nyawa korban.

Berangkat dari kondisi itu, RSUD dr. Darsono Pacitan menggelar kegiatan Eksternal House Training Bantuan Hidup Dasar (BHD) dalam rangka memperingati World Heart Day 2026. Kegiatan berlangsung di Pendopo Kabupaten Pacitan, pada hari Selasa (6/10/2026), dan diikuti sebanyak 85 peserta.

Dalam pelatihan tersebut, RSUD dr. Darsono menghadirkan dr. Netty Nurmaningtyas, Kepala Bidang Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebagai narasumber.

Pelatihan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam mengenali kondisi kegawatdaruratan, melakukan penilaian awal terhadap korban, hingga memberikan pertolongan bantuan hidup dasar sesuai prosedur.


Direktur RSUD dr. Darsono Pacitan, Johan Tri Putranto, menjelaskan kegiatan tersebut mengusung tema “Don’t Miss a Beat”. Tema itu sekaligus menjadi pengingat agar masyarakat tidak mengabaikan kesehatan jantung dan mulai melakukan pencegahan sejak dini.

“Melalui kegiatan Eksternal House Training Bantuan Hidup Dasar dengan tema ‘Don’t Miss a Beat’, kita diingatkan untuk lebih peduli terhadap kesehatan jantung, mengenali faktor risiko, serta mulai membiasakan pola hidup sehat sejak dini,” kata Johan dalam sambutannya.

Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan jantung menjadi semakin penting mengingat penyakit kardiovaskular masih menjadi salah satu penyebab kematian utama di dunia.

Di tingkat daerah, persoalan tersebut juga terlihat dari data pelayanan kesehatan di RSUD dr. Darsono Pacitan. Kasus jantung tercatat berada di posisi pertama dalam daftar 10 besar penyakit yang ditangani rumah sakit tersebut pada periode 2025 hingga semester pertama 2026.

“10 besar penyakit di RSUD dr. Darsono, kasus jantung menduduki urutan pertama pada periode tahun 2025 sampai dengan periode semester 1 2026,” ungkapnya.

Johan menegaskan, menjaga kesehatan jantung bukan semata-mata untuk memperpanjang usia. Lebih dari itu, kesehatan jantung berkaitan erat dengan kemampuan seseorang menjalani kehidupan secara produktif dan berkualitas.

“Menjaga jantung bukan hanya tentang hidup lebih lama, tetapi juga tentang menjaga kualitas hidup agar lebih bermakna,” ujarnya.


Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Pacitan Heru Wiwoho Supadi Putra menilai pelatihan bantuan hidup dasar memiliki peran penting dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.

Menurutnya, dalam situasi kegawatdaruratan, kemampuan untuk mengenali kondisi korban dan memberikan pertolongan awal secara tepat sangat dibutuhkan sebelum korban mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

“Melalui kegiatan ini tentunya diharapkan kepada petugas medis dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik mengenai cara mengenali kondisi korban, melakukan penilaian awal, meminta bantuan, serta memberikan pertolongan bantuan hidup dasar secara cepat, tepat dan sesuai dengan prosedur,” kata Heru.

Ia berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah kegiatan pelatihan selesai. Kemampuan tersebut diharapkan dapat terus dipraktikkan dan menjadi bekal ketika peserta menghadapi situasi kedaruratan, baik di lingkungan kerja maupun di tengah masyarakat.

“Yang lebih penting dapat menjadi bekal yang dapat diterapkan secara berkesinambungan dalam menghadapi kondisi kedaruratan, baik di lingkungan kerja maupun di tengah masyarakat,” imbuhnya.

Adapun peserta pelatihan berasal dari berbagai unsur yang dinilai memiliki peran strategis dalam memberikan respons awal terhadap kondisi darurat. Mereka terdiri dari pengemudi atau operator layanan operasional organisasi perangkat daerah (OPD), kecamatan, puskesmas, serta relawan ambulans di Kabupaten Pacitan.

Melalui kegiatan tersebut, RSUD dr. Darsono Pacitan tidak hanya mendorong peningkatan kesadaran terhadap kesehatan jantung, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kondisi kegawatdaruratan.

Pesan “Don’t Miss a Beat” pun menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan jantung harus dimulai sebelum masalah muncul, sementara kemampuan memberikan pertolongan pertama harus dipersiapkan sebelum situasi darurat benar-benar terjadi. (Eko)



Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar