-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
🇮🇩DIRGAHAYU KE-81 PROVINSI JAWA TIMUR🇮🇩

Ribuan Warga Padati Alun-Alun, Plt Bupati Tulungagung Apresiasi Pagelaran Wayang Kulit Kolaborasi

Pagelaran tiga jenis wayang mengangkat lakon “Berdikari, Apakah Aku Adalah Aku?” dalam rangka Hari Wayang Nasional dan Hari Jadi ke-821 Tulungagung.
Pagelaran Wayang Kulit Kolaborasi di Alun-Alun Tulungagung (Dok Eka)
GARDAJATIM.COM : Ribuan masyarakat memadati Titik 0 Kilometer Alun-Alun Tulungagung untuk menyaksikan Pagelaran Wayang Kulit Kolaborasi yang memadukan tiga jenis pertunjukan, yakni Wayang Kulit, Wayang Sandosa, dan Wayang Orang, Jumat (6/11/2026) malam.

Pagelaran tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional 2026 sekaligus Hari Jadi ke-821 Kabupaten Tulungagung. 

Kegiatan yang dipersembahkan PAKUDHATU itu menghadirkan bintang tamu Jo Klitik dan Jo Klutuk dengan lakon “BERDIKARI, Apakah Aku Adalah Aku?”.

Pertunjukan yang terbuka gratis untuk umum tersebut menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang dewasa.

Pantauan di lokasi, panggung dengan kelir berukuran besar dan deretan wayang kulit menjadi daya tarik tersendiri. Iringan gamelan dan lantunan suara sinden menghidupkan suasana pertunjukan yang disaksikan ribuan penonton.

Plt Bupati Tulungagung, H. Ahmad Baharuddin, S.M., M.M., yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, turut menyerahkan apresiasi kepada para seniman. 

Ia menyampaikan bahwa wayang merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

“Malam ini, 6 November 2026, kita merayakan dua hal yang istimewa sekaligus, Hari Wayang Nasional 2026 dan Hari Jadi Ke-821 Kabupaten Tulungagung. Pagelaran Wayang Kulit Kolaborasi ini adalah bukti bahwa Tulungagung adalah kota budaya yang tidak pernah meninggalkan jati dirinya,” ujar Ahmad Baharuddin.

Menurutnya, lakon Berdikari, Apakah Aku Adalah Aku? memiliki relevansi dengan kehidupan masyarakat, khususnya dalam membangun kemandirian dan kebanggaan terhadap budaya sendiri.

“Lakon BERDIKARI, Apakah aku adalah aku? Ini sangat relevan. Berdikari itu berdiri di atas kaki sendiri. Kita sebagai masyarakat Tulungagung harus bangga dengan budaya kita sendiri, dengan wayang kita sendiri. Saya sangat mengapresiasi PAKUDHATU yang berani mengkolaborasikan Wayang Kulit, Wayang Sandosa dan Wayang Orang dalam satu panggung yang luar biasa ini,” tegasnya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak meninggalkan kesenian tradisional karena wayang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mengandung nilai-nilai kehidupan.
“Saya pesan kepada anak-anak muda Tulungagung, jangan malu nonton wayang. Wayang itu bukan tontonan kuno, wayang itu adalah tuntunan. Di dalamnya ada nilai kejujuran, keberanian dan kebijaksanaan. Pemerintah Kabupaten Tulungagung akan terus mendukung para seniman dan pelestari budaya agar wayang tetap hidup dan mendunia,” pungkas Bupati.

Pagelaran tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat identitas budaya Tulungagung sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-821 Kabupaten Tulungagung. (@Eka)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar