-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
PROMOSIKAN BISNIS ANDA DISINI - HUBUNGI: +62 856-5561-5145

Integrasi Madrasah Diniyah dan Sekolah Formal Didorong di Pacitan

Integrasi Madin dan Sekolah Formal Didorong untuk Perkuat Karakter Peserta Didik (Foto: Kepala Dinas Pendidikan Pacitan, Khemal Pandu Pratikna /Dok. Ist)
GARDAJATIM.COM : Pemerintah Kabupaten Pacitan mendorong penguatan integrasi Madrasah Diniyah (Madin) dengan pendidikan formal sebagai strategi membentuk peserta didik yang berprestasi sekaligus berkarakter. 

Kebijakan ini dinilai relevan di tengah tantangan derasnya arus informasi dan melemahnya keteladanan sosial.

Kepala Dinas Pendidikan Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, menegaskan bahwa Madin memiliki peran penting dalam menjaga nilai adab, akhlak, dan spiritualitas peserta didik. 

Menurutnya, penguatan nilai tersebut menjadi kebutuhan mendasar dalam sistem pendidikan saat ini.

“Ketika nilai-nilai tersebut diintegrasikan dengan sistem pendidikan formal, lahirlah proses pendidikan yang tidak lagi terfragmentasi antara ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter,” ujar Khemal, Rabu (14/1/2026).

Ia menjelaskan, integrasi Madin dan sekolah formal tidak dimaknai sebagai pemenuhan administrasi semata, melainkan kolaborasi pendidikan yang saling melengkapi. 

Peserta didik mengikuti pembelajaran akademik di sekolah, kemudian memperdalam pendidikan keagamaan dan akhlak melalui Madin.

Model tersebut, kata Khemal, secara bertahap menghapus sekat lama antara ilmu agama dan ilmu umum. 

Pengetahuan yang diperoleh di ruang kelas formal, seperti sains, matematika, dan teknologi, mendapatkan penguatan nilai melalui pendidikan diniyah.

Sebaliknya, ajaran keagamaan yang diterima di Madin menemukan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah dan masyarakat. 

Dengan demikian, proses pendidikan berjalan selaras antara aspek intelektual dan moral.

Integrasi ini juga berdampak pada penguatan peran pendidik, baik guru maupun ustaz. 

Terbangun kesamaan pesan nilai sehingga pendidikan kejujuran, disiplin, dan etos belajar tidak berhenti pada tataran wacana.

“Di sanalah benih generasi masa depan ditanam, generasi yang tidak hanya siap bersaing secara akademik, tetapi juga memiliki keteguhan moral,” jelas Khemal.

Ia menambahkan, integrasi Madin dan pendidikan formal merupakan investasi sosial jangka panjang bagi daerah. Integritas yang dibentuk sejak dini dipandang menjadi modal penting dalam menghadapi kompleksitas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, kebijakan ini bukan hanya langkah teknis pendidikan, melainkan gerakan kultural yang melibatkan seluruh ekosistem pembelajaran. Sekolah dan Madin diharapkan menjadi ruang pembiasaan nilai yang berkelanjutan.

“Hal ini menjadi ikhtiar bersama untuk merajut ilmu dan akhlak, sekaligus menegaskan bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas manusia yang berpengetahuan dan berintegritas,” pungkasnya. (@Acr)

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar