-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
PROMOSIKAN BISNIS ANDA DISINI - HUBUNGI: +62 856-5561-5145

Keluarga Ungkap Relasi Korban dengan AS dalam Kasus Pembunuhan di Golan

Muhamad Gilang saat menunjukkan foto mendiang ibunya. (Foto: doc. Gardajatim.com)
GARDAJATIM.COM:
Keluarga almarhumah Nur Aini, perempuan yang diduga sebagai korban pembunuhan di kediamannya Desa Golan, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, mulai mengungkap relasi korban dengan Aji Saputra (AS). 

Mantan suami korban, Darmin (55), warga Desa Carat, Kecamatan Kauman, Ponorogo, mengatakan dirinya menikah dengan Nur Aini pada 2001 dan dikaruniai tiga anak laki-laki. Ia menyebut telah bercerai dengan almarhumah sekitar enam tahun lalu.

Menurut Darmin, saat menikah dengan Nur Aini, korban telah memiliki seorang anak dari pernikahan sebelumnya, yakni Aji Saputra, yang kemudian menjadi anak tirinya. Darmin mengaku sejak kecil turut merawat Aji seperti anak sendiri.

“Waktu menikah, Nur Aini sudah punya satu anak. Sejak kecil Aji juga saya anggap seperti anak sendiri,” kata Darmin, Kamis 29 Januari 2026.

Darmin juga menyebut, bahwa status korban di kartu tanda penduduk saat itu bukan tercatat sebagai janda, meskipun telah memiliki seorang anak. Ia mengaku tetap menerima kondisi tersebut dan membina rumah tangga bersama korban selama bertahun-tahun.

Sementara itu, Muhamad Gilang, adik tiri Aji Saputra, mengungkapkan bahwa hubungan mereka selama ini terbilang dekat. Namun, ia menyebut sempat terjadi cekcok kecil di keluarga beberapa hari sebelum peristiwa tersebut.

“Sekitar satu atau dua hari sebelum kejadian, sempat ada masalah karena power bank milik ibu hilang dan dituduh itu saya. Ternyata power bank itu ada di motor mas Aji,” ujar Gilang.

Gilang mengaku sempat menegur kakaknya agar jika meminjam barang milik ibu, sebaiknya izin terlebih dahulu. Ia juga mengatakan terakhir kali bertemu dengan ibunya sekitar sembilan hari sebelum peristiwa, dan selama ini ibunya bekerja di sebuah toko grosir.

Terkait aktivitas di media sosial, Gilang membenarkan bahwa akun yang sempat ramai dibicarakan merupakan akun pribadi kakak tirinya.
Menurut dia, kakaknya juga pernah bercerita mengenai dugaan menyadap ponsel milik ibunya.

“Setelah tahu itu, saya jadi takut untuk datang ke rumah ibu di Golan. Saya tinggal di rumah ayah di Desa Carat,” kata Gilang.

Ia menambahkan, setelah ibunya ditemukan meninggal, ia tidak lagi bisa menghubungi nomor kakak tirinya. Pesan yang dikirim hanya menunjukkan satu tanda centang.

Gilang juga mengungkapkan bahwa pihak kepolisian sempat menunjukkan sebuah tas yang disebut-sebut milik kakak tirinya dan ditemukan di wilayah Gunung Kidul.

Di dalam tas tersebut, menurut Gilang, terdapat sejumlah barang, antara lain perhiasan milik ibunya, kapak, pisau, kunci motor, BPKB, ponsel, serta uang tunai.

Namun, Gilang menyebut sepengetahuannya kakak tirinya memiliki dua unit ponsel. Ia juga mengaku sempat melihat akun game Mobile Legends kakak tirinya masih aktif pada hari Senin, saat jenazah ibunya ditemukan.

Gilang mengaku masih syok atas kejadian yang menimpa ibunya. Ia berharap kepolisian dapat mengungkap kasus ini secara tuntas.

“Kalau memang yang melakukan itu kakak tiri saya, saya berharap segera ditangkap. Saya tidak dendam, saya hanya ingin bertanya kenapa sampai tega seperti itu,” ujar Gilang. (*)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar