Korban Longsor Telaga Sarangan: Bukan Manusia, Melainkan Kuda Besi
Redaksi
... menit baca
![]() |
| Tim gabungan mengangkat sepeda motor dari area longsor. (Foto: Istimewa) |
Telaga sarangan yang berada di Kecamatan Plaosan, Magetan, Jawa Timur, hadir bukan hanya sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai bukti sejarah, mitos, legenda dan perkembangan sektor di era modern,
Pada akhir pekan, Telaga Sarangan selalu menjadi magnet bagi wisatawan. Udara yang sejuk dan suasana yang nyaman menjadikannya ruang rekreasi favorit, baik bagi kaum muda maupun pengunjung dari berbagai kalangan, yang seakan tak pernah jenuh untuk kembali.
Terlebih pada awal 2026 ini, telaga sarangan kian ramai dengan pelaksanaan ritual adat istiadat yang rutin digelar, menambah daya tarik wisata sekaligus mempertegas identitas budaya kawasan tersebut.
Pada tanggal 15/01/2026 dilaksanakan tradisi "Wedhus Kedit" yang merupakan rangkaian labuhan sarangan (Larung Sesaji) yang dilakukan setiap tahun pada bulan ruwah (Menjelang Ramadhan) ritual ini memiliki tujuan wujud rasa syukur, tolak bala, keselamatan, dan menjaga keseimbangan alam.
Ritual ini di tandai dengan menyembelih kambing (wedhus) yang memiliki ciri fisik khusus, bulu berwarna hitam dengan garis putih melingkar tanpa putus di bagian perut.
Pada 16 Januari 2026, dilaksanakan prosesi Larung Sesaji di Telaga Sarangan dengan mempersembahkan hasil bumi yang dibentuk menjadi buceng porak, kemudian dilarung ke tengah telaga.
Ritual ini merupakan rangkaian lanjutan dari tradisi Wedhus Kedit. Selain memiliki nilai spiritual dan budaya, Larung Sesaji menjadi daya tarik wisata yang rutin digelar setiap tahun serta berkontribusi dalam menggerakkan UMKM dan meningkatkan peran sumber daya manusia di sektor pariwisata.
Namun nahas, musibah terjadi di kawasan Telaga Sarangan dan menjadi perhatian serius bagi pengelola wisata karena berdampak langsung pada keselamatan pengunjung serta kinerja sumber daya manusia di lapangan.
Pada 17 Januari 2026, longsor terjadi di tepi jalan sekitar telaga dan tidak dapat dihindari. Peristiwa tersebut diperkirakan menimbulkan korban, namun bukan korban jiwa, melainkan kerugian materiil berupa sedikitnya tujuh sepeda motor, terdiri atas dua unit Astrea Grand, satu RX King, satu NMAX, satu GL, dan satu Beat Deluxe.
Selain kerugian materiil, dua orang pengunjung dilaporkan mengalami luka setelah terperosok ke dalam telaga saat kejadian.
Berkat kesigapan tim gabungan dalam melakukan evakuasi, seluruh korban berhasil diselamatkan sehingga tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Namun, sangat disayangkan, sejumlah pengunjung menyampaikan pengakuan mereka melalui media sosial terkait dampak longsor tersebut.
“Astrea, RX King, NMAX, GL, Beat. Salah siji montorku dadi korban bencana,” tulis seorang pengunjung dengan akun @kiwooooo19, yang mengaku kendaraannya turut menjadi korban dalam peristiwa longsor di Telaga Sarangan.
Tim gabungan bergerak cepat melakukan evakuasi terhadap korban dan kendaraan yang terdampak, sebagian di antaranya berhasil diamankan, sementara proses penanganan masih terus dilanjutkan.
Peristiwa ini pun menjadi perhatian publik. Di ruang media sosial, sejumlah warganet mengaitkan kejadian tersebut dengan rangkaian ritual adat yang sebelumnya digelar. “Wes disajeni kok sek panggah kenek bala,” tulis seorang netizen, mengekspresikan kegelisahan publik dengan sudut pandang kultural.
Namun, mengingat saat ini berada pada musim penghujan, kejadian serupa sejatinya dapat diprediksi dan diantisipasi. Alam memang memiliki cara sendiri dalam memberi peringatan, tetapi pengelolaan risiko tidak boleh diabaikan.
Peristiwa ini mendorong harapan pengunjung agar pihak pengelola Wisata Telaga Sarangan menyediakan skema asuransi, mengingat kawasan tersebut dikelola secara resmi dengan sistem tiket masuk yang legal.
Lebih dari itu, kejadian ini seharusnya menjadi perhatian khusus bagi sumber daya manusia pengelola kawasan wisata untuk meningkatkan standar keselamatan pengunjung.
Meski bencana alam tidak selalu dapat dihindari, langkah mitigasi seperti menjaga stabilitas bangunan, menata kawasan rawan, dan memperkuat sistem pengamanan tetap dapat dilakukan.
Harapannya, kejadian serupa tidak terulang, mengingat risikonya yang membahayakan keselamatan pengunjung. Telaga Sarangan perlu tetap aman dan ramai dikunjungi wisatawan, karena ia merupakan aset alam yang wajib dijaga bersama serta memiliki peran penting dalam menggerakkan sektor sumber daya manusia dan UMKM di sekitarnya.
Feature Opini oleh: Yukla Latifah
Mahasiswa Pascasarjana Magister Manajemen UMPO
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
