Pasar Beling Song Meri Jadi Media Edukasi Budaya dan Sejarah di Pacitan
Garda Jatim
... menit baca
![]() |
| Suasana Pasar Beling Song Meri. (Foto : Acr) |
GARDAJATIM.COM: Di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya instan, Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, menghadirkan ruang belajar alternatif melalui gelaran budaya Pasar Beling Song Meri, Minggu (25/1/2026).
Kegiatan tersebut menjadi sarana edukasi yang menghidupkan kembali sejarah, budaya, dan nilai kesederhanaan warisan leluhur.
Pasar Beling Song Meri tidak hanya dimaknai sebagai ajang pelestarian tradisi, tetapi juga media pembelajaran kontekstual yang mempertemukan siswa dengan praktik budaya secara langsung di tengah masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, menilai Pasar Beling Song Meri memiliki nilai edukatif yang kuat dan relevan bagi satuan pendidikan dasar.
Menurutnya, proses belajar tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas.
“Pasar Beling ini bukan sekadar seremonial. Di dalamnya terdapat nilai edukasi yang tinggi, terutama dalam mengenalkan adat, tradisi, serta cara hidup sederhana yang sarat makna,” ujar Khemal, Senin (26/1/2026).
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut menanamkan pemahaman tentang kesederhanaan dan kearifan lokal, tanpa mengabaikan perkembangan zaman.
Beragam makanan tradisional yang dijajakan menjadi bukti bahwa pangan lokal tetap memiliki nilai gizi dan cita rasa yang tidak kalah dengan produk modern.
“Makanan tradisional tetap nikmat, bergizi, dan memiliki nilai budaya. Anak-anak perlu dikenalkan bahwa kemajuan tidak harus menghilangkan jati diri,” jelasnya.
Selain nilai budaya dan pangan lokal, Pasar Beling Song Meri juga merekam sejarah sistem ekonomi masyarakat pada masa lampau.
Sebelum mengenal uang, masyarakat melakukan transaksi melalui sistem barter atau pertukaran barang sesuai kebutuhan.
Nuansa tersebut dihadirkan kembali dalam Pasar Beling Song Meri. Pengunjung tidak menggunakan uang rupiah, melainkan koin beling sebagai alat transaksi.
Koin tersebut menjadi simbol sistem ekonomi berbasis kesepakatan sosial dan kepercayaan.
“Melalui pasar ini, generasi muda diajak menengok kembali perjalanan sejarah beberapa abad silam, bagaimana nenek moyang kita melakukan aktivitas ekonomi dengan pertukaran barang. Ini pembelajaran sejarah yang hidup, bukan sekadar cerita di buku,” ungkap Khemal.
Ia menegaskan, Pasar Beling Song Meri berpotensi menjadi laboratorium budaya dan sejarah bagi siswa.
Melalui pengalaman langsung, peserta didik diharapkan memiliki pemahaman yang lebih utuh tentang identitas budaya, sejarah lokal, serta pentingnya hidup sederhana dan berkelanjutan.
“Ketika anak-anak mengenal sejarah dan budayanya sendiri, mereka akan memiliki akar yang kuat dalam menghadapi masa depan,” pungkasnya.
Pasar Beling Song Meri pun menjadi bukti bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber pembelajaran relevan untuk membentuk karakter generasi masa kini dan mendatang. (@Acr)
Editor : Redaksi
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
