Merawat Kohesi Sosial dari Makodim: Silaturahmi dan Pesan Stabilitas di Ponorogo

Suasana kegiatan komsos Kodim 0802/Ponorogo yang menghadirkan tokoh agama, pemuda, dan mahasiswa dalam satu forum silaturahmi.

GARDAJATIM.COM:
Upaya merawat kohesi sosial kembali digaungkan dari lingkungan militer. Komando Distrik Militer (Kodim) 0802/Ponorogo menggelar komunikasi sosial (komsos) dengan beragam elemen masyarakat di Gedung Paraduta, Senin, 30 Maret 2026. 

Forum ini mempertemukan aparat TNI dengan mahasiswa, tokoh agama, tokoh pemuda, hingga tokoh adat dalam satu ruang silaturahmi.

Komandan Kodim 0802/Ponorogo Letkol Arh Farauk Saputra mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar temu muka, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga stabilitas sosial di tingkat lokal.

“Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran dan peran aktif semua pihak dalam menjaga persatuan,” ujarnya di hadapan peserta.

Di tengah dinamika sosial yang kerap berubah, pendekatan dialog lintas elemen dinilai menjadi salah satu instrumen penting.

Kodim, dalam hal ini, mencoba mengambil posisi sebagai penghubung antara kepentingan negara dan aspirasi masyarakat.

Pesan yang disampaikan tidak hanya soal kerukunan, tetapi juga dorongan untuk berpartisipasi dalam program-program pemerintah.

Farauk menyinggung sejumlah agenda strategis, seperti penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan pembangunan infrastruktur melalui program jembatan Perintis Garuda.

Ia menekankan, keberhasilan program tersebut tidak bisa dilepaskan dari dukungan masyarakat di tingkat bawah.

Namun, ajakan itu juga membuka ruang tafsir tentang sejauh mana peran aparat dalam mendorong partisipasi publik.

Dalam konteks komsos, garis antara fasilitasi dialog dan konsolidasi dukungan kerap menjadi perdebatan, terutama ketika agenda yang dibawa bersinggungan langsung dengan program pemerintah pusat.

Sejumlah peserta menyambut positif forum tersebut. Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mutawakil Ponorogo, Sunartip Fadlan, menilai kegiatan semacam ini penting untuk memperkuat ukhuwah dan membangun komunikasi yang harmonis antara aparat dan masyarakat.

“Ini langkah baik untuk menjaga suasana tetap damai dan sejuk,” katanya.

Pandangan serupa datang dari kalangan mahasiswa. Perwakilan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Ponorogo, Nanda, menyebut mahasiswa memiliki tanggung jawab moral sebagai agen perubahan untuk ikut mengawal jalannya program pemerintah. Ia menilai sinergi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan aparat perlu terus diperkuat.

Di satu sisi, forum seperti ini memperlihatkan upaya negara merawat stabilitas melalui pendekatan sosial.

Di sisi lain, ia juga menegaskan peran aktif institusi militer dalam ruang-ruang sipil yang kian terbuka.

Bagi sebagian kalangan, keseimbangan antara keduanya menjadi kunci agar kohesi sosial tetap terjaga tanpa mengaburkan batas peran masing-masing. (MdC0802/Red)
Baca Juga
Berita Terbaru
  • Merawat Kohesi Sosial dari Makodim: Silaturahmi dan Pesan Stabilitas di Ponorogo
  • Merawat Kohesi Sosial dari Makodim: Silaturahmi dan Pesan Stabilitas di Ponorogo
  • Merawat Kohesi Sosial dari Makodim: Silaturahmi dan Pesan Stabilitas di Ponorogo
  • Merawat Kohesi Sosial dari Makodim: Silaturahmi dan Pesan Stabilitas di Ponorogo
  • Merawat Kohesi Sosial dari Makodim: Silaturahmi dan Pesan Stabilitas di Ponorogo
  • Merawat Kohesi Sosial dari Makodim: Silaturahmi dan Pesan Stabilitas di Ponorogo
Posting Komentar